"Pengenalan Kromosom"

I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Genetika adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk dan mekanisme pewarisan sifat makhluk hidup, pewarisan sifat berupa sifat keturunan dan hereditas yang diwarisakan dari generasi ke generasi serta variasi yang mungkin timbul didalamnya dan dapat terjadi pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Unit hereditas yang dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya disebut gen. Gen yang merupakan faktor keturunan tersimpan di dalam kromosom. Kromosom diketahui menjadi tempat utama dari materi genetik yaitu DNA dan RNA.

Kromosom merupakan struktur di dalam sel berupa deret panjang molekul yang terdiri dari satu molekul DNA dan berbagai protein terkait yang merupakan informasi genetik suatu organisme. Organisme memiliki dua macam kromosom yaitu kromosom seks (gonosom) yang menetukan jenis kelamin dan kromosom tubuh (autosom) yang tidak menentukan jenis kelamin. Manusia normalnya memiliki 46 kromosom, namun ada beberapa manusia yang mengalami kelainan kromosom tertentu hal ini disebut sebagai kelainan kromosom. Kelainan kromosom merupakan perubahan pada jumlah kromosom yang awal 46 (44 kromosom tubuh dan 2 kromosom seks)  atau perubahan pada struktur awalnya.

Kelainan kromosom yang biasa ditemukan misalnya monosomi, trisomy, triploidi, sedangkan pada struktur dapat disebabkan delesi, duplikasi, translokasi, ineversi dan ring. Kelainan pada kromosom juga disebabkan oleh oleh pembelahan sel mitosis, meosis, usia ibu dan lingkungan hidup. Penderita kelainan pada kromosom dapat ditandai dari bagian tubuh yang tumbuh tidak normal atau dari kelainan pada prilaku yang tidak normal.

 

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang terdapat pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Bagaimana cara mengenal kromosom manusia meskipun melalui gambar (foto)?

2.      Bagaimana cara mengatur kromosom manusia dalam bentuk karyotype?

3.      Bagaimana cara mengetahui macam-macam kelainan yang ditemukan pada kromosom?

 

C.    Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengenal kromosom manusia meskipun melalui gambar (foto).

2.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengatur kromosom manusia dalam bentuk karyotype.

3.      Untuk mengetahui bagaimana cara macam-macam kelainan yang ditemukan pada kromosom.

 

D.    Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Dapat mengetahui bagaimana cara mengenal kromosom manusia meskipun melalui gambar (foto).

2.      Dapat mengetahui bagaimana cara mengatur kromosom manusia dalam bentuk karyotype.

3.      Dapat mengetahui bagaimana cara macam-macam kelainan yang ditemukan pada kromosom.

 

II.    TINJAUAN PUSTAKA

A.    Kromosom

Kromosom adalah struktur dalam sel yang mengandung infomasi genetik. Kromosom manusia nomal terdiri dari 22 pasang kromosom autosom dan kromosom gonosom, baik XX maupun XY. Kromosom mempunyai bagian yang menyempit sepasang yaitu sentromer dan membagi kromosom menjadi dua lengan yaitu lengan p pada bagian atas dan lengan q di bagian bawah. Berdasarkan letak sentromernya kromosom dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk. Pertama kromosom metasentrik yaitu apabila sentromer terletak di tengah kromosom sehingga kromosom terbagi menjadi dua lengan yang hampir sama panjang. Kedua kromosom submetasentrik yaitu apabila sentromer terletak ke arah salah satu ujung kromosom sehingga kromosom terbagi menjadi dua lengan yang tak sama panjang. Ketiga kromosom akrosentik yaitu letak sentromer di dekat ujung kromosom sehingga satu lengan menjadi sangat pendek dan yang lain sangat panjang. Terakhir adalah kromosom telosentrik yaitu apabila sentromer terletak di ujung kromosom sehingga kromosom hanya terdiri dari satu lengan saja ( Suryo, 2015: 48, Tjahjani, 2013)

Fungsi utama kromosom adalah bertanggung jawab pada pemisahan DNA dalam jumlah yang sama dan memastikan bahwa keturunan membawa sifat dari kedua orang tua pada setiap pembelahan sel. Kromosom juga menjaga integritas dan ketepatan replikasi genom pada setiap siklus sel. Kromosom memiliki tiga elemen struktur utama yang diperlukan untuk replikasi dan pemeliharaan, sentromer, telomer dan unit replikasi. Struktur kromosom membantu memastikan DNA tetap melilit pada protein (Aziz, 2015).

 

B.     Kariotipe

Kariotipe suatu individu pada dasarnya konstan, namun dalam kondisi tertentu dapat terjadi penyimpangan sehingga morfologi kromosomnya berubah. Perubahan tersebut dapat berupa penambahan atau pengurangan bagian kromosom dan penyusunan kembali bagian kromosom. Kariotipe disusun dengan mengatur kromosom secara berurutan dari ukuran terpanjang sampai terpendek serta memasangkan kromosom dengan kromosom homolognya. Pasangan kromosom homolog ditentukan berdasarkan kemiripan ukuran dan kemiripan bentuk rasio lengan kromosom (Haryanto, 2010; Friska, 2019). Susunan kariotipe dapat digunakan untuk mengetahui penyimpangan kromosom baik dalam jumlah dan struktur kromosom yang terjadi pada waktu pembelahan sel dan dapat dicari hubungannnya dengan kelainan yang terjadi pada anatomi, morfologi, dan fisiologi suatu makhluk hidup (Hartati, 2014).

 

C.    Kelainan Genetik

Gangguan kromosom terjadi ketika ada perubahan jumlah atau struktur kromosom. Perubahan jumlah atau susunan informasi genetik di dalam sel dapat menyebabkan masalah dalam pertumbuhan, perkembangan fungsi sistem tubuh. Kelainan kromosom dapat terjadi selama produksi sel telur atau sperma atau awal setelah pembuahan bayi, kejadian spontan untuk alasan yang tidak diketahui. Kelainan kromosom juga bisa diturunkan dari orang tua (Khandekar, dkk, 2013).

Kelainan kromosom merupakan kelainan genetik dapat disebabkan oleh adanya mutasi gen dominan maupun gen resesif  pada autosom maupun pada kromosom seks, seperti Dentigenesis imperfecta, Akondroplasia, albino, bisu tuli, hemofilia, butawarna merah hijau, thalasemia dan penilketonura. Sedangkan kelainan kromosom dapat berupa kelainan jumlah kromosom (seperti sindrom Down, sindrom Turner atau sindrom Klinefilter), kelainan struktur kromosom (seperti Cri du chat sindrome, sindrom de Groucy) maupun kromosom mosaik ( Laksono, dkk, 2013.)

 

D.    Metode Identifikasi Kelainan Kromosom

Kariotipe kromosom sel dapat dianalisis secara molekuler dengan menggunakan metode karyotyping. Metode karyotyping, kariotipe kromosom dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah, ukuran dan bentuk kromosom. Kromosom yang dapat dianalisis adalah kromosom sel pada tahap metafase, karena pada tahap ini kromosom terletak berjajar pada bidang ekuator dan tampak paling jelas sehingga mudah diidentifikasi. Untuk mengidentifikasi dibutuhkan minimal 20 pasang kromosom sehingga perlu dilakukan sinkronisasi untuk memperoleh sejumlah sel yang mengalami mitosis.

 

E.     Sindrom

Sindrom Down merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan jumlah kromosom yang abnormal yaitu kromosom 21 berjumlah 3 buah sehingga jumlah seluruh kromosom mencapai 47 buah dan merupakan cacat pada anak yang paling sering terjadi di dunia. Manusia normal memiliki  jumlah kromosom sel mengandung 23 pasangan kromosom. Kelainan kromosom ini menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan kadang mengacu pada retardasi mental. Penambahan materi genetik ini mempengaruhi perkembangan anak dan dapat menyebabkan karakteristik fisik khas yang berhubungan dengan sindrom Down. Studi sitogenik menunjukkan bahwa 94% dari kasus Down Syndrome adalah trisomi disebabkan nondisjunction, 3,5% translokasi dan 2,55 mosaik. Nondisjunction sering terjadi pada kelahiran bayi dari ibu dengan usia ≥ 35 tahun (Hafsah, 2020).

Sindrom Sjogren adalah penyakit autoimun kronis yang ditandai dengan infiltrasi limfositik dan kerusakan selanjutnya pada kelenjar eksokrin, termasuk yang ditemukan di hidung, telinga, kulit, vagina, sistem pernapasan, dan gastrointestinal. Sindrom Sjorgen adalah salah satu kelompok penyakit yang diawasi oleh ahli reumatologi, namun, diagnosis dan penatalaksanaannya memerlukan 3 bidang praktik khusus, reumatologi, oftalmologi, dan pengobatan oral (Kishore, dkk, 2014).

Sindrom Klinefelter merupakan suatu kelompok kelainan kromosom yaitu terdapat paling tidak satu tambahan kromosom X pada laki-laki. Sekitar 80% kasus merupakan aberasi numerik kromosom kongenital, yaitu kariotip 47, XXY, sedangkan sisanya adalah aneuploidi kromosom dengan derajat yang lebih tinggi (48,XXXY; 48,XXYY; 49,XXXXY), mosaik 46,XY/47,XXY, atau kelainan struktural kromosom X. Kromosom seks tambahan pada Sindrom Klinefelter merupakan akibat nondisfungsi pada proses meiosis (gametogenesis parental), yang dapat berasal dari paternal (50-60% kasus) atau maternal (meiosis maternal I menyebabkan 34,4% kasus, meiosis maternal II menyebabkan 9,3% kasus). Nondisfungsi dapat juga disebabkan kegagalan pembelahan pada saat mitosis dalam zigot (3,2% kasus) ( Harmin dan Tridjaja 2019).

Sindrom Turner adalah kumpulan gejala dengan karakteristik fisik dan hilangnya satu kromosom X baik secara komplit maupun parsial, dan sering pula berupa sel mosaik. Perawakan pendek (short stature) dan disgenesis gonad merupakan gambaran yang paling konsisten ditemukan pada sindrom turner (Arimbawa, dkk, 2018).


III. METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa,  17 November 2020 pukul 15.30 sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Genetika, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.

 

B.     Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1.Alat dan kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

1

2

3

1.

Laptop

Sebagai media pembelajarn online

3.

Kamera

Sebagai alat dokumentasi

4.

Alat Tulis

Sebagai alat menulis hasil pengamatan

 

C.    Bahan  Praktikum

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2.Bahan dan kegunaanya

No

Nama Bahan

Kegunaan

1

2

4

1

Gambar kromosom manusia normal laki-laki dan perempuan, sindrom Down, sindrom Patau, sindrom Klinefelter, sindrom metafemale, sindrom Cri Du Chat

Sebagai objek pengamatan

 

D.    Prosedur  Kerja

Prosedur kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:

  1. Asisten menjelaskan materi mengenai pengenalan kromosom dan kelainan pada kromosom.
  2. Praktikan menganalisis gambar kromosom dan kelainan kromosom berdasarkan kariotipenya.

 

 IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Kromosom

No.

Nama Sindrom

Gambar

Formula Kromosom

Jenis Kelamin

Keterangan

1

2

3

4

5

6

1.

Kromosom wanita normal

Description: kromosom1

22AA+XX

Wanita

Tidak terdapat euploidi atau aneuploidi

 

 

 

 

2.

Kromosom pria normal

Description: Description: Description: E:\Semester 3\laporan genetika\Pengenalan Kromosom\male.jpg

22AA+XY

Pria

Tidak terdapat euploidi atau aneuploidi

 

 

 

 

3.

Sindrom Down

Description: IMG_20201119_010002

45AA + XX/XY

Wanita atau pria

Terdapat trisomi pada kromosom nomor 21

4.

Sindrom Klinefelter

Description: IMG_20201119_010440

22AA + XXY

Pria

Terdapat trisomi gonosom pada kromosom

5.

Sindrom Metafemale

Description: IMG_20201119_193825

22AA + XXX

 

 

 

Wanita

Kelebihan kromosom X pada wanita

 

[HALAMAN BARU]
Tabel 3.
Lanjutan

1

2

3

4

5

6

6.

Sindrom

Cri Du Cat

Description: IMG_20201119_192518

22AA +  XX/XY

Pria atau wanita

Terdapat delesi pada gonosom nomor 5

7.

Sindrom Patau

Description: IMG_20201119_011804

47AA +13 XX / XY

 

 

 

 

Pria atau wanita

Terdapat trisomi pada gonosom nomor  13

 

B.     Pembahasan

Kromosom merupakan struktur di dalam sel berupa deret panjang molekul yang terdiri dari satu molekul DNA (Asam deoksiribonukleat), dan berbagai protein terkait yang merupakan informasi genetik suatu organisme. Kromosom yang berada di dalam nukleus sel eukariota, secara khusus disebut kromatin. Kromosom manusia berfungsi untuk memastikan bahwa DNA (Asam deoksiribonukleat) tetap berada di tempatnya saat terjadi pembelahan sel, sehingga bisa terbagi rata antarsel. Kromosom juga berperan dalam memastikan proses duplikasi DNA (Asam deoksiribonukleat) terjadi dengan tepat.

Normalnya, jumlah kromosom dalam setiap sel manusia adalah 23 pasang atau 46 buah, dengan 1 pasang di antaranya adalah kromosom seks yang menentukan jenis kelamin manusia. Sementara 22 pasang lainnya disebut kromosom autosomal. Kromosom manusia berpasang-pasangan, dengan setengah berasal dari ibu dan setengahnya lagi berasal dari ayah. Pria dan wanita memiliki kromosom seks yang berbeda. Kromosom seks pada pria, terdiri dari 1 kromosom X dan 1 kromosom Y (XY). Sedangkan wanita memiliki dua kromosom X (XX). Kromosom X didapatkan dari ibu dan ayah bisa menyumbangkan kromosom X maupun Y. Ini berarti, kromosom yang diturunkan dari ayahlah yang akan menentukan apakah sang anak akan terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Kromosom dapat mengalami kelainanan yang dapat mengahasilkan suatu penyakit.

Saat fungsi kromosom tidak berjalan dengan baik, proses pembelahan sel pun tidak akan berjalan dengan baik. Akibatnya, akan muncul berbagai gangguan kesehatan yang serius. Misalnya, salah satu jenis leukimia maupun kanker jenis lain. Agar fungsi kromosom dapat berjalan dengan baik, struktur ini perlu memiliki jumlah yang normal serta bentuk yang tepat. Kelainan jumlah dan bentuk kromosom, juga dapat memicu gangguan perkembangan janin. Penyakit yang timbul akibat dari kelainan kromosom adalah sindrom down, sindrom Patau, sindrom Klinefelter, sindrom metafemale dan sindrom Cri Du Chat. Prinsip kerja untuk mengidentifikasi kromosom disebut karyotyping.

Karyotyping adalah proses memasangkan dan menyediakan gambaran dari seluruh kromosom pada suatu organisme. Karyotyping ini merupakan metode konvensional untuk melihat gambaran keseluruhan genom (kariotip) pada individu tersebut secaara umum. Kariotip didapatkan dari prosedur pewarnaan yang terstandar sehingga didapatkan gambaran struktur dari setiap kromosom. Dalam 30 klinis, studi sitogenetika (ilmu yang mempelajari sel dan kromosom) ini berguna untuk menganalisis kariotip pada suatu individu dengan mengidentifikasi kelainan genetik yang masih kasar. Metode kariotipe ini dapat mengidentifikasi kelainan kromosom aneuploidi, seperti contohnya trisomi 21 (sindrom Down).

jumlah kromosom normal pria dan wanita yang diketahui dari pengamatan adalah kromosom wanita normal berjumlah 46 dengan formula kromosom 22AA+XX dimana tidak terdapat euploidi dan anaeuploidi dan kromosom pria normal berjumlah 46 dengan formula kromosom 2AA+XY dimana tidak terdapat euploidi dan aneuploidi. Menurut Rustija (2014) Euploidi adalah suatu kondisi tidak normal, yaitu beberapa set kromosom menurun atau meningkat jumlahnya. Aneuploidi adalah suatu ketidaknormalan di dalam jumlah satu set kromosom atau lebih,dan aneuploidi lebih disebabkan oleh kesalahan pemisahan satu pasang kromosom saat pembelahan meiosis (non disjunction).

Sindrom Down atau Down syndrome adalah kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya memiliki tingkat kecerdasan yang rendah, dan kelainan fisik yang khas. Sebagian penderita dapat mengalami kelainan yang ringan, tetapi sebagian lainnya dapat mengalami gangguan yang berat hingga menimbulkan penyakit jantung. Menurut mirawati, dkk (2013) Down Syndrome mempunyai satu kromosom ekstra pada  autosom nomor 21. Kelainan pada kromosom terjadi pada autosom, maka penderita Down Syndrome dapat laki-laki ataupun perempuan, sehingga formula kromosomnya dapat ditulis untuk penderita laki-laki 47, XY, + 21 sedangkan untuk penderita perempuan 47, XX, + 21. Cara penulisan + 21 memberi makna terdapat kelebihan pada autosom nomor 21.

Sindrom Klinefelter adalah kelainan genetik yang disebabkan oleh adanya salinan kromosom X tambahan. Akibatnya, laki-laki yang dilahirkan dengan kondisi ini akan memiliki beberapa karakteristik perempuan. Kromosom seks akan menentukan jenis kelamin seseorang. Normalnya, laki-laki memiliki 46 kromosom dengan kromosom seks XY, sedangkan perempuan memiliki 46 kromosom dengan kromosom seks XX. Saat mengalami sindrom Klinifelter, seorang laki-laki bisa memiliki kromosom 47 XXY, 48 XXXY, atau 49 XXXXY. Menurut Harmin dan Trijaja (2019) Sindrom Klinefelter merupakan kelainan kromosom seks yang paling banyak terjadi, disebabkan adanya kromosom X tambahan pada laki-laki (47,XXY).

Sindrom metafemale merupakan salah satu kelainan pada variasi kromosom dikarenakan adanya 3 kromosom X di dalam gamet. Sindrom ini terjadi dikarenakan adanya abnormalitas pembelahan kromosom pada masa meiosis. Sindrom metafamel disebabkan karena adanya kromosom X ekstra di setiap sel seorang wanita. Penderita sindrom ini sering kali memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dari rata-rata. Pada penderitanya, biasanya tidak ditemukan perbedaan fisik lainnya dan kesuburannya normal. Formula dari kelainan kromosom ini adalah 22AA + XXX.

Sindrom Cri Du Chat merupakan kelainan genetik langka karena ada penghapusan kromosom nomor 5. Sebutan lain untuk sindrom Cri Du Chat adalah sindrom tangisan kucing karena bayi yang mengalaminya memiliki suara tangisan melengking seperti kucing. Bayi dengan sindrom Cri Du Chat juga memiliki fitur wajah yang khas terutama di bagian mata, rahang, dan wajah bulat. Pada beberapa kasus, bayi yang terlahir dengan sindrom cri-du-chat memiliki kelainan pada jantungnya. Sindrom Cri du chat adalah sindrom yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1963 ketika serangkaian pengobatan terhadap tiga pasien  dan ditemukan penghapusan lengan pendek pada kromosom 5. Hal ini sesuai dengan sebuah literatur (Santo, dkk, 2016) Sindrom Cri-du-chat adalah sebuah sindrom yang pertama diidentifikasi pada tahun 1963 ketika serangkaian tiga pasien dengan kasus penghapusan salah satu lengan pendek kromosom nomor 5. Ciri-ciri Fenotipe yang dilaporkan pada kasus yang ditemukan adalah nada tinggi monoton, tangisan seperti kucing selama masa tahun pertama kehidupan yang memberikan nama sindrom ini, wajah yang khas, gangguan intelektual, dan keterlambatan perkembangan. Penghapusan sindrom nomor 5 penyebab sindrom ini memiliki insiden 1 di 50.000 kelahiran hidup.

Sindrom Patau merupakan salah satu jenis kelainan genetik yang disebabkan karena adanya kelebihan kromosom nomor 13. Penyakit ini menyebabkan kecacatan yang berat. Beberapa di antaranya adalah retardasi mental, gangguan bentuk tangan dan kaki, sumbing, penyakit jantung bawaan, dan masih banyak lagi. Dalam keadaan normal, setiap kromosom dalam tubuh manusia terdiri dari dua copy. Apa yang terjadi pada sindrom Patau adalah adanya ekstra copy pada kromosom nomor 13, sehingga kromosom tersebut memiliki tiga copy (trisomy 13). Gangguan pada kromosom 13 ini menyebabkan gangguan pembentukan organ-organ janin saat masih di dalam kandungan sehingga berujung pada kecacatan berat. Menurut Susmitha, dkk (2018) Penyebab trisomi 13 dapat terjadi akibat non-disjunction (kegagalan 1 pasang atau lebih kromosom homolog untuk berpisah) saat pembelahan miosis I atau miosis II. Trisomi 13 biasanya berhubungan dengan non-disjunction miosis maternal (85%), dapat pula terjadi akibat translokasi genetik. Terdapat 3 tipe pada trisomy 13 yaitu tipe klasik, translokasi, dan mosaik. Karakteristik trisomi 13 adalah anomali multiple yang berat termasuk anomali sistem saraf pusat, anomali wajah, defek jantung, anomali ginjal, dan anomali ekstrim.

 

V.      PENUTUP

A.    Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

1.         Kromosom manusia dapat dikenali dengan melihat jumlah pasangan kromosom atau komposisi kromosom yang biasa disebut kariotipe. Kariotipe manusia normal secara total memiliki 23 pasang kromosom dimana 22 pasang kromosom tubuh (autosom) dan sepasang kromosom kromosom seks (gonosom).

2.         Kromosom manusia dapat diatur dengan cara melihat bentuk pasangan kromosom yang berjumlah 23 yang dimana 22 pasang kromosom tubuh (autosom) dan sepasang kromosom seks, pada laki-laki XY dan pada wanita XX.

3.         Kelainan kromosom dapat dikenali dengan melihat 23 pasangan kromosom pada tiap kromosom yang ada. Kelainan kromosom ditandai dengan adanya penambahan kromosom atau pengurangan kromosom di salah satu pasang kromosomnya, study tentang mengenali kromosom di sebut karyotyping.

 

B.     Saran

Saran yang ingin saya sampaikan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1.      Saran untuk praktikan yang masuk kedalam laboratorium, yaitu agar tetap menjaga suasana dalam laboratorium agar tetap tenang dan melakukan pengamatan dengan teliti agar data pengamatan yang diperoleh lebih jelas dan akurat.

2.      Saran untuk asisten pembimbing yaitu agar kiranya dapat memperhatikan praktikan saat melakukan praktikum dan memberikan instruksi mengenai bahan atau alat yang akan digunakan dengan jelas agar tidak terjadi salah presepsi oleh praktikan.

3.      Saran untuk laboratorium yaitu agar kiranya dapat menyediakan kursi dan meja yang lebih baik agar asisten dapat duduk saat menjelaskan

                                                            

                                                        DAFTAR PUSTAKA

Arimbawa, Jose, R. L. B., bambang, T. dan Aman, B.P., 2018, Karakteristik Sindrom Turner di Jakarta. Sari Pediatri, 9(6): 386-390

Aziz, I. R., 2019, Kromosom Tumbuhan Sebagai Marka Genetik, Jurnal Teknosains, 13(2): 125 – 131

Friska, M., 2019, Identifikasi Kromosom Hasil Cangkok Anakan Salak Sidempuan (Salacca Sumatrana Becc.) di Kecamatan Angkola Barat, Jurnal Pertanian Tropik, 6(3): 466-471

Hafsah, A. (2020). Penyakit Sindrom Down (Down Syndrome) . Jurnal Farmasi, 1(1): 1-8

Harmin, S. dan Bambang, T. A. A. P., 2019, Sindrom Klinefelter. Sari Pediatri, 10(6): 373-381

Hartati, S., Linayantai, D. dan Ongko, C., (2014 ). Studi Karakterisasi Anggrek Secara Sitologi dalam Rangka Pelestarian Plasma Nutfah (Characterization Study in Orchid Cytology in Order Preservation Germplasm). Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian 29(1): 25-30

Khandekar, S. (2013). Chromosomal Abnormalities, Central India Journal of Dental Science 4(1): 35-40

Kishore, M., Sunil, R., ashish,A., Nupur, A. dan Ratika, G., 2014. Sjogren’s Syndrome, SRM Journal Of Research In Dental Sciences, 5(1): 31-35

Laksono, S. P., Qomariah. dan Endang. P., 2013, Persentase Distribusi Penyakit Genetik dan Penyakit yang dapat Disebabkan oleh Faktor Genetik di RSUD Serang. Pharmamedika, 3(2): 267-270

Mirawati, Trisnawati dan Arshad, K.M, 2013, Distribusi Jumlah Anak dengan Down Syndrome pada dua Kelompok Usia Ibu di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Palembang, Medika, 3(2): 71-81

Rinendyaputri, R. dan Frans, D., 2015, Optimasi Penambahan Colcemid pada Karyotyping Kultur Mecenchymal Stem Cells (MSC) Mencit, Buletin Penelitian Kesehatan, 43(4): 231-238

Santo, L. D. E., samual, R., dan Mailuce, R., 2016. Cri-Du-Chat Syndrome: Clinical Profile and Chromosomal Microarray Analysis in Six Patients. Biomed Research International, 1(1): 1-9

Susmitha, O. D., Perdani, R. R. dan Bustomi, E. C., 2018, Sindrom Patau (Trisomi Kromosom 13), Majority, 1(2), 288-294

Tjahjani, N. P. dan Zuhaida, A., 2013, Kelainan Genetik Klasik: Tinjauan Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an, Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 5(2): 222-250

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Posting Komentar