I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Deoxyribonucleic acid atau DNA adalah senyawa kimia berupa asam
nukleat yang penting dalam kehidupan makhluk hidup karena
mengandung materi genetik dan berfungsi untuk mengatur perkembangan biologis
seluruh bentuk kehidupan suatu individu. DNA mengandung senyawa yang
merupakan informasi genetik makhluk
hidup yang berasal dari keturunan pertama dan diturunkan kegenerasi
selanjutnya, DNA terdapat di nukleus, mitokondria, dan kloroplas.
Keseluruhan
DNA dalam suatu sel akan membentuk genom.
Genom
adalah keseluruhan informasi genetic (DNA) yang dimiliki suatu sel atau
organisme atau khususnya keseluruhan asam nukleat yang memuat informasi
tersebut. Genom merupakan materi yang dapat terbagi menjadi molekul-molekul
asam nukleat yang berbeda seperti kromosom atau plasmid dan secara fungsional
genom dapat terbagi menjadi gen-gen. Organisme di bumi pasti memiliki genom yang
pada dasarnya informasi genetik yang diperlukan untuk membangun tubuh dan
mempertahankan hidup serta diwariskan ke generasi sifat genotip dan fenotipnya.
Genom terbentuk dari interaksi kompleks urutan nukleotida komponen penyusun
asam nukleat digunakan untuk membuat semua protein pada suatu organisme pada
waktu dan tempat yang sesuai.
Isolasi DNA adalah
salah satu dasar untuk mempelajari DNA. Isolasi DNA merupakan teknik dasar dari
bioteknologi dan biomolekular yang harus dikuasai di laboratorium. Isolasi DNA
bertujuan untuk memisahkan DNA dari partikel-partikel lainnya seperti lipid,
protein, polisakarida dan zat lainnya. Isolasi DNA diperlukan untuk analisis
genetik, yang digunakan untuk tujuan ilmiah, medis, atau forensik. Isolasi DNA
dapat dilakukan pada semua mahluk hidup dan juga virus. Berdasarkan latar belakang
maka dilakukanlah praktikum isolasi DNA.
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah ingin dicapai pada praktikum ini
adalah bagaimana cara teknik mengisolasi DNA dari sumber jaringan?
C.
Tujuan
Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada
praktikum ini adalah untuk mengetaui teknik mengisolasi
DNA dari sumber jaringan.
D.
Manfaat
Praktikum
Manfaat yang diperoleh ingin dicapai
pada praktikum ini adalah dapat mengetahui teknik mengisolasi DNA dari sumber jaringan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
Isolasi
Dna
Isolasi
DNA merupakan teknik dasar dari bioteknologi dan biomolekular yang harus
dikuasai di laboratorium. Isolasi DNA bertujuan untuk memisahkan DNA dari
partikel-partikel lainnya seperti lipid, protein, polisakarida, dan zat
lainnya. Isolasi DNA berguna untuk beberapa analisis molekuler dan rekayasa
genetika seperti genom editing, transformasi dan PCR. Banyak sekali metode
isolasi DNA yang bisa digunakan, akan tetapi pada dasarnya tahapan dari isolasi
DNA pada semua bahan dan semua metode adalah sama, yakni lisis sel atau jaringan
yang efektif, denaturasi kompleks nukleoprotein, dan inaktivasi nuclease
(Hariadi, dkk, 2018).
Isolasi
DNA merupakan salah satu teknik dasar dalam biologi molekuler yang dapat
dikembangkan menjadi penelitian-penelitian yang kompleks mengenai informasi
genetik yang dimiliki oleh suatu organisme.Informasi pada DNA disimpan dalam
bentuk basa nukleotida yaitu adenine
(A), guanine (G), cytosine (C), dan timin (T).Setiap sekuen basa nukleotida mengandung informasi
genetik yang berperan dalam perkembangan dan pengaturan organisme (Widyastuti,
2014). Tujuan dari ekstraksi atau isolasi asam nukleat adalah membuang dan
memisahkan asam nukleat dari komponen sel lainnya (protein, karbohidrat, lemak,
dll) sehingga asam nukleat yang diperoleh dapat dianalisis dan atau
dimodifikasi lebih lanjut (Hairuddin, 2013).
B.
Tahapan
Isolasi Dna
Tahapan proses
isolasi DNA dimulai dari persiapan bahan sempel, pemilihan metode ekstraksi
yang tepat hingga didapatka ekstrak DNA (Marwayana, 2015). Tahapan ekstraksi
DNA terdiri dari tiga proses utama, yaitu proses lisis sel, purifikasi, dan
presipitasi. Proses lisis sel merupakan proses pertama ekstraksi DNA diawali
dengan menghancurkan membran sel dengan cara memberikan enzim Proteinase K
untuk merusak protein dan Sodium Dodecyl
Sulfat (SDS) untuk mengikat lipid sehingga membran sel rusak dan semua isi
sel keluar. Proses lisis sel menyebabkan DNA bercampur dengan makromolekul sel
lainnya. Pemurnian DNA dari makromolekul
sel dilakukan pada tahap purifikasi dengan cara memberikan Phenol dan CIAA
(Chloroform Isoamil Alkohol) untuk mengikat makromolekul selain DNA seperti
protein, lipid, dan karbohidrat. Pada tahap ini DNA dan air terpisah dari bahan
organik lainnya setelah disentrifugasi. Untuk menarik air dari DNA dibutuhkan
alkohol. Proses ini disebut dengan presipitasi (Kamilah, 2017).
C.
Sentrifugasi
Sentrifugasi
adalah suatu proses pemisahan yang memanfaatkan perbedaan efek gaya sentrifugal
pada setiap molekul senyawa penyusun suspensi dari gerak putar. Gaya
sentrifugal adalah gaya semu yang mendorong benda menjauhi titik pusat putar yang
timbul pada suatu benda yang bergerak berputar pada kerangka non-inersia.
Kerangka noninersia pada alat sentrifugasi adalah botol tempat suspense ditempatkan,
dimana botol menjaga agar suspensi tidak tumpah tetapi tidak mempertahankan
posisi molekul-molekul senyawa penyusun suspensi. Efek gaya sentrifugal akan mendorong
setiap molekul-molekul menjauhi titik pusat putar (Aji, dkk, 2018).
Centrifuge
merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan organel berdasarkan massa
jenisnya melalui proses pengendapan. Prosesnya kerja centrifuge menggunakan
prinsip rotasi atau perputaran tabung yang berisi larutan agar dapat dipisahkan
berdasarkan massa jenisnya. Larutan akan terbagi menjadi dua fase yaitu
supernatant yang berupa cairan dan padatan atau organel yang mengendap
(Triarjo, dkk, 2016).
D.
Penemuan
Dna (Deoxyribonucleic Acid)
Lebih
dari 60 tahun yang lalu Watson and Crick menerbitkan makalah klasik mereka tentang
struktur DNA. Watson and Crick di dalam makalahnya menekankan dua ciri utama
molekul-komplementasi dari urutan dasar pada
dua untai dan sifat
heliks ganda dari polimer DNA. Komplementaritas urutan dasar, dengan adenine melengkapi
timin dan guanin yang melengkapi sitosin, memberikan penjelasan molekuler yang
elegan untuk penemuan pada dekade sebelumnya oleh Avery, McCarty dan Macleod kemungkinan
besar DNA itu
'prinsip transformasi' yang
memungkinkan transfer informasi genetik antara strain yang berbeda bakteri. Setelah
penemuan Avery, McCarty dan Macleod, Chargaff menegaskan penemuan pasangan
keseimbangan antara basa Adenin dengan Timin dan Guanin dengan Basa sitosin
dalam DNA beruntai ganda. Struktur tersebut menyiratkan bahwa informasi masuk urutan
basa DNA dapat memiliki, berdasarkan saling melengkapi, kemampuan untuk
direplikasi menjadi dua yang salinan identik. Penemuan Chargaff ini menjadi
fundamental dasar genetika telah menopang hal yang sangat besar kemajuan dalam
pemahaman dan manipulasi genetic selama 60 tahun terakhir (Travers dan
Muskhelishvili, 2015).
E.
Eletroforesis
Elektroforesis
merupakan suatu cara analisis kimiawi yang didasarkan pada pergerakan molekul-molekul
bermuatan di dalam medan listrik (titik isoelektrik). Pergerakan molekul dalam
dalam medan listrik dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan besar muatan dari molekul.
Metode pemisahan Gel Electrophoresis
System adalah salah satu metode yang murah dan mudah dikembangkan. Metode
ini biasanya digunakan untuk pemisahan DNA dan protein. Pergerakan molekul tergantung
pada beberapa faktor, yaitu massa, bentuk, molekul, suhu, porositas dan
viskositas media (Fuad, dkk, 2016).
III.
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 8 Desember
2020 pukul 15.30 sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Genetika, Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo,
Kendari.
B. Alat Praktikum
Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum
pada Tabel 1.
Tabel 1.Alat dan kegunaannya
|
No |
Nama Alat |
Kegunaan |
|
1 |
2 |
4 |
|
1. |
Eppendorf |
Sebagai tempat cairan/larutan |
|
2. |
Sentrifuga |
Untuk memisahkan
campuran padat-cair atau cair-cair yang tidak saling larut |
|
3. |
Mikropipet dan tip |
Untuk mengambil cairan |
|
4. |
Water bath |
Untuk memanaskan air |
|
5. |
Freezer |
Untuk menyimpan dan
membekukan bahan |
|
6. |
Elektroforesis |
Untuk memisahkan senyawa-senyawa yang memiliki muatan berupa kation
ataupun anion |
|
7. |
Cetakan agar |
Sebagai cetakan media |
|
8. |
Sisir |
Untuk membantu
memisahkan bahan |
|
9. |
Wadah |
Sebagai tempat
menyimpan bahan |
|
10. |
Fotoforesis |
Untuk membantu
pengamatan DNA |
|
11. |
Lumpang dan alu |
Untuk menghaluskan
bahan |
|
12. |
Gunting |
Untuk memotong bahan |
|
13. |
Pinset |
Untuk mengambil padatan |
|
14. |
Kamera |
Untuk dokumentasi |
C. Bahan
Praktikum
Bahan yang digunakan
dalam praktikum ini tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2.Bahan dan kegunaannya
|
No |
Nama Bahan |
Kegunaan |
|
1 |
2 |
4 |
|
1. |
Sampel DNA |
Sebagai objek
pengamatan |
|
2. |
STE |
Sebagai buffer untuk mencegah kerusakan DNA dengan
mempertahankan pH dalam keadaan normal |
|
3. |
TE (Tris-EDTA) |
Sebagai senyawa
pengkelat yang mengikat ion Magnesium |
|
4. |
SDS (Sodium
Dodecyl Sulphate) |
Sebagai deterjen dengan efek denaturasi protein yang kuat dan mengikat
struktur protein |
|
5. |
PC (Phenolchloroform) |
Untuk mendenaturasi protein dan melarutkan
komponen non polar |
|
6. |
NaOAC (Sodium acetate) |
Untuk menetralkan asam sulfat dan digunakan juga sebagai buffer
dengan asam klorida |
|
7. |
Etanol absolute |
Sebagai pelarut |
|
8. |
Etanol 70% |
Sebagai pelarut |
|
9. |
ddH2O (Aquabides) |
Sebagai pelarut yang
mengandung lebih sedikit mineral dari Aquadest |
|
10. |
CTAB (Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide) |
Untuk mendegradasi
dinding sel, denaturasi protein, memisahkan karbohidrat, merusak membran sel
dan melarutkan DNA |
|
11. |
Kloroform |
Sebagai pelarut nonpolar |
|
12. |
Isopropanol |
Sebagai fiksatif yaitu
menarik air/mengondisikan dehidrasi yang menyebabkan terbentuknya DNA yang
tidak larut/mengendap |
|
13. |
Amonium asetat |
Sebagai buffer,
reagen dan katalis |
|
14. |
Alkohol 70% |
Sebagai pelarut |
|
15. |
Aquadest |
Sebagai pelarut yang
mengandung sedikit mineral |
|
16. |
Agarose |
Untuk memadatkan dan visualisasi DNA |
|
17. |
TAE (Tris-Asetat-EDTA) |
Sebagai buffer
dalam elektroforesis |
|
18. |
EtBr (Ethidium bromide) |
Untuk proses penggambaran molekul asam nukleat |
|
19. |
Loading dye |
Untuk menambah
densitas, memudahkan meletakkan contoh DNA ke dalam wadah, penanda laju
migrasi DNA |
D. Prosedur
Kerja
Prosedur
kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengambil sampel sebanyak 5 gram kemudian digerus.
2. Mencampurkan larutan CTAB (Cetyl Trimethyl
Ammonium Bromide) pada
sampel.
3. Menginkubasi selama 30 menit dan setiap 5 menit
dihomogenkan dengan cara dibolak-balik.
4. Menambahkan larutan kloroform dan sentrifugasi selama 12 menit dengan suhu 29°C dengan
kecepatan 145.000 rpm.
5. Mengambil supernatan dari sampel kemudian memindahkannya
ke effendorf yang baru.
6. Memasukkan larutan isopropanol dan amonium asetat ke
dalam supernatan dan inkubasi di dalam freezer
selama 40 menit.
7. Setelah diinkubasi, sentrifugasi kembali untuk selama 3
menit kemudian membuang supernatan dan mencuci pellet.
8. Mensentrifugasi kembali selama 12 menit dan dikeringkan
selama 15 menit.
9. Menambahkan loading
dye pada DNA sampel sebelum di masukkan ke dalam sumuran agar untuk di
eletroforesis.
10. Running DNA dalam agar dengan eletroforesis, kemudian angkat dan
rendam dalam larutan EtBr setelah itu rendam lagi di larutan aquadest.
11. Mengangkat dan meletakkan pada alat fotoforesis kemudian
mengambil gambar dari pita DNA.
III. PEMBAHASAN
A.
Hasil
pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil
Pengamatan Isolasi DNA
|
5 4 3 2 1 |
5 4 3 2 1 |
Keterangan |
||||||||||||||||||||
|
|
|
1. Pita DNA Katak (Rana
sp.)(gagal) 2. DNA ikan baronang (Siganus sp.) (terdapat pita smear) 3. DNA kupu-kupu (Papilio
sp.) (gagal) 4. DNA mangrove (Soneratia sp.) (terdapat pita smear) 5. Pita DNA bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) (gagal) |
B.
Pembahasan
Isolasi
DNA adalah metode untuk mendapatkan asam deoksiribonukleat dari suatu makhluk
hidup adanya tanpa debris sel (sel rusak). Organisme tingkat rendah, seperti
bakteri dan lain-lain (sel prokariot), dan mahluk hidup tingkat tinggi, seperti
manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain (sel eukariot) merupakan sumber DNA.
Menurut Hutami (2018), isolasi DNA merupakan proses pemisahan DNA dari komponen
sel lainnya seperti protein, karbohidrat, lemak dan lainlain. Isolasi DNA
terdiri dari tiga tahap utama yakni perusakan dinding sel (lisis), pemisahan
DNA dari komponen lainnya serta pemurnian DNA.
Isolasi
DNA dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan antara lain, yaitu dengan melisis
sel secara fisik dengan cara penggerusan menggunakan mortar dan alu, pemecahan
dinding dan membran sel dengan senyawa kimia dan pemisahan DNA dari kotorannya.
Prinsip dasar isolasi DNA dari jaringan organisme adalah dengan memecah dan
mengekstraksi jaringan tersebut sehingga akan terbentuk ekstrak sel yang terdiri
atas sel-sel jaringan, DNA dan RNA. Kemudian melalui ekstrak sel dipurifikasi
(pembersihan) sehingga dapat dihasilkan pelet sel yang mengandung DNA dan RNA
total.
Tahap
isolasi DNA meliputi beberapa tahapan proses penting, yaitu dari mulai tahap
persiapan yaitu pengekstrakan dari sampel hingga akhirnya diperoleh ekstrak DNA
yang terlarut dalam suatu larutan penyangga (buffer) khusus. Larutan buffer
digunakan untuk menyimpan dan mempertahankan kondisi DNA secara kualitatif
dan kuantitatif dalam jangka waktu yang relatif lama. Secara kualitatif,
berarti larutan penyangga tersebut harus dapat mempertahankan kualitas DNA yang
terlarut tetap dalam kondisi baik. Sedangkan secara kuantitatif berarti larutan
penyangga tersebut harus mampu mempertahankan jumlah DNA yang terlarut,
sehingga jumlahnya tetap (tidak terdegradasi) dan cukup untuk digunakan dalam
tahapan selanjutnya tanpa mengalami penurunan kualitas maupun kuantitas DNA
terlarut. Adapun tahapan proses ekstraksi DNA, dimulai dari persiapan sampel,
pemilihan metode ekstraksi yang tepat, hingga didapatkan ekstrak DNA.
Keberhasilan proses ekstraksi DNA dapat diukur melalui beberapa proses,
diantaranya adalah melalui pengecekan keberadaan band DNA dengan metode
elektroforesis atau melalui pengukuran konsentrasi DNA terlarut dengan metode
spektrofotometri (Phillips, dkk, 2013).
Prosedur
kerja pada percobaan isolasi DNA dimulai dari sampel di gerus
menggunakan lumping alu hingga menjadi ukuran yang lebih kecil, hal ini
dilakukan agar pada saat pengekstrakan sampel mudah diekstrak karena telah menjadi
partikel – partikel yang lebih kecil. Tahap selanjutnya yaitu menambahkan larutan
CTAB (Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide) pada sampel, hal ini bertujuan untuk merusak membran sel
dari sampel tersebut. Perusakan membran sel terjadi akibat adanya ikatan kimia
yang terbentuk antara CTAB dengan zat-zat yang ada pada sampel. Setelah penambahan detergen tahap selanjutnya
yaitu menginkubasi selama 30 menit dan setiap 5 menit dihomogenkan dengan cara
dibolak-balik, hal ini bertujuan agar larutan CTAB dapat tercampur sempurna
sehingga sampel dapat mengalami perusakan membrane sel, tahap selanjutnya adalah
menambahkan larutan kloroform dan sentrifugasi selama 12 menit dengan suhu 29°C
dengan kecepatan 145.000 rpm yang bertujuan agar DNA yang ada disampel terpisah
dengan kotorannya proses ini disebut dengan deproteinase yaitu proses pemisahan
DNA dengan protein-protein selain DNA yang terdapat disampel. Setelah tahap
ingkubasi sampel akan terpisah menjadi beberapa bagian yaitu supernatant, pati,
interphase dan fase organik. Tahap selanjutnanya yaitu mengambil supernatan
dari sampel yang telah terpisah kemudian memindahkannya ke effendorf yang baru
dan memasukkan larutan isopropanol dan amonium asetat ke dalam supernatan dan
inkubasi di dalam freezer selama 40 menit dan setelah diinkubasi, sentrifugasi
kembali untuk selama 3 menit setelah 3 menit supernatant terpisah dengan pellet
DNA yang kemudian supernatan akan dibuang dan pelet didasar wadah dipertahankan
dan setelah membuah supernatant akan di lakukan pencucian pellet. Pencucian
pellet menggunakan larutan washing buffer
1.
Bahan elektroforesis disiapkan terlebih dahulu.
Pertama agarose dan dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu tambah 25 mL TAE 1x dan
dipanaskan dengan microwave. Agarose didiamkan hingga hangat-hangat kuku setelah
itu agarose dituangkan kedalam elektroforesis chamber, sisir dipasang dan dibiarkan
mengeras sekitar 20 menit. Setelah agarose mengeras sisir dilepaskan, direndam
dengan TAE 1x dan agarose siap digunakan. Tahap kedua adalah pembuatan reagen elektroforesis
yang dikerjakan diatas parafilm. loading
dye (2 µL) didalam mikrotube 0,2 mL, sesuaikan dengan jumlah amplikon
ditambah 1 buah untuk marker. Tutup alat elektroforesis tersebut hingga rapat,
dan power suplai dihidupkan dan diatur
untuk running dengan kekuatan listrik
110 volt, 100 mA selama 50 menit. Setelah selesai running, agarose dicuci
dengan aquades. Agarose dimasukkan ke dalam UVI Gel Doc (UVIDOC) untuk dilakukan visualisasi (Iqbal, dkk, 2016).
Setelah
mendapatkan DNA dari sampel dilakukan visualisasi menggunakan alat bernama
eletroforesis. Visualisasi menggunakan eletroforesis merupakan teknik pemisahan
molekul DNA menggunakan arus listrik berdasarkan pada perbedaan besar molekul
DNA atau berat DNA. Prinsip dasar dari eletroforesis adalah dengan mengamati derajat
perpindahan yang disebabakan oleh adanya perbedaan berat molekul pada membrane
berpori sel agarosa. Proses eletroforesis di pegaruhi oleh beberapa faktor
yaitu berat molekul, dimana senyawa yang memiliki berat molekul yang lebih
besar akan mengalami laju perpindahan molekul yang lambat dari pada senyawa
dengan berat molekul yang lebih kecil. Arah mingrasi molekul ditentukan dari
muatan yang dikandungnya, karena DNA merupakan senyawa bermutan negatife maka
perpindahan DNA akan dimulai dari kutub negatife ke kutub postif. Konsentrasi
sel agarosa juga dapat mempengaruhi proses eletroforesis dimana jika semakin
besar konsetrasi sel agarosa yang digunakan maka semakin lambat laju
perpindahan dna karena sel agarosa yang besar menyebabakan pori-pori sel
agarosa menjadi lebih kecil sehingga DNA sukar melewati gel agarosa.
Tahap awal isolasi DNA disebut dengan tahap
penghancuran sampel, bahan yang menjadi
sampel di pecahkan menjadi jaringan yang lebih kecil. Proses pemecahan dilakukan
secara mekanik atau fisik dengan menumbuk atau menggerus bahan yang akan kita
gunakan dengan mortar. Penghancuran sel menggunakan mortar berfungsi untuk
memudahkan sel di isolasi pada sampel, penghancuran sel dapat dilakukan
menggunakan 2 metode yaitu menggunakan metode kimia dan metode mekanik, tetapi
di praktikum ini menggunakan metode mekanik untuk mengurangi biaya.
Tahap Kedua adalah ekstraksi DNA menggunakan
buffer. Struktur utama pembentuk membran dan dinding sel adalah lemak, untuk
itu digunakan deterjen yang merupakan buffer untuk mengekstrak DNA. Sel dilisis
menggunakan larutan CTAB (Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide) yang merupakan deterjen khusus
yang digunakan untuk melisis sel, bahan ini digunakan untuk melubangi dan merusak sel sehingga isi
inti sel (DNA) bisa keluar. CTAB
merupakan sejenis deterjen yang dapat mendegradasi dinding sel,
denaturasi protein, memisahkan karbohidrat, merusak membran sel dan melarutkan
DNA.
Tahap terakhir
pada isolasi adalah pemisahan DNA dari bahan yang lain. Pemisahan dilakukan dengan
menggunakan ethanol berkonsentrasi 70%. Tujuan pengunaan ethanol adalah untuk tidak
melarutkan DNA dan berat jenis alkohol yang lebih ringan dari air membuat DNA
naik dan melayang-layang di permukaan. Setelah DNA diberikan ethanol
selanjutnya diberikan klorofrom dan isoamilalkohol (CIAA) dengan untuk
mengekstrak dan mengendapkan komponen polisakarida di dalam buffer ektraksi
yang mengkontaminasi larutan DNA. Pemberian isopropanol dan etanol dilakukan
agar terjadi dehidrasi DNA sehingga terjadi presipitasi. Setelah pemberian
etano, DNA yang dipeoleh dikeringanginkan dalam bentuk pellet yang selanjutnya
akan dianalisa menggunakan alat instrument eletroforesis. Menurut Deanesia, dkk
(2014), Penggunaan kloroform bertujuan untuk memisahkan DNA dengan protein karena
kloroform merupakan senyawa yang tidak larut dalam air. Penambahan RNAse adalah
untuk mendegradasi RNA. RNAse merupakan enzim yang berperan dalam proses lisis
RNA.
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa
dari ke 5 sampel DNA yang di uji yaitu Pita DNA Katak (Rana sp.), DNA ikan baronang (Siganus
sp.), DNA kupu-kupu (Papilio sp.),
DNA mangrove (Soneratia sp.) dan Pita
DNA bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa
sinensis), yang berhasil didapatkan DNA dari proses isolasi DNA adalah DNA
ikan buronan dan mangrove. Faktor kegagalan dari proses isolasi dna biasanya
berasal dari proses dan metode yang kurang maksimal dalam perlakukan sampel.
Keberhasilan proses isolasi dna juga dipengaruhi dari keadaan sampel.
Elektroforesis agarose dapat digunakan untuk
memisahkan asam nukleat (atau
fragmennya) yang bermuatan negatif sesuai dengan arus listrik. Pada system elektroforesis
tersebut, agarose merupakan bahan media yang berfungsi sebagai alas atau medium
pemisah yang diletakkan antara anode dan catode alat elektroforesis. Medium
pemisah tidak bergerak (fasa stationer). Molekul yang ingin dipisahkan diletakkan
pada medium pemisah dan dibawa sesuai dengan muatan listrik oleh karena medium pemisah
direndam dengan larutan ionik. Molekul yang besar bergerak lebih lambat dari
pada molekul lebih kecil. Gel agarose disiapkan
dengan ethidium bromide yang mengikat dengan DNA (intercalater) dan
diperlihatkan warna oren kalau disinarkan dengan cahaya UV. Menurut Aslinda dan
Ahmad (2016), Agarosa atau galaktosa polimer merupakan senyawa polisakarida
yang diisolasi dari makroalga. Analisis molekul DNA dengan PCR ini, akan
dilanjutkan dengan pemisahan fragmen DNA menggunakan gel elektroporesis untuk
memisahkan molekul DNA, RNA dan molekul protein menggunakan arus listrik di
permukaan gel matriks agarosa.
Salah satu keuntungan analisis keragaman
menggunakan teknik molekuler yang memanfaatkan teknologi eletroforesis adalah
kuantitas DNA yang dibutuhkan hanya sedikit. Selain itu, untuk tingkat
kemurnian DNA yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi dengan kata lain
teknik ini toleran terhadap tingkat kemurnian, Akan tetapi dibutuhkan
senyawa-senyawa kontaminan yang dapat mengganggu reaksi PCR seperti
polisakarida dan metabolit sekunder (Siregar dan Olivia, 2013).
IV. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan yang
dapat diambil dari percobaan ini adalah percobaan isolasi DNA jaringan
dilakukan dengan 3 tahap yaitu tahap penghancuran, dimana sampel dihancurkan
menggunakan lumpang dan alu agar memudahkan untuk memisahkan dna dari komponen
yang tidak diperlukan, ekstraksi dimana ditahap ini dilakukan penambahan buffer
untuk memudahkan proses pemisahan DNA dan pemurnian dimana dilakukan pencucian
DNA agar bersih dan dapat diamati ketika proses eletroforesis dilakukan.
B.
Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan pada praktikum
ini adalah sebagai berikut
1. Saran untuk praktikan yang masuk kedalam laboratorium, yaitu agar tetap menjaga
suasana dalam laboratorium agar tetap tenang dan
melakukan pengamatan dengan teliti agar data pengamatan yang diperoleh lebih jelas dan akurat.
2. Saran untuk asisten pembimbing yaitu agar kiranya dapat memperhatikan
praktikan saat melakukan praktikum dan memberikan instruksi mengenai bahan atau
alat yang akan digunakan dengan jelas agar tidak terjadi salah presepsi oleh
praktikan.
3. Saran untuk laboratorium yaitu agar kiranya dapat menyediakan kursi dan
meja yang lebih baik agar asisten dapat duduk saat menjelaskan.
DAFTAR
PUSTAKA
Aji, G. K., Djoko, P., dan M. Rivai, 2018, Pengendali Kecepatan pada Alat
Sentrifugasi Menggunakan Metode Logika Fuzzy, Jurnal Teknik Its,
7(2): 325-330.
Aslinda, W. dan Ahmad, A., 2016, Isolasi dan Karakterikasi
Agarosa dari Makroalga Merah Euchema Cottoni untuk Pemisahaan Fragmen Dna, Online
Journal of Natural Science, 5(3): 307-317.
Deanesia, D., Roslim, D. I. dan Herman, 2014, Isolasi
Dna Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Asal
Kecamatan Bantan, Bengkalis-Riau, JOM FMIPA,1(2): 644-650.
Fuad, A. R. M., Ita, U. dan Fredy, K., 2016, Penggunaan
Agar-Agar Komersial Sebagai Media Gel Elektroforesis pada Zat Warna Remazol:
Pengaruh Komposisi Buffer, Ph Buffer dan Konsentrasi Media, Jurnal Sains dan
Seni Its, 5(2): 130-133.
Hairuddin, R., 2013, Isolasi Dna dan Amplifikasi, (Pcr) Genom
Dna Kopi (Coffea Sp) Melalui Proses
Elektroforesis Gel Poliakrilamid, Jurnal Dinamika, 4(1): 43 - 48.
Hariyadi, S., Erlina, N. dan M. Amien, R., 2018, Perbandingan
Metode Lisis Jaringan Hewan dalam Proses Isolasi Dna Genom pada Organ Liver
Tikus Putih (Rattus Norvegicus), Proceeding
Biology Education Conference, 5(1): 689-692.
Hutami, R., Hanifah, B., Sukarno, Henny, N. dan Raafqi, R.,
2018, Ekstraksi Dna dari Daging Segar untuk Analisis dengan Metode Loop-Mediated Isothermal Amplification
(Lamp), Jurnal Agroindustri, 4(2): 209-216.
Iqbal, M., Ibnu, D, B. dan Nia, K., 2016, Analisis Perbandingan
Metode Isolasi Dna untuk Deteksi White Spot Syndrome Virus (Wssv) pada Udang
Vaname (Litopenaeus Vannamei), Jurnal
Perikanan Kelautan, 7(1): 54-65.
Kamaliah, 2017, Perbandingan Metode Ekstraksi Dna Phenol-Chloroform dan Kit Extraction pada Sapi Aceh dan Sapi
Madura. Jurnal Biotik, 5(1): 60-65.
Maryawana, O. N., 2015, Ektraksi Asam Deoksiribonukleat (Dna)
dari Jaringan Otot, Oseana,
11(2): 1-9.
Siregar, U. J. dan Ranny, D. O., 2013, Keragaman Genetik
Populasi Sengon (Paraserianthes
Falcataria (L) Nielsen) pada Hutan Rakyat di Jawa Berdasarkan Penanda RAPD,
Jurnal Ilmiah Peneliian, 1(1): 1-7.
Travers, A. dan Georgi, M., 2018, Dna Struktur and Function. Febs
Journal, 1(1): 1-17.
Triarjo, Sugeng, R., Anwar, M. dan Edy, M., 2016, Analisis
Kerusakan Centrifuge (Xd-301) pada Proses Pemisahan Uranil Nitrat Seksi 300
Instalasi Pcp, Jurnal Analisa Alat, 2(1): 13-20.
Widyastuti, D. A., 2014, Solasi Dna Kromosom Salmonellasp. dan Visualisasinya pada
Elektroforesis Gel Agarosa, Jurnal Pendidikan Biologi dan Saintek, 8(2):
311-317.


Komentar
Posting Komentar