I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Secara umum perubahan sifat pada aliran keturunan disebut dengan mutasi. Mutasi adalah perubahan materi genetik pada gen atau kromosom di suatu sel yang diwariskan kepada keturunan. Mutasi dapat disebabkan oleh kesalahan replikasi materi genetika selama pembelahan sel oleh radiasi, bahan kimia (mutagen), atau virus, atau dapat terjadi selama proses meiosis. Mutasi juga terjadi pada aliran keturunan yang tidak jelas mutagennya, yang diperkirakan hanya karena suatu kesalahn atau kekeliruan suatu proses metabolisme dalam sel. Hal ini terjadi karena adanya kemungkinan (probability) terjadi seara acak, bukan karena pengaruh luar tetapi karena kebetulan belaka.

Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera (bangsa lalat). Spesies ini umum dikenal sebagai lalat buah. Drosophila melanogaster merupakan lalat kecil yang umum ditemukan di dekat buah yang matang atau membusuk. Thomas Hunt Morgan adalah ahli biologi terkemuka mempelajari Drosophila awal tahun 1900-an. Ia adalah orang pertama yang menemukan hubungan seks dan rekombinasi genetik, yang menempatkan lalat kecil di garis depan penelitian genetik. Drosophila melanogaster pameran metamorfosis lengkap, yang berarti siklus hidup termasuk telur, larva (seperti cacing) bentuk, pupa dan akhirnya muncul (eclosure) sebagai orang dewasa terbang.

Drosophila melanogaster memiliki banyak jenis mutan, salah satunya adalah pada warna mata terdapat jenis warna putih (white), scarlet atau merah tua, atau cokelat kehitaman (sepia). Mutasi yang terjadi pada bentuk mata antara lain adalah bentuk  lonjong dan besar (Roughoid), mata tereduksi (lobe), tidak memilik mata (eyemissing), dan mata sipit (barr). Mutasi pada warna tubuh terdiri atas mutan Drosophila melanogaster hitam (black), kuning (yellow) atau cokelat tua (ebony). Mutasi yang terjadi pada sayap Drosophila melanogaster dibedakan menjadi sayap curly (melengkung ke atas), taxi (panjangnya terentang menjauhi tubuh), miniature (sayapnya terbentang sepanjang tubuh), dan dumpy (keadaan sayap terbelah). Berdasarkan latar belakang maka dilakukanlah praktikum Pengamatan Drosophila melanogaster Normal dan Mutan-Mutannya.

 

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang terdapat pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Bagaimana cara mengetahui dan memahami pengertian mutasi?

2.      Bagaimana cara mengetahui perbedaan morfologi antara Drosophila Melanogaster jantan dan Drosophila Melanogaster betina?

3.      Bagaimana cara mengetahui perbedaan antara Drosophila melanogaster normal dengan mutan-mutannya?

 

C.    Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian mutasi.

2.      Untuk mengetahui perbedaan morfologi antara Drosophila Melanogaster jantan dan Drosophila Melanogaster betina.

3.      Untuk mengetahui perbedaan antara Drosophila melanogaster normal dengan mutan-mutannya.

 

D.    Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian mutasi.

2.      Untuk mengetahui perbedaan morfologi antara Drosophila Melanogaster jantan dan Drosophila Melanogaster betina.

3.      Untuk mengetahui perbedaan antara Drosophila melanogaster normal dengan mutan-mutannya

 

 

II.    TINJAUAN PUSTAKA

A.    Drosophila Melanogaster

Lalat buah adalah serangga yang berasal dari sub ordo Cyclorrapha. Secara morfologi lalat dibedakan dari nyamuk berdasarkan ukuran antenanya, lalat berantena pendek, sedangkan nyamuk berantena panjang. Lalat umumnya mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil yang berguna untuk menjaga stabilitas saat ia terbang. Lalat sering hidup diantara Manusia dan sebagian jenis dapat menyebabkan penyakit yang serius.Lalat disebut penyebar penyakit karena setiap ekor lalat yang hinggap disuatu tempat maka kurang lebih 125.000 kuman yang ikut terjatuh di tempat itu. Lalat sangat mengandalkan penglihatan untuk dapat bertahan hidup. Mata majemuk yang dimiliki oleh lalat terdiri atas ribuan lensa yang sangat peka terhadap gerakan (Safitri dan Bachtiat, 2017).

Lalat buah Drosophila Melanogaster merupakan hewan percobaan yang sering digunakan dalam praktikum genetika. Beberapa hukum genetika yang penting telah dihasilkan dari penelitian menggunakan lalat buah. Keunggulan penggunaan lalat buah antara lain tidak memerlukan kondisi steril seperti pada mikroorganisme, mudah diperoleh karena bersifat kosmopolit, siklus hidup pendek, mudah dipelihara, lalat betina bertelur banyak, cirri morfologi mudah diamati dan memiliki 4 pasang kromosom sehingga mudah diteliti (Iskandar, 1987 dalam Wahyuni, 2014). 

B.     Mutasi

Mutasi adalah perubahan genetik yang terjadi pada bahan genetik (DNA maupun RNA), baik dalam taraf urutan gen (disebut mutasi titik) maupun taraf mutasi pada taraf mutasi kromosom. Mutasi pada tingkat kromosal biasanya disebut aberasi. Mutasi pada gen dapat mengarah pada munculnya alel baru dan menjadi dasar bagi kalangan pendukung evolusi mengenai munculnya variasi-variasi baru pada spesies (Marmadewi, 2017). Mutasi merupakan perubahan yang terjadi pada materi genetik, terdapat dua tipe mutasi yaitu mutasi titik dan mutasi kromosom. Mutasi dapat mempengaruhi genotipe maupun fenotipe. Membandingkan mutan pada Drosophila melanogaster dengan yang wild type (tipe normal liar). Terdapat 4 jenis mutan Drosophila melanogaster yaitu mutan bentuk mata, mutan warna mata, mutan bentuk sayap, dan mutan warna tubuh (Ulhaq, 2018).

 

C.    Morfologi Drosophila Melanogaster

Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang. Berukuran kecil, antara 3-5 mm. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung. Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah. Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk, kepala berbentuk elips. Thorax berbulubulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam. Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax. Drosophila betina berukuran lebih besar dari Drosophila  jantan (Oktary, dkk, 2015).

 

D.    Perbedaan Drosophila Melanogaster Jantan dan Betina

jantan pada lalat drosophila melanogaster Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin. Sedangkan pada  betina ukuran relatif lebih besar, memiliki 6 ruas pada bagian abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin. Drosophila melanogaster merupakan hewan yang bersayap, dan berukuran kecil. Maka dari itu pengamatan morfologi hewan ini bisa dengan menggunakan alat Bantu seperti lup dan mikroskop. Pada Drosophila melanogaster ditemukan 4 pasang kromosom. Pada  jantan dan  betina umumnya adalah sama, tetapi ada sedikit perbedaan yaitu pada salah satu kromosom jantan terdapat lengkungan seperti mata pancing. Sementara itu terkait dengan umur seksual betina untuk kawin pada Drosophila melanogaster diperoleh informasi yang bervariasi. Beberapa pendapat yang menyebutkan umur berapa Drosophila melanogaster betina mencapai kedewasaan seksual (Suparman, dkk, 2018).

Drosophilla melanogaster jantan memiliki warna kehitaman pada sayap bagian depan sedangkan pada betina hanya bercak hitam pada tiap ruasnya. Perbedaan seksual jantan dan betina dapat dilihat pada bentuk ujung abdomen dan kaki. Bentuk ujung posterior abdomen betina melengkung kebawah menuju titik lancip dibagian tengah belakang dan pada ruas kiri dan kanan berwarna hitam. Sedangkan abdomen jantan bulat dan memendek, pada ruas kiri dan kanan memiliki warna hitam, pada bagian kaki jantan tarsus memiliki sex comb, bagian luar dari alat genital jantan memiliki warna hitam ( Purwatinigsih dan Serjarani, 2017).

 

 

 

 


III. METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa,  1 Desember 2020 pukul 15.30 sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Genetika, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.

 

B.     Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1.Alat dan kegunaannya

No

Nama Alat

Jumlah

Kegunaan

1

2

3

4

1.

Botol selai

1

Sebagai wadah media

2.

Pisau

1

Sebagai alat potong

3.

Mikrosoft stereo

1

Sebagai media untuk mengamati

4.

kompor

1

Sebagai alat untuk memanaskan media

5.

Panci

1

Sebagai wadah untuk memanaskan media

6.

Sendok kayu

1

Sebagai alat untuk mengaduk media

7.

Timbangan

1

Sebagai alat untuk menghitung berat bahan media

 

C.    Bahan  Praktikum

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2.Bahan dan kegunaannya

No.

Nama Bahan

Satuan

Kegunaan

1

2

3

4

1.

Apel, pisang, nangka dan papaya

Kg

Sebagai bahan dalam pembuatan media

2.

Klorofom

-

Sebagai bahan pembius

3.

Gula merah

Gr

Sebagai sumber nutrisi media

4.

Agar-agar putih

-

Sebagai bahan pembuatan media

 

1

2

3

4

5.

Kertas label

-

Sebagai penanda media

6.

Busa penutup

-

Untuk mentup wadah media

 

D.    Prosedur Kerja

Prosedur kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.      Membuat media untuk pengamatan Drosophila melanogsaster normal dan mutannya.

a.       Kupas buah apel, pisang, nangka, pepaya dan mangga kemudian potong kecil-kecil.

b.      Timbang bahan (apel, pisang, nangka dan mangga) sebanyak400 gram.

c.       Hancurkan bahan yang telah dipotong-potong.

d.      Panaskan media (bahan) yang telah dihancurkan, dengan menambahkan agar-agar, air dan gula merah.

e.       Simpan media pada botol selai.

f.       Simpan botol selai yang telah berisi media pada alam bebas.

3.      Keluarkan Drosophila melanogsaster dari botol asalnya, terlebih dahulu botol tersebut digoyang-goyangkan agar lalat yang hinggap disekitar dinding botol turun ke permukaan bawah botol.

4.      Pindahkan Drosophila melanogsaster ke botol kosong setelah dipastikan bahwa lalat tersebut berada di permukaan bawah botol asalnya dan dengan gerakan cepat busa penutup botol dibuka.

5.      Tempelkan kedua mulut botol setelah busa penutup dibuka dan harus dipastikan bahwa tidak ada celah sedikitpun antara kedua mulut botol tersebut.

6.      Tutup botol yang berisi lalat dengan busa penutup, kemudian menetesi botol dengan larutan klorofom.

7.      Tunggu hingga lalat yang ada dalam botol terbius atau pingsan.

8.      Buka botol, kemudian lalat buah tersebut dipindahkan ke dalam cawan petri untuk diamati.

9.      Amati lalat buah (Drosophila melanogsaster) yang telah diletakkan di atas cawan petri dengan lup dan mikroskop stereo.

10.  Catat dan gambar Drosophila melanogsaster untuk memudahkan identifikasi.

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini tercamtum pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Drosophila melanogaster

Gambar Drosophila melanogaster

No.

Gambar Literatur

Keterangan

1

2

3

 

1.

Description: IMG_20201205_075115.jpg

 

Ebony body (tubuh hitam)   

 

2.

Description: IMG_20201205_075102.jpg

 

Yellow body (bertubuh kuning)

 

3.

Description: IMG_20201205_075144.jpg

 

Curly wings (saying kerinting)

 

4.

Description: IMG_20201205_075216.jpg

 

Vestigial wings (sayap bersisa)

 

Tabel 3. lanjutan

1

2

3

 

5.

Description: IMG_20201205_081705.jpg

 

White eyes (mata putih)

 

6.

Description: IMG_20201205_081729.jpg

 

Drop eyes (mata jatuh)

 

7.

Description: IMG_20201205_081751.jpg

 

Humeral bristies (bulu panjang)

 

8.

Description: IMG_20201205_081811.jpg

 

Stubble bristies (bulu botak

 

B.     Pembahasan

Mutasi adalah sebuah keadaan dimana berubahnya informasi genetik yang terkandung dalam DNA atau kromosom yang dapat diwariskan di keturunannya. Perubahan materi genetik (DNA) menyebabkan terjadinya perubahan gen dan akhirnya menyebabkan perubahan alel dan fenotip makhluk hidup. Perubahan genetik pada mutasi dapat terjadi pada taraf urutan gen (disebut mutasi titik) maupun pada taraf kromosom (aberasi). Mutasi dapat timbul secara spontan di alam dan terjadi akibat zat pembangkit mutasi (mutagen, termasuk karsinogen), radiasi surya maupun radioaktif, serta loncatan energi listrik seperti petir.

Lalat buah Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah yang sering hinggap pada buah yang telah busuk. Drosophila telah digunakan secara bertahun-tahun dalam kajian genetika dan perilaku hewan. Menurut Ramadani, dkk, (2016) Pemanfaatan Drosophila melanogaster dalam bidang kajian biologi, termasuk genetika antara lain dikarenakan organisme tersebut lebih mudah dipelihara dan relatif terjangkau bila dibandingkan dengan pemanfaatan organisme multiselular lainnya. Drosophila melanogaster juga memiliki beberapa karakteristik lainnya yaitu mempunyai sejumlah karakter maupun perilaku yang mudah diamati dalam kondisi laboratorium, memiliki waktu generasi yang pendek, mampu menghasilkan banyak keturunan, memiliki ukuran genom yang kecil, serta memiliki sekian banyak jumlah mutan yang menggambarkan berbagai aspek biologis dari organisme tersebut.

Drosophila melanogaster sudah lama digunakan sebagai sebagai sempel uji coba pada percobaan menyangkut genetika. Menurut Stephenson dan Metcalfe (2013) Drosophila melanogaster memiliki saraf yang kompleks dan sistem yang memungkinkannya memperoleh kemampuan neuronal yang kompleks, seperti pembelajaran dan memori, mirip dengan yang ada pada manusia Sistem saraf Drosophila melanogaster terdiri dari sekitar 100.000 neuron hampir sama dengan manusia dan meskipun otak Drosophila melanogaster memiliki perbedaan pada struktur anatomi manusia fitur pengembangan dan fungsi sistem saraf tetap sama. Alasan utama lain yang membuat Drosophila menarik model adalah kisaran alat genetik yang sedikit dan kemudahan memperkenalkan gen manusia ke dalam lalat. Manfaat lainnya termasuk menjadi jauh lebih murah dan memakan waktu gunakan daripada model tikus percobaan karena Drosophila melanogaster memiliki waktu reproduksi cepat dan umur pendek serta memberikan sempel dengan jumlah lebih tinggi dalam eksperimen. Kesamaan kromosom gen manusia menjadi Drosophila memungkinkan kita untuk merekapitulasi gejala dan perkembangan penyakit manusia pada lalat.

Mutasi pada Drosophila melanogaster mengakibatkan perbedaan karakterikstik fenotipe (sifat tampak) pada organisme normal atau disebut juga sebagai mutan. Beberapa jenis mutasi pada Drosophila melanogaster yang dapat terlihat dari fenotipenya adalah mutasi warna mata, bentuk mata, bentuk sayap dan warna tubuh. Karakteristik Drosophilla melanogaster tipe normal dicirikan dengan mata merah, mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan mata tunggal (oceli) pada bagian atas kepalanya dengan ukuran relatif lebih kecil dibanding mata majemuk. Hal ini sesuai dengan literatur (Agustina, dkk, 2013) menyatakan bahwa ciri-ciri dari lalat buah Drosophilla melanogaster ini yaitu memiliki tubuh bewarna kuning atau coklat, dan memiliki mata yang bewarna merah.

Drosophila melanogaster memiliki saraf yang kompleks dan sistem yang memungkinkannya memperoleh kemampuan neuronal yang kompleks, seperti pembelajaran dan memori, mirip dengan yang ada pada manusia Sistem saraf Drosophila melanogaster terdiri dari sekitar 100.000 neuron hampir sama dengan manusia dan meskipun otak Drosophila melanogaster memiliki perbedaan pada struktur anatomi manusia fitur pengembangan dan fungsi sistem saraf tetap sama. Alasan utama lain yang membuat Drosophila menarik model adalah kisaran alat genetik yang sedikit dan kemudahan memperkenalkan gen manusia ke dalam lalat. Manfaat lainnya termasuk menjadi jauh lebih murah dan memakan waktu gunakan daripada model tikus percobaan karena Drosophila melanogaster memiliki waktu reproduksi cepat dan umur pendek serta memberikan sempel dengan jumlah lebih tinggi dalam eksperimen. Kesamaan kromosom gen manusia menjadi Drosophila memungkinkan kita untuk merekapitulasi gejala dan perkembangan penyakit manusia pada lalat (Stephenson dan Metcalfe,2013).

Metode praktikum yang dilakukan pada praktikum ini adalah dengan metode penangkapan di alam dengan media buatan sendiri yang dilakukan di lingkugan sekitar. Penangkapan lalat buah Drosophilla melanogaster dilakukan di bawah pohon dekat pekarangan rumah dengan tujuan memancing lalat buah Drosophilla melanogaster masuk kedalam media buatan. Media buatan berfungsi sebagai temapat perkembangbiakan sempel untuk diteliti.

Prosedur kerja pada praktikum ini adalah membuat media dan mengidentifikasi lalat buah Drosophilla melanogaster. Pembuatan media di praktikum ini dibuat dari buah apel,. Pembuatan media dimulai dengan mengupulkan alat dan bahan. Bahan yang digunakan adalah apel, agar-agar, gula merah, air, klorofom, kertas label dan busa penutup dan alat yang digunakan pada praktikum ini adalah blender, panci, timbangan, kompor dan botol selai. Apel merupakan bahan utama dalam pembuatan media karena merupakan bahan untuk tempat hidup Drosophilla melanogaster. Apel kemudian dikupas, kemudian ditimbangan sebanyak 400 gram yang kemudian dihancurkan hingga halus menggunakan blender agar memudahkan ketika dilakukan pencampuran dengan bahan lain. Apel yang sudah menjadi bubur kemudian di masak dengan mencampurkan air, gula merah dan agar-agar, air berguna untuk menghomogenkan apel, agar-agar dan gula merah ketika dimasak, gula merah digunakan sebagai bahan penarik lalat Drosophilla melanogaster dan agar-agar berfungsi untuk memadatkan media. Setelah pemasakan media, media kemudian dimasukan kedalam wadah botol selai yang kemudian di simpan di bawah pohon untuk memancing lalat buah Drosophilla melanogaster, penyimpanan dilakukan selama 4 hari untuk memaksimalkan sempel yang ditangkap kedalam botol selai.

Setelah penangkapan dilakukan pengamatan pada lalat buah yang ditangkap. Lalat buah Drosophilla melanogaster yang ada di dalam botol selai yang akan diamati terlebih dahulu ditangkap dengan cara mengoyang-goyangkan botol selai sehingga lalat buah Drosophilla melanogaster jatuh kepermukaan botol. Sempel yang jatuh ke dasar wadah kemudian dipindahkan dengan cepat ke botol kosong yang akan ditetesi dengan klorofom yang berguna untuk membius sempel agar memudahkan dalam pengamatan, setelah penetesan ditunggu selama 5 menit agar sempel terbius. sempel yang telah terbius dipindahkan kecawan petri yang kemudian akan diamati perbedaan morfologi bentuk tubuhnya.

Hasil pengamatan yang didapatkan adalah lalat buah Drosophilla melanogaster normal memiliki mata merah, mata berbentuk berbentuk bulat dan berada dibagian atas kepala, memiliki 2 antena, dan kepala berbentuk elips. Menurut Dimit (Wahyuni, 2014) menyatakan bahwa Drosophila melanogaster normal memiliki ciri-ciri sebagai berikut: panjang tubuh lalat dewasa 2-3 mm, imago betina umumnya lebih besar dibandingkan dengan yang jantan, tubuh berwarna coklat kekuningan dengan faset mata berwarna merah berbentuk elips. Terdapat pula mata oceli yang mempunyai ukuran jauh lebih kecil dari mata majemuk, berada pada bagian atas kepala, di antara dua mata majemuk, berbentuk bulat. Selain itu, Drosophila melanogaster normal memiliki antena yang berbentuk tidak runcing dan bercabang-cabang dan kepala berbentuk elips. Thorax berwarna krem, ditumbuhi banyak bulu, dengan warna dasar putih. Abdomen bersegmen lima, segmen terlihat dari garis-garis hitam yang terletak pada abdomen. Sayap Drosophila normal memiliki ukuran yang panjang dan lurus, bermula dari thorax hingga melebihi abdomen lalat dengan warna transparan.

Pengamatan pada mutan Drosophila melanogaster didapatkan bahwa warna tubuh pada mutan Drosophila melanogaster dapat berwarna hitam dan berwarna kuning. Pengamatan pada sayap didapatkan hasil bahwa mutan Drosophila melanogaster memiliki sayap berbentuk keriting dan sayap sisa (sayap yang muncul hanya bagian ujung). Pengamatan pada mata Drosophila melanogaster mutan didapatkan berwarna merah dan berberbentuk mata jatuh. Pengamatan pada bulu halus ditubuh Drosophila melanogaster didapatkan bahwa bulu tegak yang panjang dan kebotakan pada bulu tubuh Drosophila melanogaster menandakan terjadinya mutasi. Anomali-anomali yang diakibatkan terjadinya mutasi pada Drosophila melanogaster disebabkan oleh terjadinya penyimpanan Mutasi adalah perubahan atau kesalahan dalam urutan genom sel. Kesalah yang terjadi pada saat mutasi terjadi di meiosis atau replikasi DNA, serta karena pengion atau radiasi UV , transposon , bahan kimia mutagenik dan virus. Mutasi biasanya (tetapi tidak selalu) mengakibatkan perubahan organisme. Perubahan tersebut bisa dari morfologi bentuk tubuh atau terjadi peerubahan sifat.

Lalat buah Drosophila melanogaster normal (wild type) memiliki mata berwarna merah. Namun, pada mutasi warna mata Drosophila melanogaster, telah diamati warna mata lalat berwarna putih (tidak normal) akibat dari terjadinya mutasi. Mutasi pada warna mata lalat buah karena terjadi perubahan materi genetic pada kromosom nomor 3. Menurut Ashburner (Hotimah, dkk, 2017) menyatakan perbedaan warna mata pada Drosophila melanogaster disebabkan ada kelainan kromosom nomor 3, lokus 26.

Drosophila melanogaster betina memiliki ukuran yang lebih beras dari pada jantan. Menurut Testa (2013) menyatakan bahwa konsep dimorfisme (perbedaan ukuran jantan dan betina) pada Drosophila melanogaster betina dewasa secara signifikan lebih besar daripada jantan mereka. Ditemukan bahwa pada Drosophila melanogaster terjadi dimorfisme ukuran seksual ini muncul karena betina memulai metamorfosis pada ukuran yang lebih besar daripada laki-laki. Betina Drosophila melanogaster memiliki ukuran yang lebih besar dan tumbuh lebih cepat dari laki-laki dalam periode pertumbuhan larva. Perbedaan sistematik luar antara individu yang berjenis kelamin jantan dan betina di spesies yang sama yang dihasilkan pada puncak massa larva kemudian berkurang sebelum metamorfosis karena betina kehilangan lebih banyak massa selama periode pra-kepompong.

 

 

 

 

 

V.    PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Mutasi adalah perubahan genetik yang terjadi pada bahan genetik DNA maupun RNA serta kromosom, mutasi terjadi dalam taraf urutan gen maupun dalam taraf mutasi kromosom. Mutasi pada tingkat kromosal biasanya disebut aberasi. Mutasi pada gen dapat mengarah pada munculnya alel baru dan menjadi dasar bagi kalangan pendukung evolusi mengenai munculnya variasi-variasi baru pada spesies. Sifat dari hasil mutasi dapat diturunkan kepada keturunan.

2.      Jantan pada lalat drosophila melanogaster Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin. Sedangkan pada  betina ukuran relatif lebih besar, memiliki 6 ruas pada bagian abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin.

3.      Drosophilla melanogaster normal memiliki mata merah, mata berbentuk berbentuk bulat dan berada dibagian atas kepala, memiliki 2 antena, kepala berbentuk elips, memiliki corak belang belang pada perut yang berwarna hitam dan sayap panjang dan lurus sedangkan pada Drosophilla melanogaster mutan memiliki warna tubuh berwarna hitam dan berwarna kuning, berbentuk keriting dan sayap sisa (sayap yang muncul hanya bagian ujung), mata berwarna merah dan berberbentuk mata jatuh, bulu tegak yang panjang dan kebotakan pada bulu tubuh Drosophila melanogaster menandakan terjadinya mutasi

 

B.     Saran

Saran saya setelah mengikuti praktikum ini adalah:

1.      Untuk praktikan agar selalu memperhatikan asisten ketika menjelaskan perihal praktikum.

2.      Untuk asisten pembimbing agar selalu memperhatikan kesehatan supaya dapat membimbing praktikan dengan baik.

3.      Untuk laboratorium agar selalu menjaga kebersihan laboratorium dan selalu menciptakan rasa aman dan nyaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, E., Nursalmi, M. dan Herdanawati, 2013, Perkembangan Metamorphosis Lalat Buah (Drosophilla Melanogaster) Pada Media Biakan Alami Sebagai Referensi Pembelajaran Pada Matakuliah Perkembangan Hewan, Jurnal Biotik, 1(1): 1-66.

 

Oktary, A. P., M. Ridwan dan Armi, 2015, Ekstrak Daun Kirinyuh (Eupatorium Odoratum) dan Lalat Buah (Drosophila Melanogaster), Serambi Akademica, 3(2): 335-342.

 

Purwatiningsih, H. H. dan Kartika, S., 2017, Deskripsi Morfologi Drosophilla melanogaster Normal (Diptera: Drosophilidae), Strain Sepia dan Plum, Jurnal Ilmu Dasar, 18(1): 55–60.

 

Ramadani, S. D., Aloysius, D. C. dan Siti, Z., 2016, Pemanfaatan Drosophila Melanogaster Sebagai Organisme Model Untuk Mempelajari Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Ekspresi Sifat Makhluk Hidup Pada Perkuliahan Genetika, Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 1(5): 806-813.

 

Safitri, D. dan Suhaedir, B, 2017, Pengaruh Penambahan Ragi Pada Media Terhadap Perkembang Biakan Drosophila Melanogaster, Jurnal Biology Science dan Education, 6(1): 45-51.

 

Stephenson dan M. H., Metcalfe, 2013, Drosophila Melanogaster: A Fly Through its History and Current Use, J R Coll Physicians Edinb, 43(70): 1–5.

 

Suparman, Chumidach, R. dan Jainab, S., 2018, Indeks Isolasi Sexual Antara Lalat Buah (Drosophila Melanogaster (Meigen)) dari Moya, Pulau Ternate dan Gurabunga, Pulau Tidore, Saintifik, 3(1): 41-48.

 

Testa, N. D., Shampa, N dan Alexander,W. S., 2013, Sex-Specific Weight Loss Mediates Sexual Size Dimorphism in Drosophila Melanogaster, Plos One, 8(3): 1-5.

 

Ulhaq, M. A., 2018, Pengenalan Mutan Drosophila Melanogaster, Genetika Penelitian, 1(2): 1-8.

 

Wahyuni, E. S., 2014, Pertumbuhan Lalat Buah (Drosopilla Sp.) pada Berbagai Media dan Sumbangannya pada Pembelajaran Biologi di Sma, Media Penelitian, 1(1): 1-5.

 

Wahyuni, S., 2013, Pengaruh Maternal Terhadap Viabilitas Lalat Buah (Drosophila Melanogastermeigen)Strain Vestigial (Vg), Jurnal Penelitian Ilmiah, 1(1): 1-8.

 

Warmadewi, D. A.,2017, Buku Bahan Ajar Genetik. Denpasar: Udayana Press.Hal 45

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar