I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ekosistem adalah suatu
sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara
makhluk hidup dengan lingkungannya atau makhluk hidup dengan makhluk hidup
lainnya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan
menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem
merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi
timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi
menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi
antara organisme dan anorganisme. Hubungan timbal balik di dalam ekosistem
dengan simbiosis.
Simbiosis adalah semua jenis interaksi biologis jangka
panjang dan dekat antara dua organisme biologis yang berbeda, baik itu
mutualisme (saling menguntungkan), komensalisme (salah satu diuntungkan dan
salah satunya tidak dirugikan atau diuntungkan) atau parasitisme (salah satu
diuntungkan dan salah satunya dirugikan). Organisme yang meakukan interaksi
alopati masing-masing disebut simbion yang berasal dari spesies yang sama atau
berbeda. salah satu contoh simbiosis yang biasa di temukan adalah simbiosis
amenalisme.
Amensalime
merupakan hubungan antara dua makhluk hidup dimana satu pihak dirugikan
sedangkan pihak lain tidak dirugikan dan juga tidak diuntungkan (tidak
terpengaruh apa-apa). Makhluk hidup yang melakukan simbiosis ini contohnya
tanaman akasia (Acacia sp.),
alang-alang (Imperata cylindrical),
alang-alang, (Imperata cylindrical),
gamal, (Gliricidia sepium).
Tanaman-tanaman ini ini merupakan tanaman penghasil senyawa alelopati yang
dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain yang ada disekitarnya. Alelopati
merupakan interaksi yang melibatkan senyawa biokimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme
atau tanaman ynag merusak makhluk hidup selain jenisnya. Berdasarkan uaraian
diatas maka perlu dilakukan
praktikum mengenai pengaruh alelopati jenis tanaman
terhadap perkecambahan palawija.
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah yang terdapat pada praktikum ini adalah
bagaimana cara menguji pengaruh alelopati jenis tumbuhan terhadap perkecambahan
tanaman palawija?
C.
Tujuan
Praktikum
Tujuan yang
ingin dicapai pada praktikum ini adalah untuk mempelajari pengaruh alelopati
jenis tumbuhan terhadap perkecambahan tanaman palawija.
D.
Manfaat
Praktikum
Manfaat yang
dapat diperoleh dari praktikum ini adalah dapat mengetahui pengaruh alelopati jenis
tumbuhan terhadap perkecambahan tanaman palawija.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Ekosistem
Ekosistem
merupakan kumpulan organisme dan lingkungan dalam suatu satuan spasial. Bagian
terpenting dari sistem alami adalah lingkungan (organik dan anorganik) dalam spasial
unit yang mendukung perkembangan organisme dan saling berinteraksi secara
timbal balik (Soeprobowati, 2017). Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan
hidup yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi
dalam membentuk keseimbangan, stabilitas dan produktivitas lingkungan hidup.
Alam di lingkungan kehidupan kita, terdapat berbagai jenis dan bentuk organisme
atau dalam ilmu ekologi disebut sebagai komponen-komponen ekosistem yang selalu
melakukan interaksi secara timbal balik dengan lingkungannya. Interaksi timbal
balik ini dengan sendirinya akan membentuk suatu sistem, kemudian di kenal
sebagai sistem ekologi atau ekosistem. Ekosistem adalah suatu satuan fungsional
dasar yang menyangkut proses-proses interaksi organisme hidup dengan
lingkungannya. Ekosistem sebagai sistem maka di dalam suatu ekosistem selalu
dijumpai proses interaksi meliputi aliran energi, daur materi, rantai makanan,
siklus bio-kimiawi, serta proses perkembangan dan pengendalian populasi (Utomo,
2012).
Kompetisi
dalam suatu ekosistem merupakan salah satu bentuk interaksi antar individu yang
bersaing memperebutkan kebutuhan hidup yang sama. Individu hewan, kebutuhan
hidup yang sering diperebutkan antara lain adalah makanan, sumber air, tempat
berlindung atau bersarang dan pasangan untuk berkembang biak. Contoh kompetisi
antar populasi hewan yaitu kambing dan sapi yang memakan rumput di wilayah yang
sama atau harimau dan singa dalam berburu mangsa yang sama (Wijayanti dan Kharis,
2015).
B.
Alelopati
Alelopati merupakan
mekanisme interaksi langsung atau tidak langsung antara tumbuhan sebagai donor dengan tumbuhan lainnya atau mikroorganisme sebagai target, melalui produksi dan
pelepasan metabolit sekunder yang disebut
alelokimi, interaksi alelopati mencakup penghambatan maupun stimulus
pertumbuhan, namun sebagian besar pengamatan menunjukkan alelopati berpengaruh
menghambat terhadap organisme target. Alelokimia yang disintesis oleh tumbuhan
donor akan dilepaskan ke lingkungan melalui eksudasi akar dengan cara difusi,
penguapan dari daun, pelindian dan dekomposisi biomasa (Darmanti, 2018).
Senyawa Alelopati
adalah Senyawa metabolit sekunder seperti fenolik, terpenoid, alkaloid,
steroid, poliasetilena dan minyak esensial dilaporkan memiliki aktivitas
alelopati. Metabolit primer tertentu juga memiliki peranan dalam alelopati,
seperti asam palmitat dan stearat, tetapi umumnya senyawa alelopati termasuk ke
dalam golongan metabolit sekunder. Senyawa fenolik dengan kelarutan dalam air
tinggi dilaporkan memiliki aktivitas alelopati yang rendah. Sebaliknya senyawa
fenolik dengan kelarutan dalam air rendah memiliki aktivitas alelopati yang
tinggi (Junaedi, dkk, 2016).
C.
Gulma
Gulma ialah tumbuhan yang kehadirannya tidak
dikehendaki oleh manusia. Keberadaan gulma menyebabkan terjadinya persaingan
antara tanaman utama dengan gulma. Gulma yang tumbuh menyertai tanaman budidaya
dapat menurunkan hasil baik kualitas maupun kuantitasnya Gulma mempunyai
kemampuan bersaing yang kuat dalam memperebutkan CO2, air, cahaya matahari dan
nutrisi. Pertumbuhan gulma dapat memperlambat pertumbuhan tanamam (Pragoyo,
dkk, 2017).
Kelompok gulma antara lain yaitu, Agropyron repens L. (rumput Quack), Imperata cylindrica L. (alang-alang), Cyperus esculentus L. (rumput teki) dll.
Golongan tanaman tahunan yang berupa pohon antara lain adalah Acasia, Centaura sp. L. Terutama C. maculosa L. dan C. diffusa L. yang dapat menghambat pertumbuhan rumput di Amerika
Utara sampai 85% dan senyawa bahan aktif catechin ada pada Centaura sp L.
potensial menghambat pertumbuhan tanaman disekitarnya (Djazuli,2017).
D.
Gamal (Gliricidia sepium)
Gamal (Gliricidia sepium) adalah tanaman
golongan legume pohon yang mampu beradaptasi disegala jenis tanah, tahan kering
dan selalu memproduksi hijauan di musim kemarau jika didefoliasi secara
teratur.Tanaman gamal digunakan sebagai tanaman pagar, memiliki potensi
pendukung kesuburan tanah melalui fiksasi nitrogen (N2). Gamal berasal dari
wilayah kawasan Pantai Pasifik Amerika Tengah yang bermusim kering. Habitat
asli gamal adalah hutan gugur daun tropika, dapat tumbuh mulai dari dataran
rendah hingga ketinggian tempat 1.300m dpl, beradaptasi pada beberapa jenis
tanah, termasuk jenis tanah yang kurang subur, tahan kering, juga tahan asam (Chadhokar,
2009 dalam Widinata, dkk, 2015).
III. METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 17 November 2020 pukul
15.30 WITA, sampai selesai via Zoom, bertempat di rumah praktikan, Desa
Samaenre, kec. Wolo, Kab. Kolaka dan Kota Kolaka.
B.
Alat Praktikum
Alat yang digunakan pada
praktikum ini tercantum pada tabel 1.
Tabel 1.Alat dan kegunaanya
|
No |
Nama
Alat |
Kegunaan |
|
1 |
2 |
3 |
|
1. |
Gelas
Aqua |
Sebagai
wadah pertumbuhan |
|
2. |
Kain
saring lumping |
Sebagai
alat saring untuk menyaring cairan alelopati |
|
3. |
Alu |
Sebagai
alat tumbuk menumbuk tanaman alelopati |
|
4. |
Gunting |
Sebagai
alat memotong bagian tanaman alelopati |
|
5. |
Pipet
tetes |
Sebagai
alat menyiram tamanan uji coba |
|
6. |
Lumping
alu |
Sebagai
alat menghaluskan tanaman alelopati |
|
7. |
Alat
tulis |
Sebagai
alat untuk mencatat |
|
8. |
Gelas
ukur |
Sebagai
alat mengukur cairan alelopati |
|
9. |
Mistar |
Sebagai
alat ukur panjang |
|
10. |
Kamera
|
sebagai
alat dokumentasi |
C.
Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini
tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2.Bahan dan kegunaanya
|
No |
Nama
Bahan |
Kegunaan |
|
1 |
2 |
4 |
|
1 |
Biji jagung (Zea Mays L), Biji kacang hijau (Vigna radiata L.) |
Sebagai objek pengamatan |
|
1 |
2 |
3 |
|
2. |
Daun
akasia (Acacia sp.), Akar alang-alang (Imperata
cylindrical), Daun alang-alang, (Imperata
cylindrical), Daun gamal, (Gliricidia
sepium) |
Sebagai
indikator untuk mengamati pengaruh alelopati terhadap tanaman uji |
|
3. |
Kertas label |
Sebagai penanda objek pengamatan |
|
4. |
aquades |
Sebagai pelarut senyawa alelopati tanaman |
D.
Prosedur kerja
Prosedur kerja pada prkatikum ini adalah sebagai
berikut:
1.
Memilih kacang
hijau dan jagung yang baik.
2.
Menyediakan
beberapa botol plastik bekas yang diberi kapas.
3.
Membuat ekstrak
alang-alang, gamal dan akasia sebagai berikut:
a.
Menghaluskan
bagian tumbuhan tersebut dengan mangkok penggerus atau memotong-motong dengan
menggunakan gunting.
b.
Membuat ekstrak
atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan air (aquades) dengan
perbandingan bagian tumbuhan dan air (1:7, 1:14 dan 1:21) dan membiarkan
seelama 24 jam.
c.
Setelah 24 jam menyaring ekstrak yang diperoleh
dengan menggunakan alat penyaring.
4.
Meletakkan
masing-masing 3 biji kacang hijau dan jagung ke dalam cawan petri yang berbeda
yang sudah diberi kapas.
5.
Menyiram 5 mL
ekstrak alelopati tumbuhan yang diamati ke dalam botol plastik bekas yang sudah
berisi biji-bijian tersebut.
6.
Mengamati
perkecambahan dan pertumbuhan biji selama 7-10 hari.
7.
Menentukan
persen perkecambahannya dan mengukur panjang kecambahnya.
8.
Membandingkan
hasil percobaan tersebut dengan perkecambahan yang hanya diberi perlakuan menyiram dengan air atau
aquades sebagai larutan kontrol.
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan hari terakhir pada praktikum ini tercantum pada
tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Hasil pengamatan biji
jagung (Zea mays L.)
|
No. |
Ekstrak
|
Perlakuan |
|||
|
|
|
1:7 |
1:14 |
1:21 |
Kontrol
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
|
1. |
Akasia (Acacia
sp.) |
- |
- |
+ |
+ |
|
2. |
Akar alang-alang (Imperata cylindrica) |
- |
- |
- |
+ |
|
3. |
Daun alang-alang (Imperata cylindrica) |
+ |
- |
- |
+ |
|
4. |
Gamal (Gliricidia
sepium) |
- |
- |
- |
- |
Tabel
4. Hasil pengamatan biji kacang hijau (Vigna
radiata L.)
|
No. |
Ekstrak |
Perlakuan |
|||
|
|
|
2 |
1:14 |
1:21 |
Kontrol
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
|
1. |
Akasia (Acacia sp.) |
- |
- |
- |
+ |
|
2. |
Akar alang-alang (Imperata cylindrical) |
- |
- |
- |
+ |
|
3. |
Daun alang-alang (Imperata cylindrical) |
+ |
+ |
+ |
+ |
|
4. |
Gamal (Gliricidia sepium) |
+ |
+ |
- |
- |
Keterangan
:
(-) :
Tidak ada pertumbuhan pada tanaman
(+) :
Terdapat pertumbuhan pada tanaman
B.
Pembahasan
Senyawa alelopati merupakan senyawa yang di produksi
oleh suatu tanaman yang memiliki efek merugikan tanaman jenis lain yang tumbuh
disekitar tanaman penghasil alelopati. Peristiwa alelopati merupakan peristiwa
yang terjadi karena adanya reaksi dari senyawa kimia yang dibawa oleh tumbuhan
alelopati, senyawa ini berefek negatif. Senyawa ini disebut senyawa alelokimia.
Senyawa alelokimia yang dikeluarkan tumbuhan tertentu yang dapat merugikan
pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuh di sekitarnya. Tumbuhan yang
memiliki jenis yang berbeda dan tumbuh berdampingan dengan tanaman penghasil
alelopati akan mengalami kematian atau kemunduran. Kematian ini disebabkan karena
menyerap senyawa alelokimia yang beracun merupakan produk sekunder dari tanaman
penghasil. Alelokimia bersifat racun dapat berbentuk berupa gas atau zat cair
dan dapat keluar dari akar, batang maupun daun. Menurut Yanti (2016), Pengaruh
zat alelopati terhadap tumbuhan dapat terjadi melalui proses pembelahan sel, pengambilan
mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis proteindan lain-lain. Jenis
bahan kimia yang terkandung pada alelopati pada umumnya berasal dari golongan
fenolat, terpenoid, dan alkaloid yang bersifat toksis atau penghambat karena
menghasilkan substansi alelokemik yang merugikan tanaman lain.
Senyawa alelokimia yang dihasilkan tanaman alelopati
dapat menghambat pertumbuhan. Penghambatan ini karena senyawa alelokimia dapat
menggangu proses pembelahan sel, pangambilan mineral, respirasi, penutupan
stomata dan sintesis protein. Senyawa alelokimia dapat berasal dari bagian dari
atas tanah berupa gas, bagian tumbuhan yang mati yang kemudian menyatu dengan
tanah dan cairan yang dikeluaran tanamanan dan diserah oleh tumbuhan. Bagian
tumbuhan yang dibuat sebagai ekstrak allelopati yaitu bagian akar, daun dan
batang tanaman.
Praktikum pengaruh alelopati tanaman terhadap
perkecambahan bertujuan untuk meneliti pengaruh senyawa alelokimi yang
dikandung tanaman alelopati terhadap tanaman budidaya yaitu jagung dan kacang
hijau yang ditumbuhakan pada media tumbuh yaitu gelas kemasan aqua dan kapas.
Pengamatan di lakukan selama 7 hari dengan mengamati pertumbuhan tanaman
setelah di berikan senyawa alelopati. Senyawa alelokimia yang digunakan berasal
dari tanaman gamal (Gliricidia sepium)
yang diekstrak dari daun gamal yang setelah diekstrak akan disimpan selama 24
jam.
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini
adalah menyiapkan alat dan bahan. Daun gamal yang telah dipisahkan pada
tangkainya kemudian akan di potong-potong menggunakan gunting agar memudahkan
dalam penghalusan menggunakan alu, setelah dipotong-potong kemudian akan
dihaluskan dengan menggunakan alu hingga halus dan berbentuk bubur. Daun gamal
yang telah dihaluskan kemudian ditambahkan dengan aquades yang kemudian
disaring untuk mendapatkan ekstrak alelopati, penyaringan dilakukan 3 kali
secara berulang untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Ekstrak alelopati
kemudian akan di encerkan dengan 3 perbendingan yaitu dengan perbandingan 1:7,
1:14 dan 1:21, perbandingan ini masing-masing akan mendapatkan alelopati secara
berturut-turut yaitu 14 ml, 7 ml dan 4 ml, setelah itu ditambahkan dengan
aquades sebanyak 86 ml untuk perbandingan 1:7, 93 ml dengan perbandingan 1:14
dan 96 ml pada perbandingan 1:21
Pembuatan media tumbuh dengan menyiapkan botol
kemasan aqua dan kapas. Botol aqua bekas digunting dengan tinggi 3 cm dari
dasarnya setelah itu ditambahkan kapas di dasarnya untuk tempat tumbuh jagung
dan kacang hijau, penempatan kapas tidak lebih dari setengah botol yang telah
dipotong. Jumlah botol aqua yang dipotong ada 12 yang masing-masing dari 3
memiliki perlakuan yang berbeda yaitu perlakauan 1:7, 1:14, 1:21 dan kontrol.
Biji kacang hijau yang telah direndam selama 24 jam kemudian di masukkan
kedalam media yang masing-masing 3 biji setiap botolnya, perendaman dilakukan
untuk memudahkan proses perakaran dan memilih biji kacang hijau dan jagung yang
baik. penyiraman dilakukan setelah ekstrak alelopati yang telah disimpan selama
24 jam jadi dengan penyiraman untuk semua biji tanamanan sesuai dengan
perbandingan ekstrak alelopati yang telah dibuat kecuali kontrol, Kontrol akan
disiram dengan aquades untuk dijadikan patokan pertumbuhan normal kacang hijau
dan jagung. Penyiraman dilakukan setiap hari dengan menggunakan pipet tetes
dengan jumlah ekstrak dan aquades sebanyak 5 tetes, setelah 7 hari dihitung dan
diobservasi pengaruh alelopati dengan konsentrasi yang berbeda di masing-masing
media tanaman.
Berdasarkan hasil pengamatan pada media yang
disirami ekstrak alelopati daun gamal dengan 5 tetes alelopati selama satu
minggu, didapatkan hasil dengan penyiraman berkonsentrasi 1:7, 1:14 dan 1:21 serta
kontrol (murni aquades) masing-masing memiliki pertumbuhan pada jagung lebih
sedikit dan dan lebih banyak pada biji tanaman kacang hijau berdasarkan data
tersebut maka dapat dinyatakan bahwa semakin besar konsentrasi yang diberikan,
maka semakin besar pengaruh pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat terlihat dari
rendahnya tingkat kesuburan tanaman, yang ditunjukan dengan rendahnya tinggi
tanaman, jumlah daun dan diameter batang.
Jagung
memiliki toleransi terhadap alelopati dibandingkan dengan kacang hijau karena
perbedan struktur penusun biji dimana jagung memiliki biji yang lebih keras
dibandingkan kacag hijau sehingga senyawa alelopati sulit masuk, hal ini dapat
dilihat pada hasil pengamatan. Menurut Wusono, dkk, 2015 meyatakan bahwa presentase
kerusakan akibat alelopati pada kacang hijau (Phaseolus radiatus, L.)
lebih tinggi dibandingkan benih jagung (Zea
mays, L.) pada semua tingkat perlakuan. Hal ini karena adanya perbedaan
permeabilitas kulit dari kedua benih (Struktur benih kacang hijau dan jagung).
Selain ukuran benih kekerasan biji juga turut berpengaruh dalam proses
perkecambahan. Semakin keras bijinya maka air akan sulit untuk masuk ke dalam
biji sehingga imbibisi terhambat.
Senyawa alelokimia yang terkandung pada ekstrak daun
gamal terbukti dapat bekerja menggangu berbagai proses pada tanaman kacang
hijau dan tanaman jagung proses fotosintesis dan pembelahan sel, yang
menyebabkan terganggunya segala aktivitas metabolisme berupa penghambatan
penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar, pertumbuhan tanaman, respirasi,
sintesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran sel dan menghambat
aktivitas enzim dalam tanaman kacang hijau dan jagung. Hal ini sesuai literatur
Wusono, dkk (2015) menyatakan bahwa pada lingkungan terdapat zat-zat penghambat
seperti senyawa-senyawa allelopathy,
maka proses perkecambahan dapat terhambat, atau dengan kata lain tidak sempurna
seperti yang terlihat pada perkecambahan benih kacang hijau dan jagung yang peka
dalam merespon senyawa-senyawa allelopathy
dari tanaman alelopati.
V.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah pengaruh alelopati tanaman
terhadap tanaman target akan mengakibatkan tanaman target mengalami penurunan pertumbuhan dan akhirnya
kematian. Pengujian alelopati dilakukan dengan tanaman kacang hijau dan jagung
dengan penyiraman pada konsentrasi yang berbeda.
B.
Saran
Adapun
saran yang dapat saya berikan pada praktikum ini adalah sebagai berikut
1.
Untuk
praktikan agar selalu memperhatikan asisten ketika menjelaskan perihal
praktikum.
2.
Untuk
asisten pembimbing agar selalu memperhatikan kesehatan supaya dapat membimbing
praktikan dengan baik.
3. Untuk laboratorium agar selalu menjaga
kebersihan laboratorium dan selalu menciptakan rasa aman dan nyaman.
































Komentar
Posting Komentar