I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Secara umum perubahan sifat pada aliran keturunan
disebut dengan mutasi. Mutasi adalah perubahan materi genetik pada gen atau
kromosom di suatu sel yang diwariskan kepada keturunan. Mutasi dapat disebabkan
oleh kesalahan replikasi materi genetika selama pembelahan sel oleh radiasi,
bahan kimia (mutagen), atau virus, atau dapat terjadi selama proses meiosis. Mutasi
juga terjadi pada aliran keturunan yang tidak jelas mutagennya, yang
diperkirakan hanya karena suatu kesalahn atau kekeliruan suatu proses
metabolisme dalam sel. Hal ini terjadi karena adanya kemungkinan (probability)
terjadi seara acak, bukan karena pengaruh luar tetapi karena kebetulan belaka.
Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam
ordo Diptera (bangsa lalat). Spesies
ini umum dikenal sebagai lalat buah. Drosophila
melanogaster merupakan lalat kecil yang umum ditemukan di dekat buah yang
matang atau membusuk. Thomas Hunt Morgan adalah ahli biologi terkemuka
mempelajari Drosophila awal tahun 1900-an. Ia adalah orang pertama yang
menemukan hubungan seks dan rekombinasi genetik, yang menempatkan lalat kecil
di garis depan penelitian genetik. Drosophila
melanogaster pameran metamorfosis lengkap, yang berarti siklus hidup termasuk
telur, larva (seperti cacing) bentuk, pupa dan akhirnya muncul (eclosure) sebagai orang dewasa terbang.
Drosophila melanogaster memiliki banyak jenis mutan, salah satunya adalah
pada warna mata terdapat jenis warna putih (white),
scarlet atau merah tua, atau cokelat kehitaman (sepia). Mutasi yang terjadi pada bentuk mata antara lain adalah
bentuk lonjong dan besar (Roughoid), mata tereduksi (lobe), tidak memilik mata (eyemissing), dan mata sipit (barr). Mutasi pada warna tubuh terdiri
atas mutan Drosophila melanogaster hitam
(black), kuning (yellow) atau cokelat tua (ebony).
Mutasi yang terjadi pada sayap Drosophila
melanogaster dibedakan menjadi sayap curly
(melengkung ke atas), taxi
(panjangnya terentang menjauhi tubuh), miniature
(sayapnya terbentang sepanjang tubuh), dan dumpy
(keadaan sayap terbelah). Berdasarkan latar belakang maka dilakukanlah praktikum
Pengamatan Drosophila melanogaster
Normal dan Mutan-Mutannya.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana cara mengetahui dan memahami
pengertian mutasi?
2.
Bagaimana
cara mengetahui perbedaan morfologi antara Drosophila
Melanogaster jantan dan Drosophila
Melanogaster betina?
3. Bagaimana cara mengetahui perbedaan
antara Drosophila melanogaster normal dengan
mutan-mutannya?
C.
Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan
memahami pengertian mutasi.
2.
Untuk mengetahui perbedaan morfologi antara Drosophila Melanogaster jantan dan Drosophila
Melanogaster betina.
3. Untuk mengetahui
perbedaan antara Drosophila melanogaster normal dengan
mutan-mutannya.
D.
Manfaat Praktikum
Manfaat yang dapat diperoleh
dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui dan memahami pengertian mutasi.
2.
Untuk mengetahui perbedaan morfologi antara Drosophila Melanogaster jantan dan Drosophila
Melanogaster betina.
3.
Untuk mengetahui perbedaan antara Drosophila melanogaster normal dengan mutan-mutannya
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Drosophila Melanogaster
Lalat buah adalah serangga yang berasal dari sub
ordo Cyclorrapha. Secara morfologi lalat dibedakan dari nyamuk berdasarkan
ukuran antenanya, lalat berantena pendek, sedangkan nyamuk berantena panjang.
Lalat umumnya mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil yang
berguna untuk menjaga stabilitas saat ia terbang. Lalat sering hidup diantara
Manusia dan sebagian jenis dapat menyebabkan penyakit yang serius.Lalat disebut
penyebar penyakit karena setiap ekor lalat yang hinggap disuatu tempat maka
kurang lebih 125.000 kuman yang ikut terjatuh di tempat itu. Lalat sangat
mengandalkan penglihatan untuk dapat bertahan hidup. Mata majemuk yang dimiliki
oleh lalat terdiri atas ribuan lensa yang sangat peka terhadap gerakan (Safitri
dan Bachtiat, 2017).
Lalat buah Drosophila Melanogaster merupakan hewan
percobaan yang sering digunakan dalam praktikum genetika. Beberapa hukum
genetika yang penting telah dihasilkan dari penelitian menggunakan lalat buah. Keunggulan
penggunaan lalat buah antara lain tidak memerlukan kondisi steril seperti pada
mikroorganisme, mudah diperoleh karena bersifat kosmopolit, siklus hidup
pendek, mudah dipelihara, lalat betina bertelur banyak, cirri morfologi mudah
diamati dan memiliki 4 pasang kromosom sehingga mudah diteliti (Iskandar, 1987
dalam Wahyuni, 2014).
B.
Mutasi
Mutasi
adalah perubahan genetik yang terjadi pada bahan genetik (DNA maupun RNA), baik
dalam taraf urutan gen (disebut mutasi titik) maupun taraf mutasi pada taraf
mutasi kromosom. Mutasi pada tingkat kromosal biasanya disebut aberasi. Mutasi
pada gen dapat mengarah pada munculnya alel baru dan menjadi dasar bagi
kalangan pendukung evolusi mengenai munculnya variasi-variasi baru pada spesies
(Marmadewi, 2017). Mutasi merupakan perubahan yang terjadi pada materi genetik,
terdapat dua tipe mutasi yaitu mutasi titik dan mutasi kromosom. Mutasi dapat
mempengaruhi genotipe maupun fenotipe. Membandingkan mutan pada Drosophila
melanogaster dengan yang wild type (tipe normal liar). Terdapat 4 jenis mutan
Drosophila melanogaster yaitu mutan bentuk mata, mutan warna mata, mutan bentuk
sayap, dan mutan warna tubuh (Ulhaq, 2018).
C.
Morfologi Drosophila
Melanogaster
Warna
tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
Berukuran kecil, antara 3-5 mm. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua
bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya. Sungut (arista) umumnya
berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan. Crossvein
posterior umumnya lurus, tidak melengkung. Mata majemuk berbentuk bulat
agak ellips dan berwana merah. Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala
dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk, kepala berbentuk elips.
Thorax berbulubulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima
dan bergaris hitam. Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari
thorax. Drosophila betina berukuran lebih besar dari Drosophila jantan (Oktary, dkk, 2015).
D.
Perbedaan Drosophila
Melanogaster Jantan dan Betina
jantan
pada lalat drosophila melanogaster Memiliki
ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang betina. Memiliki 3
ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin. Sedangkan pada betina ukuran relatif lebih besar, memiliki 6
ruas pada bagian abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin. Drosophila
melanogaster merupakan hewan yang bersayap, dan berukuran kecil. Maka dari itu
pengamatan morfologi hewan ini bisa dengan menggunakan alat Bantu seperti lup
dan mikroskop. Pada Drosophila
melanogaster ditemukan 4 pasang kromosom. Pada jantan dan
betina umumnya adalah sama, tetapi ada sedikit perbedaan yaitu pada
salah satu kromosom jantan terdapat lengkungan seperti mata pancing. Sementara
itu terkait dengan umur seksual betina untuk kawin pada Drosophila melanogaster diperoleh informasi yang bervariasi. Beberapa
pendapat yang menyebutkan umur berapa Drosophila
melanogaster betina mencapai kedewasaan seksual (Suparman, dkk, 2018).
Drosophilla melanogaster jantan memiliki warna kehitaman pada sayap bagian depan sedangkan pada betina hanya
bercak hitam pada tiap ruasnya. Perbedaan seksual jantan dan betina dapat
dilihat pada bentuk ujung abdomen dan kaki. Bentuk ujung posterior abdomen
betina melengkung kebawah menuju titik lancip dibagian tengah belakang dan pada
ruas kiri dan kanan berwarna hitam. Sedangkan abdomen jantan bulat dan
memendek, pada ruas kiri dan kanan memiliki warna hitam, pada bagian kaki
jantan tarsus memiliki sex comb, bagian luar dari alat genital jantan memiliki
warna hitam ( Purwatinigsih dan Serjarani, 2017).
III.
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 1 Desember 2020 pukul 15.30 sampai selesai dan bertempat di
Laboratorium Genetika, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat Praktikum
Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum
pada Tabel 1.
Tabel 1.Alat dan kegunaannya
|
No |
Nama Alat |
Jumlah |
Kegunaan |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
1. |
Botol selai |
1 |
Sebagai wadah media |
|
2. |
Pisau |
1 |
Sebagai alat potong |
|
3. |
Mikrosoft stereo |
1 |
Sebagai media
untuk mengamati |
|
4. |
kompor |
1 |
Sebagai alat
untuk memanaskan media |
|
5. |
Panci |
1 |
Sebagai wadah untuk memanaskan media |
|
6. |
Sendok kayu |
1 |
Sebagai alat untuk mengaduk media |
|
7. |
Timbangan |
1 |
Sebagai alat untuk menghitung berat bahan
media |
C. Bahan
Praktikum
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini tercantum pada
Tabel 2.
Tabel 2.Bahan dan kegunaannya
|
No. |
Nama Bahan |
Satuan |
Kegunaan |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
1. |
Apel, pisang, nangka dan papaya |
Kg |
Sebagai bahan dalam pembuatan
media |
|
2. |
Klorofom |
- |
Sebagai bahan pembius |
|
3. |
Gula merah |
Gr |
Sebagai sumber nutrisi media |
|
4. |
Agar-agar putih |
- |
Sebagai bahan pembuatan media |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
5. |
Kertas label |
- |
Sebagai penanda media |
|
6. |
Busa
penutup |
- |
Untuk mentup wadah media |
D.
Prosedur Kerja
Prosedur kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Siapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
2.
Membuat
media untuk pengamatan Drosophila
melanogsaster normal dan mutannya.
a. Kupas buah apel, pisang, nangka, pepaya dan mangga
kemudian potong kecil-kecil.
b. Timbang bahan (apel, pisang, nangka dan
mangga) sebanyak400 gram.
c. Hancurkan bahan yang telah dipotong-potong.
d. Panaskan media (bahan) yang telah dihancurkan, dengan menambahkan
agar-agar, air dan gula merah.
e. Simpan media pada botol selai.
f. Simpan botol selai yang telah berisi media
pada alam bebas.
3.
Keluarkan
Drosophila melanogsaster dari botol
asalnya, terlebih dahulu botol tersebut digoyang-goyangkan agar lalat yang
hinggap disekitar dinding botol turun ke permukaan bawah botol.
4.
Pindahkan
Drosophila melanogsaster ke botol
kosong setelah dipastikan bahwa lalat tersebut berada di permukaan bawah botol
asalnya dan dengan gerakan cepat busa penutup botol dibuka.
5.
Tempelkan
kedua mulut botol setelah busa penutup dibuka dan harus dipastikan bahwa tidak
ada celah sedikitpun antara kedua mulut botol tersebut.
6.
Tutup
botol yang berisi lalat dengan busa penutup, kemudian menetesi botol dengan larutan
klorofom.
7.
Tunggu
hingga lalat yang ada dalam botol terbius atau pingsan.
8.
Buka
botol, kemudian lalat buah tersebut dipindahkan ke dalam cawan petri untuk
diamati.
9.
Amati
lalat buah (Drosophila melanogsaster)
yang telah diletakkan di atas cawan petri dengan lup dan mikroskop stereo.
10.
Catat
dan gambar Drosophila melanogsaster untuk
memudahkan identifikasi.
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan
pada praktikum ini tercamtum pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengamatan Drosophila
melanogaster
|
Gambar Drosophila
melanogaster |
||
|
No. |
Gambar Literatur |
Keterangan |
|
1 |
2 |
3 |
|
1. |
|
Ebony body
(tubuh hitam) |
|
2. |
|
Yellow body
(bertubuh kuning) |
|
3. |
|
Curly wings
(saying kerinting) |
|
4. |
|
Vestigial wings
(sayap bersisa) |
Tabel 3. lanjutan
|
1 |
2 |
3 |
|
5. |
|
White eyes (mata putih) |
|
6. |
|
Drop eyes
(mata jatuh) |
|
7. |
|
Humeral bristies
(bulu panjang) |
|
8. |
|
Stubble bristies
(bulu botak |
B.
Pembahasan
Mutasi adalah sebuah keadaan dimana berubahnya
informasi genetik yang terkandung dalam DNA atau kromosom yang dapat diwariskan
di keturunannya. Perubahan materi genetik (DNA) menyebabkan terjadinya
perubahan gen dan akhirnya menyebabkan perubahan alel dan fenotip makhluk
hidup. Perubahan genetik pada mutasi dapat terjadi pada taraf urutan gen
(disebut mutasi titik) maupun pada taraf kromosom (aberasi). Mutasi dapat timbul
secara spontan di alam dan terjadi akibat zat pembangkit mutasi (mutagen,
termasuk karsinogen), radiasi surya maupun radioaktif, serta loncatan energi
listrik seperti petir.
Lalat buah Drosophila
melanogaster merupakan jenis lalat buah yang sering hinggap pada buah yang
telah busuk. Drosophila telah
digunakan secara bertahun-tahun dalam kajian genetika dan perilaku hewan.
Menurut Ramadani, dkk, (2016) Pemanfaatan Drosophila
melanogaster dalam bidang kajian biologi, termasuk genetika antara lain
dikarenakan organisme tersebut lebih mudah dipelihara dan relatif terjangkau
bila dibandingkan dengan pemanfaatan organisme multiselular lainnya. Drosophila melanogaster juga memiliki
beberapa karakteristik lainnya yaitu mempunyai sejumlah karakter maupun
perilaku yang mudah diamati dalam kondisi laboratorium, memiliki waktu generasi
yang pendek, mampu menghasilkan banyak keturunan, memiliki ukuran genom yang
kecil, serta memiliki sekian banyak jumlah mutan yang menggambarkan berbagai
aspek biologis dari organisme tersebut.
Drosophila melanogaster sudah lama digunakan sebagai sebagai sempel uji
coba pada percobaan menyangkut genetika. Menurut Stephenson dan Metcalfe (2013)
Drosophila melanogaster memiliki
saraf yang kompleks dan sistem yang memungkinkannya memperoleh kemampuan
neuronal yang kompleks, seperti pembelajaran dan memori, mirip dengan yang ada
pada manusia Sistem saraf Drosophila
melanogaster terdiri dari sekitar 100.000 neuron hampir sama dengan manusia
dan meskipun otak Drosophila melanogaster
memiliki perbedaan pada struktur anatomi manusia fitur pengembangan dan fungsi
sistem saraf tetap sama. Alasan utama lain yang membuat Drosophila menarik model
adalah kisaran alat genetik yang sedikit dan kemudahan memperkenalkan gen
manusia ke dalam lalat. Manfaat lainnya termasuk menjadi jauh lebih murah dan
memakan waktu gunakan daripada model tikus percobaan karena Drosophila melanogaster memiliki waktu
reproduksi cepat dan umur pendek serta memberikan sempel dengan jumlah lebih
tinggi dalam eksperimen. Kesamaan kromosom gen manusia menjadi Drosophila
memungkinkan kita untuk merekapitulasi gejala dan perkembangan penyakit manusia
pada lalat.
Mutasi pada Drosophila
melanogaster mengakibatkan perbedaan karakterikstik fenotipe (sifat tampak)
pada organisme normal atau disebut juga sebagai mutan. Beberapa jenis mutasi
pada Drosophila melanogaster yang
dapat terlihat dari fenotipenya adalah mutasi warna mata, bentuk mata, bentuk
sayap dan warna tubuh. Karakteristik Drosophilla melanogaster tipe normal
dicirikan dengan mata merah, mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan mata
tunggal (oceli) pada bagian atas kepalanya dengan ukuran relatif lebih kecil
dibanding mata majemuk. Hal ini sesuai dengan literatur (Agustina, dkk, 2013)
menyatakan bahwa ciri-ciri dari lalat buah Drosophilla
melanogaster ini yaitu memiliki tubuh bewarna kuning atau coklat, dan
memiliki mata yang bewarna merah.
Drosophila melanogaster memiliki saraf yang kompleks
dan sistem yang memungkinkannya memperoleh kemampuan neuronal yang kompleks,
seperti pembelajaran dan memori, mirip dengan yang ada pada manusia Sistem
saraf Drosophila melanogaster terdiri dari sekitar 100.000 neuron hampir sama
dengan manusia dan meskipun otak Drosophila melanogaster memiliki perbedaan
pada struktur anatomi manusia fitur pengembangan dan fungsi sistem saraf tetap
sama. Alasan utama lain yang membuat Drosophila menarik model adalah kisaran
alat genetik yang sedikit dan kemudahan memperkenalkan gen manusia ke dalam
lalat. Manfaat lainnya termasuk menjadi jauh lebih murah dan memakan waktu
gunakan daripada model tikus percobaan karena Drosophila melanogaster memiliki
waktu reproduksi cepat dan umur pendek serta memberikan sempel dengan jumlah
lebih tinggi dalam eksperimen. Kesamaan kromosom gen manusia menjadi Drosophila
memungkinkan kita untuk merekapitulasi gejala dan perkembangan penyakit manusia
pada lalat (Stephenson dan Metcalfe,2013).
Metode praktikum yang dilakukan pada praktikum ini
adalah dengan metode penangkapan di alam dengan media buatan sendiri yang
dilakukan di lingkugan sekitar. Penangkapan lalat buah Drosophilla melanogaster
dilakukan di bawah pohon dekat pekarangan rumah dengan tujuan memancing lalat
buah Drosophilla melanogaster masuk kedalam media buatan. Media buatan
berfungsi sebagai temapat perkembangbiakan sempel untuk diteliti.
Prosedur kerja pada praktikum ini adalah membuat
media dan mengidentifikasi lalat buah Drosophilla
melanogaster. Pembuatan media di praktikum ini dibuat dari buah apel,.
Pembuatan media dimulai dengan mengupulkan alat dan bahan. Bahan yang digunakan
adalah apel, agar-agar, gula merah, air, klorofom, kertas label dan busa
penutup dan alat yang digunakan pada praktikum ini adalah blender, panci,
timbangan, kompor dan botol selai. Apel merupakan bahan utama dalam pembuatan
media karena merupakan bahan untuk tempat hidup Drosophilla melanogaster. Apel kemudian dikupas, kemudian
ditimbangan sebanyak 400 gram yang kemudian dihancurkan hingga halus
menggunakan blender agar memudahkan ketika dilakukan pencampuran dengan bahan
lain. Apel yang sudah menjadi bubur kemudian di masak dengan mencampurkan air,
gula merah dan agar-agar, air berguna untuk menghomogenkan apel, agar-agar dan
gula merah ketika dimasak, gula merah digunakan sebagai bahan penarik lalat Drosophilla melanogaster dan agar-agar
berfungsi untuk memadatkan media. Setelah pemasakan media, media kemudian
dimasukan kedalam wadah botol selai yang kemudian di simpan di bawah pohon
untuk memancing lalat buah Drosophilla
melanogaster, penyimpanan dilakukan selama 4 hari untuk memaksimalkan
sempel yang ditangkap kedalam botol selai.
Setelah penangkapan dilakukan pengamatan pada lalat
buah yang ditangkap. Lalat buah Drosophilla
melanogaster yang ada di dalam botol selai yang akan diamati terlebih
dahulu ditangkap dengan cara mengoyang-goyangkan botol selai sehingga lalat
buah Drosophilla melanogaster jatuh
kepermukaan botol. Sempel yang jatuh ke dasar wadah kemudian dipindahkan dengan
cepat ke botol kosong yang akan ditetesi dengan klorofom yang berguna untuk
membius sempel agar memudahkan dalam pengamatan, setelah penetesan ditunggu
selama 5 menit agar sempel terbius. sempel yang telah terbius dipindahkan
kecawan petri yang kemudian akan diamati perbedaan morfologi bentuk tubuhnya.
Hasil pengamatan yang didapatkan adalah lalat buah Drosophilla melanogaster normal memiliki
mata merah, mata berbentuk berbentuk bulat dan berada dibagian atas kepala,
memiliki 2 antena, dan kepala berbentuk elips. Menurut Dimit (Wahyuni, 2014)
menyatakan bahwa Drosophila melanogaster
normal memiliki ciri-ciri sebagai berikut: panjang tubuh lalat dewasa 2-3 mm,
imago betina umumnya lebih besar dibandingkan dengan yang jantan, tubuh
berwarna coklat kekuningan dengan faset mata berwarna merah berbentuk elips.
Terdapat pula mata oceli yang mempunyai ukuran jauh lebih kecil dari mata
majemuk, berada pada bagian atas kepala, di antara dua mata majemuk, berbentuk
bulat. Selain itu, Drosophila
melanogaster normal memiliki antena yang berbentuk tidak runcing dan
bercabang-cabang dan kepala berbentuk elips. Thorax berwarna krem, ditumbuhi
banyak bulu, dengan warna dasar putih. Abdomen bersegmen lima, segmen terlihat
dari garis-garis hitam yang terletak pada abdomen. Sayap Drosophila normal
memiliki ukuran yang panjang dan lurus, bermula dari thorax hingga melebihi
abdomen lalat dengan warna transparan.
Pengamatan pada mutan Drosophila melanogaster didapatkan bahwa warna tubuh pada mutan Drosophila melanogaster dapat berwarna
hitam dan berwarna kuning. Pengamatan pada sayap didapatkan hasil bahwa mutan Drosophila melanogaster memiliki sayap
berbentuk keriting dan sayap sisa (sayap yang muncul hanya bagian ujung).
Pengamatan pada mata Drosophila
melanogaster mutan didapatkan
berwarna merah dan berberbentuk mata jatuh. Pengamatan pada bulu halus ditubuh Drosophila melanogaster didapatkan bahwa
bulu tegak yang panjang dan kebotakan pada bulu tubuh Drosophila melanogaster menandakan terjadinya mutasi. Anomali-anomali
yang diakibatkan terjadinya mutasi pada Drosophila
melanogaster disebabkan oleh terjadinya penyimpanan Mutasi adalah perubahan
atau kesalahan dalam urutan genom sel. Kesalah yang terjadi pada saat mutasi
terjadi di meiosis atau replikasi DNA, serta karena pengion atau radiasi UV ,
transposon , bahan kimia mutagenik dan virus. Mutasi biasanya (tetapi tidak
selalu) mengakibatkan perubahan organisme. Perubahan tersebut bisa dari
morfologi bentuk tubuh atau terjadi peerubahan sifat.
Lalat buah Drosophila
melanogaster normal (wild type)
memiliki mata berwarna merah. Namun, pada mutasi warna mata Drosophila melanogaster, telah diamati
warna mata lalat berwarna putih (tidak normal) akibat dari terjadinya mutasi.
Mutasi pada warna mata lalat buah karena terjadi perubahan materi genetic pada
kromosom nomor 3. Menurut Ashburner (Hotimah, dkk, 2017) menyatakan perbedaan
warna mata pada Drosophila melanogaster
disebabkan ada kelainan kromosom nomor 3, lokus 26.
Drosophila
melanogaster betina memiliki ukuran yang lebih beras dari pada jantan. Menurut
Testa (2013) menyatakan bahwa konsep dimorfisme (perbedaan ukuran jantan dan
betina) pada Drosophila melanogaster
betina dewasa secara signifikan lebih besar daripada jantan mereka. Ditemukan
bahwa pada Drosophila melanogaster terjadi
dimorfisme ukuran seksual ini muncul karena betina memulai metamorfosis pada
ukuran yang lebih besar daripada laki-laki. Betina Drosophila melanogaster memiliki ukuran yang lebih besar dan tumbuh
lebih cepat dari laki-laki dalam periode pertumbuhan larva. Perbedaan sistematik
luar antara individu yang berjenis kelamin jantan dan betina di spesies yang
sama yang dihasilkan pada puncak massa larva kemudian berkurang sebelum
metamorfosis karena betina kehilangan lebih banyak massa selama periode
pra-kepompong.
V.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan
yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mutasi adalah perubahan genetik yang terjadi
pada bahan genetik DNA maupun RNA serta kromosom, mutasi terjadi dalam taraf
urutan gen maupun dalam taraf mutasi kromosom. Mutasi pada tingkat kromosal
biasanya disebut aberasi. Mutasi pada gen dapat mengarah pada munculnya alel
baru dan menjadi dasar bagi kalangan pendukung evolusi mengenai munculnya variasi-variasi
baru pada spesies. Sifat dari hasil mutasi dapat diturunkan kepada keturunan.
2. Jantan pada lalat drosophila melanogaster Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila
dibandingkan dengan yang betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki
sisir kelamin. Sedangkan pada betina
ukuran relatif lebih besar, memiliki 6 ruas pada bagian abdomen dan tidak
memiliki sisir kelamin.
3. Drosophilla
melanogaster normal
memiliki mata merah, mata berbentuk berbentuk bulat dan berada dibagian atas
kepala, memiliki 2 antena, kepala berbentuk elips, memiliki corak belang belang
pada perut yang berwarna hitam dan sayap panjang dan lurus sedangkan pada Drosophilla melanogaster mutan memiliki warna tubuh berwarna hitam dan berwarna kuning,
berbentuk keriting dan sayap sisa (sayap yang muncul hanya bagian ujung), mata
berwarna merah dan berberbentuk mata jatuh, bulu tegak yang panjang dan
kebotakan pada bulu tubuh Drosophila
melanogaster menandakan terjadinya mutasi
B.
Saran
Saran
saya setelah mengikuti praktikum ini adalah:
1.
Untuk
praktikan agar selalu memperhatikan asisten ketika menjelaskan perihal
praktikum.
2.
Untuk
asisten pembimbing agar selalu memperhatikan kesehatan supaya dapat membimbing
praktikan dengan baik.
3. Untuk laboratorium agar selalu menjaga
kebersihan laboratorium dan selalu menciptakan rasa aman dan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, E., Nursalmi, M. dan Herdanawati, 2013, Perkembangan
Metamorphosis Lalat Buah (Drosophilla Melanogaster) Pada Media Biakan Alami
Sebagai Referensi Pembelajaran Pada Matakuliah Perkembangan Hewan, Jurnal
Biotik, 1(1): 1-66.
Oktary, A. P., M. Ridwan dan Armi, 2015, Ekstrak Daun Kirinyuh (Eupatorium
Odoratum) dan Lalat Buah (Drosophila Melanogaster), Serambi Akademica, 3(2): 335-342.
Purwatiningsih, H. H. dan Kartika, S., 2017, Deskripsi
Morfologi Drosophilla melanogaster Normal
(Diptera: Drosophilidae), Strain Sepia
dan Plum, Jurnal Ilmu Dasar,
18(1): 55–60.
Ramadani, S. D.,
Aloysius, D. C. dan Siti, Z., 2016, Pemanfaatan Drosophila Melanogaster Sebagai
Organisme Model Untuk Mempelajari Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Ekspresi
Sifat Makhluk Hidup Pada Perkuliahan Genetika, Jurnal Pendidikan: Teori,
Penelitian, Dan Pengembangan, 1(5): 806-813.
Safitri, D. dan Suhaedir, B, 2017, Pengaruh Penambahan Ragi
Pada Media Terhadap Perkembang Biakan Drosophila Melanogaster, Jurnal
Biology Science dan Education, 6(1): 45-51.
Stephenson dan M. H.,
Metcalfe, 2013, Drosophila Melanogaster: A Fly Through its History and Current
Use, J R Coll Physicians Edinb, 43(70): 1–5.
Suparman, Chumidach, R. dan Jainab, S., 2018, Indeks Isolasi
Sexual Antara Lalat Buah (Drosophila Melanogaster (Meigen)) dari Moya, Pulau
Ternate dan Gurabunga, Pulau Tidore, Saintifik, 3(1): 41-48.
Testa, N. D., Shampa,
N dan Alexander,W. S., 2013, Sex-Specific Weight Loss Mediates Sexual Size
Dimorphism in Drosophila Melanogaster, Plos One, 8(3): 1-5.
Ulhaq, M. A., 2018, Pengenalan Mutan Drosophila Melanogaster,
Genetika Penelitian, 1(2): 1-8.
Wahyuni, E. S., 2014, Pertumbuhan Lalat Buah (Drosopilla Sp.) pada Berbagai Media dan
Sumbangannya pada Pembelajaran Biologi di Sma, Media Penelitian, 1(1): 1-5.
Wahyuni, S., 2013,
Pengaruh Maternal Terhadap Viabilitas Lalat Buah (Drosophila Melanogastermeigen)Strain Vestigial (Vg), Jurnal
Penelitian Ilmiah, 1(1): 1-8.
Warmadewi, D. A.,2017, Buku Bahan Ajar Genetik.
Denpasar: Udayana Press.Hal 45








Komentar
Posting Komentar