I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Genetika  adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada makhluk hidup. Secara singkat dapat juga dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang gen dan segala aspeknya. Genetika juga mempelajari tentang perubahan genetik dengan ranah populasi (antar individu) yang disebut genetika populasi. Genetika Populasi adalah cabang genetika yang membahas transmisi bahan genetik pada ranah populasi. Genetika populasi dapat dikelompokkan sebagai cabang genetika yang berfokus pada pewarisan genetik. genetika populasi berusaha menjelaskan implikasi yang terjadi terhadap bahan genetik akibat saling kawin yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi yang menempati suatu wilayah.

Genetika Populasi didasarkan pada Hukum Hardy-Weinberg, yang diperkenalkan pertama kali oleh Wilhelm Weinberg (1908) dan Godfrey Hardy (1908) diwaktu yang hamper bersamaan. Asas Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel dan frekuensi genotipe dalam suatu populasi akan tetap konstan, yakni berada dalam kesetimbangan dari satu generasi ke generasi lainnya kecuali apabila terdapat pengaruh-pengaruh tertentu yang mengganggu kesetimbangan tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut meliputi perkawinan tak acak, mutasi, seleksi, ukuran populasi terbatas, hanyutan genetik, dan aliran gen.

 Kesetimbangan Hardy-Weinberg sangatlah tidak mungkin terjadi di alam karena pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu kesetimbangan asas Hardy-Weinberg selalu ada. Kesetimbangan genetik adalah suatu keadaan ideal yang dapat dijadikan sebagai garis dasar untuk mengukur perubahan genetik. Frekuensi alel yang statis dalam suatu populasi dari generasi ke generasi mengasumsikan adanya perkawinan acak, tidak adanya mutasi, tidak adanya migrasi ataupun emigrasi, populasi yang besarnya tak terhingga, dan ketiadaan tekanan seleksi terhadap sifat-sifat tertentu. Berdasarkan latar belakang maka perlu dilakukan praktikum untuk mengetahui cara menghitung frekuensi gen, sifat morfologi dan sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy – Weinberg.

 

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang ingin dicapai adalah bagaimana mengetahui cara menghitung frekuensi gen, sifat morfologi dan sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy – Weinberg?

 

C.    Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui cara menghitung frekuensi gen, sifat morfologi dan sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy – Weinberg.

 

D.    Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara menghitung frekuensi gen, sifat morfologi dan sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy – Weinberg.

  

II.    TINJAUAN PUSTAKA

A.    Genetika Populasi

Populasi adalah sekumpulan individu sejenis (spesies) yang memiliki kemampuan bereproduksi di antara sesamanya, yang mendiami suatu ekosistem pada selang waktu tertentu. Konsep ini digunakan dalam salah satu konsep genetika terapan, yaitu genetika populasi. Genetika populasi adalah cabang ilmu genetika yang membahas transmisi bahan genetik pada ranah populasi. Ilmu ini membicarakan implikasi hukum pewarisan sifat apabila di terapkan pada sekumpulan individu sejenis di suatu tempat. Genetika populasi menjelaskan implikasi yang terjadi pada bahan genetik akibat perkawinan silang yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi. Genetika populasi di dasarkan pada hukum Hardy-Weinberg, yang memperkenalkan secara terpisah pada tahun 1908 oleh Wilhelm Weinberg dan Godfrey Hardy (Irmawati,2016).

 

B.     Keanekaragaman Genetik

keragaman genetik dalam suatu populasi bararti terdapat variasi nilai genotip antar individu dalam populasi tersebut. Hal tersebut merupakan syarat agar seleksi di dalam populasi tersebut berhasil seperti yang direncanakan. Semakin tinggi keragaman genetik pada populasi maka semakin besar pula kemungkinan kombinasi sifat-sifat yang diperoleh. Keragaman yang terdapat dalam populasi biasanya disebabkan oleh pengaruh lingkungan yaitu karena kondisi tempat tinggal organisme tersebut tidak seragam dan tidak konstan, sehingga seringkali mangaburkan sifat genetik yang dimiliki oleh suatu organisme (Apriliyanti, dkk, 2016). Keragaman genetik dapat memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan genotip yang lebih baik melalui seleksi. Keragaman karakter dan keanekaragaman genotip berguna untuk mengetahui pola pengelompokan genotip pada populasi tertentu berdasarkan karakter yang diamati dan  dapat dijadikan sebagai dasar kegiatan seleksi (Effendi, dkk, 2018).

 

C.    Hukum Hardy-Weinberg

Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa di bawah suatu kondisi yang stabil, baik frekuensi gen maupun perbandingan genotip akan tetap (konstan) dari generasi ke generasi pada populasi yang berbiak secara seksual. Syarat berlakunya asas Hardy-Weinberg, Setiap gen mempunyai viabilitas dan fertilitas yang sama, perkawinan terjadi secara acak, tidak terjadi mutasi gen atau frekuensi terjadinya mutasi, sama besar, tidak terjadi migrasi, jumlah individu dari suatu populasi selalu besar Jika lima syarat yang diajukan dalam kesetimbangan Hardy Weinberg tadi banyak dilanggar, jelas akan terjadi evolusi pada populasi tersebut, yang akan menyebabkan perubahan perbandingan alel dalam populasi tersebut (Panggabean, 2016).

Hukum Hardy-Weinberg menyebutkan apabila tidak ada faktor-faktor yang dapat mengubah frekuensi gen pada suatu populasi, dan populasi tersebut mengadakan perkawinan secara acak dari generasi kegenerasi berikutnya maka frekuensi gen tersebut tidak akan mengalami perubahan. Faktor-faktor yang dapat mengubah frekuensi gen dalam suatu populasi adalah adanya mutasi, seleksi, migrasi, dan random driff (Mulliadi dan Arifin, 2013).

D.    Syarat Evolusi dalam Hukum Hardy Weinberg

Populasi dikatakan memenuhi Hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, apabila terjadinya kawin acak diantara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotip yang sama maupun berbeda dengannya. Melalui sistem kawin acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Selain kawin acak, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi berlakunya hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi, mutasi, dan seleksi. Penting untuk dimengerti bahwa di luar laboratorium, satu atau lebih pengaruh ini akan selalu ada. Kesetimbangan Hardy-Weinberg sangatlah tidak mungkin terjadi di alam. Kesetimbangan genetik adalah suatu keadaan ideal yang dapat dijadikan sebagai garis dasar untuk mengukur perubahan genetic (Cintamulya, 2013).


III. METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa,  24 November 2020 pukul 15.30 sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Genetika, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.

 

B.     Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1.Alat dan kegunaannya

No

Nama Alat

Jumlah

Kegunaan

1

2

3

4

1.

Jarum Frankle

21

Untuk mengambil sampel darah

2.

Laptop atau HP

1

Sebagai media pembelajaran online

3.

Kamera

1

Sebagai alat dokumentasi

4.

Alat Tulis

1

Sebagai alat menulis hasil pengamatan

 

C.    Bahan  Praktikum

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2.Bahan dan kegunaannya

No.

Nama Bahan

 

Satuan

Kegunaan

1

2

 

3

4

1.

Darah

 

mL

Sebagai objek pengamatan

2.

Alkohol 70%

 

mL

Sebagai desinfektan

3.

Kapas

 

gr

Untuk membersihkan tangan

4.

Tusuk gigi

 

-

Untuk meneteskan darah ke slide pengamatan

5.

Kartu golongan darah

 

-

Untuk mengidentifikasi golongan darah

6.

Serum Anti A, Anti B dan Anti AB

 

mL

Sebagai indikator penguji golongan darah

7.

Blood lancet

 

-

Untuk mengambil sampel darah

D.    Prosedur  Kerja

Prosedur kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.      Menyiapkan alat dan bahan.

2.      Membersihkan salah satu dari jari-jari tangan kiri dengan kapas yang telah dibasahi alkohol 70%, selanjutnya dibiarkan hingga mengering.

3.      Menguji tiap golongan darah mahasiswa dengan mengambil darah dari jari menggunakan bood lancet dengan meneteskannya pada kartu golongan darah dan meneteskan serum anti A, B dan AB.

4.      Mengamati adanya penggumpalan atau tidak, yang terjadi pada slide golongan darah.

5.      Mengumpulkan data golongan darah dan menuliskannya pada tabel pengamatan.

6.      Menghitung persentase golongan darah dalam satu kelas.

7.      Mengumpulkan data yang berupa golongan darah, pola telinga, (yang memiliki earlobe attachment dominan (bagian bawah telinga menempel pada leher)), pola lidah yaitu yang memiliki tongue rolling dominan (lidah dapat menggulung) maupun resesif (lidah tidak dapat menggulung) didata pada tabel pengamatan.

8.      Setelah didapat data yang lengkap, data tersebut diolah berdasarkan hukum Hardy-Weinberg.

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan fenotip lidah menggulung dan tidak menggulung dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Fenotip Lidah Menggulung dan Tidak Menggulung

No

Nama

Jenis Kelamin

Fenotipe Lidah

Dapat Menggulung

Tidak dapat menggulung

1

2

3

4

5

1

Mathilda Theressa Gultom

P

ü

-

2

Wa Ode Fania

P

ü

-

3

Raysa Maharani

P

ü

-

4

Stephania Gorreti Sa'panga

P

ü

-

5

Wahyuni Mudri

P

-

ü

6

Adrian Yani

L

-

ü

7

Nurul Maghfirah Miftahul Jannah

P

-

ü

8

Rismayanti

P

-

ü

9

Qunfayakum Adam

L

-

ü

10

Muhammad Nur Ilham Putra

L

ü

-

11

Nur Amalia

P

ü

-

12

Nur Mufliha Alsira Alimin

P

ü

-

13

Nur Auliya Habibah

P

-

ü

14

Yusriani Pupita

P

ü

-

15

Arini Islamiyah

P

-

ü

16

Hasma

P

ü

-

17

Muh Nabil Izdihar

L

ü

-

18

Trifena Ervin Purwasih

P

ü

-

19

Anawai Inuanggi

P

ü

-

20

Isra Rahmawati

P

-

ü

21

Alfia Kurniati

P

ü

-

22

Petimayanti

P

-

ü

23

Asnaeni

P

ü

-

24

Wa Esi

P

-

ü

25

Jamilah

P

-

ü

26

Fatma Indah Hayani

P

-

ü

27

Wa Ode Nabila Yastarini

P

ü

-

 

Lanjutan, Tabel 3

1

2

3

4

5

28

Windi Nuhgra Pratiwi

P

ü

-

29

Kartina

P

-

ü

30

Muh. Farij

L

-

ü

31

Muhammad Syadikin

L

ü

-

32

Yutriana Putri

P

ü

-

33

Ririn Reski Sukmawati

P

ü

-

34

Ade Putri

P

-

ü

35

Wa Ode Suratmin

P

ü

-

36

Muh. Mufadhol Din Fahril

L

-

ü

37

Nur Islamiah

P

-

ü

38

Suhardin

L

ü

-

Jumlah

 

21 orang

17 orang

Presentasi

 

55 %

45 %

 

Hasil pengamatan fenotip telinga menggantung dan telinga melekat dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Fenotipe Telinga Menggantung dan Telinga Melekat

No

Nama

Jenis Kelamin

Fenotipe Telinga

Telinga Menggantung

Telinga Melekat

1

2

3

4

5

1

Mathilda Theressa Gultom

P

ü

-

2

Wa Ode Fania

P

ü

-

3

Raysa Maharani

P

ü

-

4

Stephania Gorreti Sa'panga

P

 

ü

5

Wahyuni Mudri

P

ü

-

6

Adrian Yani

L

ü

-

7

Nurul Maghfirah Miftahul Jannah

P

ü

-

8

Rismayanti

P

ü

-

9

Qunfayakum Adam

L

ü

-

10

Muhammad Nur Ilham Putra

L

-

ü

11

Nur Amalia

P

-

ü

12

Nur Mufliha Alsira Alimin

P

ü

-

13

Nur Auliya Habibah

P

ü

-

14

Yusriani Pupita

P

 

ü

15

Arini Islamiyah

P

ü

-

16

Hasma

P

ü

-

17

Muh Nabil Izdihar

L

-

ü

18

Trifena Ervin Purwasih

P

ü

-

Lanjutan, Tabel  4

1

2

3

4

5

19

Anawai Inuanggi

P

ü

-

20

Isra Rahmawati

P

ü

-

21

Alfia Kurniati

P

-

ü

22

Petimayanti

p

ü

-

23

Asnaeni

p

ü

-

24

Wa Esi  

p

ü

-

25

Jamilah

P

-

ü

26

Fatma Indah Hayani

P

ü

-

27

Wa Ode Nabila Yastarini

P

ü

-

28

Windi Nuhgra Dwi Pratiwi

P

-

ü

29

Kartina

P

ü

-

30

Muh Farij

L

ü

-

31

Muhammad Syadikin

L

ü

-

32

Yutriana Putri

P

ü

-

33

Ririn Reski Sukmawati

P

ü

-

34

Ade Putri

P

-

ü

35

Wa Ode Suratmin

P

-

ü

36

Muh Mufadhol Din Fahril

L

ü

-

37

Nur Islamiah

P

-

ü

38

Suhardin

L

ü

-

Jumlah

 

26 orang

12 orang

Presentasi

 

68 %

32%

 

Hasil pengamatan fenotip buta warna dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Fenotip Buta Warna

No

Nama

Jenis Kelamin

Fenotipe Buta Warna

Buta Warna

Tidak Buta Warna

1

2

3

4

5

1

Mathilda Theressa Gultom

P

-

ü

2

Wa Ode Fania

P

-

ü

3

Raysa Maharani

P

-

ü

4

Stephania Gorreti Sa'panga

P

-

ü

5

Wahyuni Mudri

P

-

ü

6

Adrian Yani

L

-

ü

7

Nurul Maghfirah Miftahul Jannah

P

-

ü

8

Rismayanti

P

-

ü

9

Qunfayakum Adam

L

-

ü

10

Muhammad Nur Ilham Putra

L

-

ü

 

Lanjutan, Tabel 5

1

2

3

4

5

11

Nur Amalia

P

-

ü

12

Nur Mufliha Alsira Alimin

P

-

ü

13

Nur Auliya Habibah

P

-

ü

14

Yusriani Pupita

P

-

ü

15

Arini Islamiyah

P

-

ü

16

Hasma

P

-

ü

17

Muh Nabil Izdihar

L

-

ü

18

Trifena Ervin Purwasih

P

-

ü

19

Anawai Inuanggi

P

-

ü

20

Isra Rahmawati

P

-

ü

21

Alfia Kurniati

P

-

ü

22

Petimayanti

P

-

ü

23

Asnaeni

P

-

ü

24

Wa Esi

P

-

ü

25

Jamilah

P

-

ü

26

Fatma Indah Hayani

P

-

ü

27

Wa Ode Nabila Yastarini

P

-

ü

28

Windi Nuhgra Pratiwi

P

-

ü

29

Kartina

P

-

ü

30

Muh. Farij

L

-

ü

32

Muhammad Syadikin

L

-

ü

33

Ririn Reski Sukmawati

P

-

ü

34

Ade Putri

P

-

ü

35

Wa Ode Suratmin

P

-

ü

36

Muh. Mufadhol Din Fahril

L

-

ü

37

Nur Islamiah

P

-

ü

38

Suhardin

L

-

ü

Jumlah

 

-

38 orang

Presentasi

 

0 %

100%

 

Hasil pengamatan golongan darah dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Pengamatan Golongan Darah

No

Nama

Jenis Kelamin

Golongan Darah

A

B

AB

O

1

2

3

4

5

6

7

1

Mathilda Theressa Gultom

P

ü

2

Raysa Maharani

P

ü

3

Stephania Gorreti Sa'panga

P

ü

4

Wahyuni Mudri

P

ü

5

Adrian Yani

L

ü

6

Rismayanti

P

ü

Lanjutan, Tabel 6

1

2

3

4

5

6

7

7

Qunfayakum Adam

L

ü

8

Nur Amalia

P

ü

9

Nur Mufliha Alsira Alimin

P

ü

10

Arini Islamiyah

P

ü

11

Isra Rahmawati

P

ü

12

Wa Ode Nabila Yastarini

P

ü

13

Windi Nuhgra Pratiwi

P

ü

14

Muh. Farij

L

ü

15

Muhammad Syadikin

L

ü

16

Yutriana Putri

P

ü

17

Wa Ode Suratmin

P

ü

18

Nur Islamiah

P

ü

Jumlah Total

5

3

3

7

Presentase

28%

17%

17%

39%

 

1.      Analisis data untuk Telinga menggantung dan telinga melekat

Dik: Telinga yang menggantung (P) = 26 orang

       Telinga yang melekat  (q) = 12 orang

Jumlah data(n)                        = 38

Dit: a.Frekuensi Alel ?

      b. Frekuensi Genotip ?

jawab.

A.    Frekuensi Alel

P2 = =  0.68

P =  = 0.82

P + q = 1

q = 1- 0.82= 0.18

q2 = 0,03

p2 + 2Pq + q2 = 1                 

 0.68 + 2(0.82)(0.18) + 0.03 = 1

 0.68 + 0.29 + 0.03 = 1

1 = 1

B.     Frekuensi Genotip

Telinga yang menggantung (P2) = 0.68 x 100%  = 68%

Telinga yang melekat (q2) = 0,03 x 100% = 3%

Telinga menggantung genotip heterozigot (2Pq) = 0.29 x 100% = 29%

2.      Analisis data untuk lidah menggulung dan lidah tidak menggulung

Dik: Lidah yang menggulung (P) = 21 orang

      Lidah tidak dapat menggulung (q) = 17 orang

      Jumlah data     = 38

Dit: a. Frekuensi Alel ?

      b. Frekuensi Genotip ?

jawab.

A.    Frekuensi Alel

P2 = =  0.55

P =  = 0,74

P + q = 1

q = 1- 0.74= 0.26

q2 = 0,067

p2 + 2Pq + q2 = 1

 0.55 + 2(0.76)(0.26) + 0.067 = 1

 0.55 + 0.384 + 0. 067 = 1

1 = 1

B.     Frekuensi Genotip

Lidah yang menggulung (P2) = 0,55 x 100%  = 55%

Lidah yang tidak menggulung (q2) = 0,067 x 100% = 6. 7%

Lidah menggulung genotip heterozigot (2Pq) = 0.384 x 100% = 38.4%

3.      Analisis Data Golongan Darah

Dik:          

Golongan Darah A (p)      = 5

Golongan Darah B (q)      = 3

Golongan Darah AB (pq) = 3

Golongan Darah O (r)       = 7

Jumlah ()                         = 18

Dit:      a.Frekuensi Alel?

                        b. Frekuensi Genotip?

a.       Frekuensi Alel

·         r2             =   = 0.39

r              = = 0.62

·         (p + r)2 =  = 0.67

P + r =  = 0.82

P + r = 0.82

P + (0.61) = 0.82

P = 0.82 – 0.67

P = 0.15

P2 = 0.0225

·         P + q + r  = 1

q + p + r  = 1

q + (0.82)= 1

q       = 1 – 0.82

q       = 0.18

q2        = 0. 0324

·         2pq   = 2 (0.15)(0.18)

2pq   = 2 (0.027)

2pq   = 0.054

·         2qr    = 2 (0.18)(0.67)

= 2(0.12)

= 0.24                   

·         2pr    = 2 ( 0.15) (0.67)

= 2(0.1)

= 0.2

Berdasarkan hukum Hardy-Weinberg maka:

p2 + q2 + 2pq + 2pr + 2qr + r2                                              = 1

(0.0225) + (0. 0324) + (0.054) + (0.2) + (0.24) + (0.39)     = 1

b. Frekuensi Genotip

· Golongan darah A homozigot (p2)      =  p2 × 100%

                                                                        =  (0.0225) x 100%     = 2,25%

· Golongan darah A heterozigot (2pr)   =  2pr × 100%

                                                          =  (0.2) ×  100%          = 20%

· Golongan darah B homozigot (q2)      =  q2 × 100%

                                                           =  (0. 0324) × 100%   =  3,24%

· Golongan darah B heterozigot (2qr)   =  2qr × 100%

                                                        =  (0,24) × 100%         = 24%

· Golongan darah AB (2pq)                  =  2pq × 100%

                                                                        = (0,0324) ×  100%     = 3.24%

· Golongan darah O (r2)                         =  r2 × 100%

                                                                        =  (0,039) ×  100%      = 39%

 

 

 

 

B.     Pembahasan

Genetika populasi merupakan cabang ilmu genetika yang mempelajari komposisi gen pada kelompok suatu individu dan perubahan komposisi gen yang diakibatkan oleh waktu. Genetika populasi memiliki peran sebagai dasar untuk memetakan interaksi genetika antara individu beserta kemungkinannya untuk melanjutkan generasinya secara berkelanjutan. Genetika populasi juga mempelajari pemetaan dan model matematika untuk menghitung perkiraan frekuensi gen pada suatu populasi. Genetika Populasi didasarkan pada Hukum Hardy-Weinberg, yang diperkenalkan pertama kali oleh Wilhelm Weinberg pada tahun 1908 yang berpendapat bahwa pola pewarisan suatu  sifat tidak selalu dapat dipelajari melalui percobaan persilangan buatan tetapi juga dapat diketahui beerdasarkan persilangan alami di alam.

Prinsip keseimbangan genetik Hardy-Weinberg mengatakan, frekuensi alel pada suatu generasi akan tetap sama pada generasi setelahnya pada keadaan populasi yang seimbang. Frekuensi alel pada suatu populasi dipengaruhi oleh  perkawinan tidak acak, migrasi, mutasi, seleksi alam, dan genetic drift. Perkawinan tidak acak, migrasi, mutasi, seleksi alam, dan genetic drift memiliki  kesamaan  pengaruh terhadap gen populasi, yaitu mempengaruhi frekuensi alel atau gen dalam suatu populasi. Menurut Millah (2013), variasi sifat di dalam jenis yang mempengaruhi individu untuk beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan. Keanekaragaman alel dapat ditunjukkan melalui jumlah dan frekuensi alel, genotipe serta nilai heterosigositas. Jumlah alel yang dapat dideteksi berdasarkan analisis mikrosatelit bergantung jumlah individu yang dianalisi.

Keanekaragaman genetik juga dipengaruhi oleh perkawinan antara jantan dan betina. perkawinan sedarah akan mempengaruhi frekuensi alel dan menambah variasi genetik dalam suatu populasi. Jumlah jantan dan betina di alam yang seimbang sebagai faktor adanya variasi genetik (Carlen, dkk, 2016). Perkawinan tidak acak adalah perkawinan antar individu yang masih  berkerabat dekat, sehingga sifat parental akan muncul kembali pada anak. Migrasi adalah perpindahan suatu  populasi ke populasi lain, sehingga terjadi perubahan frekuensi alel. Mutasi adalah perubahan struktur genetik suatu individu sebagai komponen populasi. Seleksi alam adalah perubahan gen populasi yang disebabkan oleh  perubahan lingkungan, sehingga hanya beberapa gen yang sesuai dengan lingkungan yang masih bertahan. Genetic drift adalah perubahan kumpulan gen pada suatu  populasi yang disebabkan oleh penyebab lain selain seleksi alam, mutasi gen, dan migrasi.

Metode yang dilakukan untuk menetukan frekuensi alel dominan dan resesif pada data yang diamati dipercobaan genetika populasi adalah metode observasi yaitu dengan melihat dan mendata bentuk telinga menggantung dan yang tidak, lidah yang dapat menggulung dan tidak, penderita penyakit buta warna dan tidak dan perbedaan golongan darah keseluruhan individu yang menempati kelas. Setelah pendataan, data dimasukkan ke dalam tabel dan dihitung menggunakan formula hukum Hardy-Weinberg.

Berdasarkan hasil pengamatan pada telinga menggantung dan tidak menggantung didapatkan hasil dalam kelas yang berjumlah 38 orang, di dapatkan hasil yaitu mahasiwa yang memiliki telinga menggantung sebanyak 26 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.82 dan orang dengan telingan melekat sebanyak 12 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.18. Hasil  pengamatan pada lidah menggulung dan tidak menggulung di dapatkan hasil, 21 orang mengalami fenomena telingan menggulung dengan frekuensi sebesar 0.74 dan sebanyak 17 orang dengan lidah tidak menggulung dengan frekuensi 0.26. Hasil pengamatan pada penderita buta warna di kelas yang diamati tidak ditemukan adanya penderita buta warna. 

Berdasarkan hasil pengamatan pada golongan darah mahasiswa dalam satu kelas yang berjumlah 38 orang, di dapatkan hasil yaitu mahasiswa yang bergolongan darah O sebanyak 7 orang dengan frekuensi alel sebesar 0,62, mahasiswa yang bergolongan darah A sebanyak 5 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.15, mahasiswa yang bergolongan darah B sebanyak 3 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.18 dan orang bergolongan darah AB sebanyak 3 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.054.

Dasar-dasar frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi yang ditemukan oleh Hardy-Weinberg menegaskan bahwa frekuensi alel dan genotip suatu populasi (gene pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi tertentu, jika terjadi penyimpangan pada frekuensi alel atau genetik dari kesetimbangan yang diharapkan maka sedang terjadi evolusi dalam populasi tersebut. Penyimpangan tersebut dapat berupa tidak terjadinya perkawinan acak, mutasi, seleksi, ukuran populasi yang terbatas, hanyutan genetik (gen drift), aliran gen (gen flow)(Gurning, dkk, 2018). Berdasarkan Tabel pada pengamatan golongan darah, lidah menggulung, buta warna dan telinga menggantung yang di amati tidak mengalami penyimpangan kesetimbangan hardy Weinberg dengan kata lain data yang diamati berada dalam kesetimbangan Weinberg.

Pengamatan pada lidah menggulung dan lidah yang tidak dapat menggulung di dapatkan bahwa fenotipe dari lidah menggulung adalah 21 dengan persentase 55% dan lidah tidak dapat menggulung 17 dengan persentase 45%  dari 38 orang. Persentase alel pada lidah megulung adalah 0,55% dominan, lidah tidak mengulung sebesar 0,067 resesif dan 0,384% untuk lidah menggulung heterozigot, persentase dari genotype lyang berturut-turut adalah 55%, 6,7% dan 38,4%. Persentase lidah menggulung lebih tinggi daripada lidah yang tidak menggulung disebabkan karena sifat dominan dari lidah menggulung yang menutupi lidah yang tidak menggulung yang bersifat resesif. Hal ini sesuai dengan

Pengamatan pada telinga menggantung dan telinga yang melekat di dapatkan bahwa fenotipe dari telinga menggantung adalah 26 dengan persentase 68% dan telinga melekat 12 dengan persentase 32%  dari 38 orang. Persentase alel pada telinga menggulung adalah 0,68% dominan, telinga yang menggantung sebesar 0,03 resesif dan 0,29% untuk lidah menggulung heterozigot, persentase dari genotipe lyang berturut-turut adalah 68%, 3% dan 29%. Persentase telinga menggantung lebih tinggi daripada telinga melekat karena sifat dominan dari telinga menggulung yang menutupi telinga yang melekat yang bersifat resesif. Hal ini sesuai dengan Mirayanti (2017), Perbedaan persentase ini dapat terjadi akibat pengaruh etnis, ras dan tergantung pada founding father (pembentuk awal masing-masing etnis). Kemungkinan terjadinya cuping melekat asimetris dengan genotif resesif ganda (ee), akibat variasi ekspresi gen dan tidak ada hubungannya dengan gen dalam keadaan heterozigot ataupun homozigot.

Pengamatan pada penderita buta warna tidak dilakukan karena tidak ada penderita buta warna pada data yang diamati. Pengamatan pada golongan darah didapatkan bahwa orang dengan golongan darah A berjumlah 5 orang dengan persentase sebesar 28%, golongan darah B sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 17%, golongan darah AB sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 17% dan golongan darah O berjumlah 7 orang dengan persentase sebesar 39%. Persentase alel pada golongan darah A sebesar 0,0225, Persentase alel pada golongan darah B sebesar 0,324, Persentase alel pada golongan darah AB sebesar 0,054 dan Persentase alel pada golongan darah O sebesar 0,39. Persentase genotype pada golongan darah A sebesar 2,25%, genotipe pada golongan darah B sebesar 2,24%, genotipe pada golongan darah AB sebesar 3,24%, genotipe pada golongan darah O sebesar 39%. Golongan darah yang paling umum ditemui di Indonesia merupakan golongan darah O karena sifatnya yang tidak membawa aglutinogen. Hal ini sesuai dengan jurnal Sulatri (2018), Angka kejadian infertil pada pasangan golongan darah O dengan O menduduki angka paling tinggi dibandingkan dengan golongan darah yang lainnya, hal ini disebabkan orang Indonesia 85% adalah golongan darahnya O sehingga menjadi probabilitas golongan darah O menjadi kelompok yg infertil. Golongan darah O eritrositnya tidak mempunyai aglutinogen sehingga tidak dapat bereaksi dengan salah satu serum anti-A atau anti-B. Golongan darah A mempunyai aglutinogen-A sehingga beraglutinasi dengan aglutinin anti-A.

 


V.    PENUTUP

A.    Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut dalam suatu populasi besarnya frekuensi gen dapat dihitung dengan menggunakan persamaan dari hukum Hardy-Weinberg. p2 + 2pq + q2. . dimana p menyatakan alel dominan heterozigot dan q menyatakan alel resesif homozigot. Morfologi tidak akan berubah signifikan jika tidak terjadi penyimpangan dalam hukum Hardy-Weinberg.

 

B.     Saran

Adapun saran yang dapat saya berikan pada praktikum ini adalah sebagai berikut

1.      Saran untuk praktikan yang masuk kedalam laboratorium, yaitu agar tetap menjaga suasana dalam laboratorium agar tetap tenang dan melakukan pengamatan dengan teliti agar data pengamatan yang diperoleh lebih jelas dan akurat.

2.      Saran untuk asisten pembimbing yaitu agar kiranya dapat memperhatikan praktikan saat melakukan praktikum dan memberikan instruksi mengenai bahan atau alat yang akan digunakan dengan jelas agar tidak terjadi salah presepsi oleh praktikan.

3.      Saran untuk laboratorium yaitu agar kiranya dapat menyediakan kursi dan meja yang lebih baik agar asisten dapat duduk saat menjelaskan.

     

 

Komentar