I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Genetika merupakan ilmu pengetahuan dasar bagi ilmu terapan, misalnya pemulian tanaman dan hewan, masalah penyakit dan kelainan pada tubuh. Istilah- istilah yang biasa digunakan dalam bidang genetika seperti : gen, genotif, resesif, dominan, alel, homozigo dan lain-lain. Ciri-ciri suatu makhluk hidup yang dapat diamati dikendalikan oleh gen. organisme diploid setiap sifat fenotif dikendalikan oleh setidaknya satu pasang gen, satu anggota pasangan tersebut diwariskan dari setiap induknya. Pasangan genetic yang berpasang ini jika mengatur fenotif makhluk hidup disebut alel.

Alel yang merupakan kata dari bahasa belanda yaitu “allel” yang berarti berhadapan. alel adalah bentuk-bentuk lain dari suatu gen pada suatu lokus (posis gen dalam kromosom). Alel terbentuk karena adanya variasi pada urutan basa nitrogen akibat peristiwa mutasi. Kasus dimana Lokus tertentu dimungkinkan untuk memunculkan lebih dari hanya dua macam alel, sehingga lokus tersebut dikatakan memiliki sederetan alel.Fenomena semacam inilah yang disebut sebagai alel ganda.Meskipun demikian, pada individu diploid, yaitu individu yang tiap kromosomnya terdiri atas sepasang kromosom homolog, betapa pun banyaknya alel yang ada pada suatu lokus, yang muncul hanyalah sepasang.

Alel mengatur sistem golongan darah manusia yaitu system ABO. System ABO adalah system yang diatur oleh 3 macam alel yaitu, alel IA, IB dan IO dalam hereditas pada manusia. Alel IA dan alel IB memiliki sifat dominan, sementara alel IO sifatnya resesif. Nah, karena sifat alel A dan B dominan, sementara O resesif, kombinasi golongan darah manusia jadi ada 4 macam, yaitu A, B, AB, dan O. berdasarkan latar belakang maka dibuatlah percobaan alel ganda.

 

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang terdapat pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      bagaimana cara mengenal beberapa sifat keturuan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda?

2.      Bagaimana cara mengetahui cara menetapkan genotipe suatu individu?

C.    Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengenal beberapa sifat keturuan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda

2.      Untuk mengetahui cara menetapkan genotipe suatu individu.

D.    Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Dapat mengenal beberapa sifat keturuan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda

2.      Dapat mengetahui cara penetapan genotipe suatu individu.

  

 

II.    TINJAUAN PUSTAKA

A.    Alel

Alel merupakan sepasang gen yang terletak pada lokus yang berada pada kromosom homolog yang bertugas sebagai pembawa informasi genetik yang diturunkan. Informasi genetik tersebut akan diturunkan melalui rantai DNA yang tersusun dalam beberapa alel antara Adenin (A), Tiamin (T), Guanin (G) dan Cytosin (C). Alel Adenin (A) akan berpasangan dengan alel Tiamin (T) dan alel Guanin (G) akan berpasangan dengan alel Cytosin (C) (Atmojo, 2016). Bentuk alel sebuah gen nyaris selalu “ekspresikan” dengan mengkode sistesis suatu protein. Protein itu sendiri mempengaruhi fenotipe suatu organisme. Fenotipe jika beresonansi dengan sebuah alel (a) hanya jika alel alternatifnya (A) tidak dalam genotipe, alel a disebut resesif. Fenotipe yang diberikan oleh alel dominan (A) dapat teramati pada keadaan homozigot maupun heterozigot. Sifat dominasi dan sifat resesif dianggap sebagai keberadaan atau ketiadaan sebuah sifat protein maupun produk gen akan tetapi tidak ada mekanisme umum yang berlaku bagi semua kasus dominansi baik dari segi melekuler maupun seluler (Elfrod dan William, 2017).

 

B.     Golongan Darah

Darah merupakan salah satu komponen paling penting yang ada dalam tubuh, mengingat fungsinya sebagai alat transportasi. Kekurangan darah di dalam tubuh dapat memacu sejumlah penyakit dimulai dari anemia, hipotensi, serangan jantung, dan beberapa penyakit lainnya. Beberapa kasus lain seperti kecelakaan, luka bakar dan proses persalinan juga memerlukan tranfusi darah  akibat tingginya kemungkinan pendarahan. Terdapat dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan A-B-O dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen A-B-O dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian (Swastini, dkk, 2016).

Golongan darah merupakan karakteristik khusus dari sel darah merah memiliki kandungan protein dan karbohidrat berbeda. Informasi mengenai jenis golongan darah dan rhesus sangat penting diketahui khususnya dalam proses transfusi darah. Hal ini dikarenakan untuk menghindari reaksi imunologik karena perbedaan komposisi kimia eritrosit antara resipien dan donor.  Pada sistem golongan darah ABO, berdasarkan aglutinasi antara antigen pada sel darah merah normal (aglutinogen) dan antibody dalam serum individu normal (aglutinin). Antigen pada sel darah merah berupa antigen A dan antigen B. Individu yang bergolonga darah A memiliki atigen A pada sel darah merahnya dan antibodi anti-B dalam serumnya yang dapat diaglutinasi oleh darah individu golongan darah O tidak memiliki baik antigen A maupun antigen B pada sel darah merahnya. Individu golongan darah AB akan memiliki kedua antigen A dan B pada sel darah merahnya (Suyasa, dkk, 2017).

C.    Metode Penentuan Golongan Darah

Golongan darah ABO pada manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, yaitu golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A dipermukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Golongan darah B memiliki antigen B di permukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B di permukaan eritrositnya serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun antigen B dalam serum darahnya. Sedangkan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tetapi dalam serumnya terdapat antibodi terhadap antigen A dan B. (Nadia et al,2010, dalam Rahman, 2019).

Pemeriksaan golongan darah dilakukan dengan melakukan pengujian aglutinasi atau penggumpalan darah terhadap antigen yang didifusikan dalam cairan sel darah merah. Umumnya penentuan golongan darah ABO ialah dengan menggunakan metode slide, metode slide merupakan salah satu metode yang sederhana, cepat dan mudah untuk pemeriksaan golongan darah3.  Aglutinasi adalah penggumpalan sel darah merah yang disebabkan oleh ikatan antibodi dengan antigen pada sel darah merah sehingga menghasilkan ikatan yang menggandeng beberapa sel secara bersama-sama (Raehun, dkk, 2019).

 

III. METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa,  23 November 2020 pukul 15.30 sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Genetika, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.

 

B.     Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

1

2

3

1.

Laptop

Sebagai media pembelajarn online

3.

Kamera

Sebagai alat dokumentasi

4.

Jarum Frankle

Sebagai alat penusuk jari

5.

Alat Tulis

Sebagai alat menulis hasil pengamatan

 

C.    Bahan Praktikum

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan dan kegunaanya

No

Nama Bahan

Kegunaan

1

2

3

1.

Darah  

Sebagai media pengamatan

3.

Alkohol 70%

Sebagai media sterilisasi untuk jari tangan

4.

Kapas

Sebagai pembersih

5.

Blood Lancet

Sebagai bahan untuk mengambil darah

6.

Kartu Golongan Darah

Sebagai wadah darah

7.

Serum anti A, B dan AB

Untuk menentukan golongan darah

 

D.    Prosedur Kerja

1.      Siapkan alat dan bahan.

2.      Bersihkan salah satu dari jari-jari tangan  kiri dengan kapas yang telah dibasahi alkohol 70%, selanjutnya biarkan hingga mengering.

3.      Uji tiap golongan darah mahasiswa dengan mengambil darah dari jari menggunakan bood lancet dengan meneteskannya pada kartu golongan darah dan meneteskan serum anti A, B dan AB.

4.      Amati adanya penggumpalan atau tidak, yang terjadi pada kartu golongan darah.

5.      Kumpulkan data golongan darah dan tuliskan pada table pengamatan.

6.      Hitung frekuensi alel golongan darah dalam satu kelas dengan persamaan berikut:

p + q + r = 1

ket:

p = gol. Darah A

q = gol. Darah B

r = gol. Darah O

7.      Hitung presentase golongan darah dalam satu kelas menggunakan rumus berikut:

Frekuensi genotip = frekuensi alel x 100%.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan golongan darah dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Golongan Darah

No

Nama

Jenis Kelamin

Golongan Darah

A

B

AB

O

1

2

3

4

5

6

7

1

Mathilda Theressa Gultom

P

ü

2

Raysa Maharani

P

ü

3

Stephania Gorreti Sa'panga

P

ü

4

Wahyuni Mudri

P

ü

5

Adrian Yani

L

ü

6

Rismayanti

P

ü

7

Qunfayakum Adam

L

 

 

ü

 

8

Nur Amalia

P

 

 

 

ü

9

Nur Mufliha Alsira Alimin

P

 

ü

 

 

10

Arini Islamiyah

P

ü

 

 

 

11

Isra Rahmawati

P

 

 

 

ü

12

Wa Ode Nabila Yastarini

P

 

 

 

ü

13

Windi Nuhgra Pratiwi

P

ü

 

 

 

14

Muh. Farij

L

 

 

 

ü

15

Muhammad Syadikin

L

 

 

 

ü

16

Yutriana Putri

P

ü

 

 

 

17

Wa Ode Suratmin

P

 

 

ü

 

18

Nur Islamiah

P

ü

 

 

 

 

Jumlah Total

 

5

3

3

7

 

Presentase

28%

17%

17%

39%

 

1.      Analisis Data Golongan Darah

Dik:          

Golongan Darah A (p)      = 5

Golongan Darah B (q)                  = 3

Golongan Darah AB (pq)             = 3

Golongan Darah O (r)                   = 7

Jumlah ()                         = 18

Dit:      a.Frekuensi Alel?

                        b. Frekuensi Genotip?

a.       Frekuensi Alel

·         r2             =   = 0.39

r              = = 0.62

·         (p + r)2 =  = 0.67

P + r =  = 0.82

P + r = 0.82

P + (0.61) = 0.82

P = 0.82 – 0.67

P = 0.15

P2 = 0.0225

·         P + q + r  = 1

q + p + r  = 1

q + (0.82)= 1

q       = 1 – 0.82

q       = 0.18

q2        = 0. 0324

·         2pq   = 2 (0.15)(0.18)

2pq   = 2 (0.027)

2pq   = 0.054

·         2qr    = 2 (0.18)(0.67)

= 2(0.12)

= 0.24                   

·         2pr    = 2 ( 0.15) (0.67)

= 2(0.1)

= 0.2

Berdasarkan hukum Hardy-Weinberg maka:

p2 + q2 + 2pq + 2pr + 2qr + r2                                              = 1

(0.0225) + (0. 0324) + (0.054) + (0.2) + (0.24) + (0.39)     = 1

b. Frekuensi Genotip

· Golongan darah A homozigot (p2)      =  p2 × 100%

                                                                        =  (0.0225) x 100%     = 2,25%

· Golongan darah A heterozigot (2pr)   =  2pr × 100%

                                                          =  (0.2) ×  100%          = 20%

· Golongan darah B homozigot (q2)      =  q2 × 100%

                                                           =  (0. 0324) × 100%   =  3,24%

· Golongan darah B heterozigot (2qr)   =  2qr × 100%

                                                        =  (0,24) × 100%         = 24%

· Golongan darah AB (2pq)                  =  2pq × 100%

                                                                        = (0,0324) ×  100%     = 3.24%

· Golongan darah O (r2)                         =  r2 × 100%

                                                                        =  (0,039) ×  100%      = 39%

 

B.     Pembahasan

Alel adalah pasangan gen yang terletak dalam lokus yang bersesuaian pada kromosom homolog dengan tugas yang sama atau berlawanan untuk suatu sifat tertentu. Susunan gen dan alelnya dalam kromosom homolog disebut genotip. Setiap individu memiliki tiga kemungkinan genotip yaitu, Genotipe homozigot dominan, dengan pasangan alel terdiri atas dua gen dominan, genotipe homozigot resesif dengan pasangan alel terdiri atas dua gen resesif dan genotipe heterozigot, dengan pasangan alel terdiri atas dua gen berbeda, yaitu satu dominan dengan satu resesif. Huruf kapital dalam penulisan pewarisan sifat melambangkan genotipe homozigot dominan dan alel gen resesif selalu di lambangkan dengan huruf kecil, Contoh yaitu aA Genotipe heterozigot, dengan pasangan alel terdiri atas dua gen berbeda, yaitu satu dominan dengan satu resesif.

Alel dapat menunjukkan derajat dominansi dan keresesifan yang berbedabeda satu sama lain. Persilangan kacang ercis Mendel keturunan F1 selalu terlihat seperti salah satu dari kedua varietas induk sebab salah satu alel dalam satu alel tersebut menunjukkan dominani sempurna terhadap alel yang satu lagi. Dalam situasi semacam itu, fenotip heterozigot dan homozigot dominan tidak dapat dibedakan. Alel memiliki dua macam jenis, yaitu Alel tunggal dengan gen yang hanya memiliki satu gen sealel sehingga hanya muncul satu sifat saja, contoh gen A untuk pigmentasi kulit dan gen a tidak menghasilkan pigmentasi kulit. Alel ganda, yaitu gen yang memiliki lebih dari dua pasang gen sealel dan menempati lokus yang sama, alel memunculkan beberapa sifat, contoh yaitu golongan darah sistem ABO pada manusia. Menurut mutiawati (2013) Sistem golongan darah ABO terdiri dari tiga alel yaitu A, B, O dan AB. Gen A dan B mengendalikan sintesis enzim spesifik yang bertanggung jawab untuk penambahan residu karbohidrat tunggal (N-asetil galaktosamin untuk golongan A dan D-galaktosa untuk golongan B) pada glikoprotein atau glikolipid antigenik dasar dengan gula terminal L-fruktosa pada eritrosit dikenal sebagai substansi H.

Penentuan golongan darah didasarkan pada adanya glikoprotein yang ada di permukaan sel darah merah. Orang yang bergolongan darah A memiliki glikoprotein jenis A di permukaan sel darah merahnya sedangkan orang yang bergolongan darah B memiliki glikoprotein jenis B di permukaan sel darahnya. Pernikahan seorang Jaki-laki bergolongan darah A dengan perempuan bergolongan darah B akan menghasilkan anak bergolongan darah AB. Permukaan sel darah merah pada golongan darah AB memiliki glikoprotein A dan 6 di permukaan selnya. Adanya glikoprotein A dan B di permukaan sel darah merah menunjukkan baik alel A dan B samasarna terekspresi pada kondisi heterozigot atau dapat dikatakan kedua alel tersebut sama-sama dominan (kodominan). Hal ini sesuai dengan jurnal Widiyanti, dkk (2019) menyatakan bahwa  Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, golongan darah tersebut dibagi menjadi 4 golongan yaitu golongan darah A , B , AB dan O. Sebelum lahir, molekul protein yang ditentukan secara genetik disebut antigen, antigen ini muncul dipermukaan membran sel darah merah yang akan menentukan jenis darah seseorang. Antigen ini, tipe A dan tipe B bereaksi dengan antibodi pasangannya, yang mulai terlihat sekitar 2 sampai 8 bulan setelah lahir. Klasifikasi golongan darah ABO ditentukan berdasarkan ada tidaknya aglutinogen (antigen tipe A dan tipe B) yang ditemukan pada permukaan eritrosit dan aglutinin (antibodi) antiA dan anti-B, yang ditemukan dalam plasma.

Berdasarkan hasil pengamatan pada golongan darah mahasiswa dalam satu kelas yang berjumlah 38 orang, di dapatkan hasil yaitu mahasiswa yang bergolongan darah O sebanyak 7 orang dengan frekuensi alel sebesar 0,62, mahasiswa yang bergolongan darah A sebanyak 5 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.15, mahasiswa yang bergolongan darah B sebanyak 3 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.18 dan orang bergolongan darah AB sebanyak 3 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.054. Berdasarkan data di ketahui bahwa pemilik golongan darah O paling banyak yaitu 7 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.62 dan golongan darah B dan AB paling sedikit yaitu masing-masing 3 orang dengan frekuensi alel berturut-turut sebanyak 0.18 dan 0.0054. Golongan darah O mendominasi data karena golongan darah O yang tidak membawa senyawa aglutinogen. Hal ini sesuai dengan jurnal Sulastri (2018), golongan darahnya O menjadi kelompok yang infertil. Golongan darah O memiliki eritrosit yang tidak mempunyai aglutinogen sehingga tidak dapat bereaksi dengan salah satu serum anti-A atau anti-B. Golongan darah A mempunyai aglutinogen-A sehingga beraglutinasi dengan aglutinin anti-A.

Golongan darah A dan B merupakan golongan darah dengan sifat dominan dan golongan darah O merupakan golongan darah dengan sifat resesif, dimana golongan darah A atau B jika berpasangan dengan golongan darah O akan memuncukan sifat A atau B heterozigot dan golongan darah A dan B jika bertemu akan memuculkan sifat golongan farah AB. Hal ini sesuai dengan jurnal Raditya (2014), dalam pewarisan sifat golongan darah alel A dan alel B memiliki memiliki sifat yang dominan, dan alel 0 merupakan alel yang bersifat resesif. Apabila alel A berpasangan dengan alel 0 maka sifat golongan darah A yang akan muncul, begitu pula degan alel B apabila berpasangan dengan alel 0 maka sifat golongan darah B yang akan muncul. Alel A dan juga alel B memiliki sifat dominan yang sama, sehingga apabila alel A dan alel B berpasangan maka akan muncul sifat golongan darah AB. Sifat alel 0 yang resesif sehingga golongan darah 0 hanya bisa terbentuk dari pasangan dua alel 0.

Pemeriksaan pengujian tipe golongan  darah di presentasikan berdasarkan sistem ABO dan Rhesus (D), secara umum  terdapat 4 jenis golongan darah dan 2 jenis rhesus golongan darah yang terdapat dalam tubuh  manusia meskipun adanya beberapa jenis penggolongan darah lain lagi yang diketahui ditemukan pada sebagian kecil kelompok (Handono, dkk, 2017). Penentuan golongan darah manusia berdasarkan rheseus dilakukan dengan mengukur derajat aglutinogen (senyawa yang menjadi faktor penggumpalan darah) resus di dalam darah. Sistem resus atau biasa disebut sistem rh, sistem rh diukur dengan melihat apakah orang tersebut memiliki aglutinogen resus maka orang tersebut termasuk dalam golongan resus positif (rh+), sedangkan apabila orang tersebut tidak memiliki aglutinogen resus, maka orang tersebut termasuk dalam golongan resus negatif (rh-). Metode penentuan darah dengan sistem ini yang umum digunakan adalah metode slide. Menurut Oktari dan Silvia (2016), Pemeriksaan golongan darah ABO dilakukan untuk menentukan jenis golongan darah pada manusia. Penentuan golongan darah ABO pada umumnya dengan menggunakan metode Slide. Metode ini didasarkan pada prinsip reaksi antara aglutinogen (antigen) pada permukaan eritrosit dengan aglutinin yang terdapat dalam serum atau plasma yang membentuk aglutinasi atau gumpalan. Metode slide merupakan salah satu metode yang sederhana, cepat dan mudah untuk pemeriksaan golongan darah   

Sistem penggolongan darah berguna untuk membantu melakukan proses transfusi darah. Transfusi darah dari orang yang bergolongan darah resus positif kepada orang yang bergolongan darah resus negatife menyebabakan terjadi rangsangan untuk pembentukan antibodi Rh, Bila penerima darah (resipien) mendapatkan transfusi darah lagi dengan golongan resus positif, maka akan terjadi hemaglutinasi (penggumpalan darah) yang berakibat pada kematian. Hal ini sesuai dengan jurnal Erina, dkk (2018) menyatakan bahwa, hemaglutinasi merupakan proses penggumpalan sel darah merah yang terlihat seperti butir-butir pasir.

V.    PENUTUP

A.    Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

2.      Bebrapa sifat pada manusia ditentukan oleh seri alel ganda adalah pewarisan sifat golongan darah system ABO. Golongan darah ABO pada manusia ditentukan oleh tiga alel yaitu alel IA, alel IB dan alel Io.

3.      Penetapan genotip suatu individu tergantung dari seri dominasi (sifat alel resesif dan sifat dominan) dari perangkat alelnya.

 

B.     Saran

Adapun saran yang dapat saya berikan pada praktikum ini adalah sebagai berikut

1.      Saran untuk praktikan yang masuk kedalam laboratorium, yaitu agar tetap menjaga suasana dalam laboratorium agar tetap tenang dan melakukan pengamatan dengan teliti agar data pengamatan yang diperoleh lebih jelas dan akurat.

2.      Saran untuk asisten pembimbing yaitu agar kiranya dapat memperhatikan praktikan saat melakukan praktikum dan memberikan instruksi mengenai bahan atau alat yang akan digunakan dengan jelas agar tidak terjadi salah presepsi oleh praktikan.

3.      Saran untuk laboratorium yaitu agar kiranya dapat menyediakan kursi dan meja yang lebih baik agar asisten dapat duduk saat menjelaskan.

 

 

Komentar