I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Genetika adalah cabang biologi yang mempelajari
pewarisan sifat pada makhluk hidup. Secara singkat dapat juga dikatakan bahwa
genetika adalah ilmu tentang gen dan segala aspeknya. Genetika juga mempelajari
tentang perubahan genetik dengan ranah populasi (antar individu) yang disebut
genetika populasi. Genetika Populasi adalah cabang genetika yang membahas
transmisi bahan genetik pada ranah populasi. Genetika populasi dapat
dikelompokkan sebagai cabang genetika yang berfokus pada pewarisan genetik.
genetika populasi berusaha menjelaskan implikasi yang terjadi terhadap bahan
genetik akibat saling kawin yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi yang
menempati suatu wilayah.
Genetika
Populasi didasarkan pada Hukum Hardy-Weinberg, yang diperkenalkan pertama kali
oleh Wilhelm Weinberg (1908) dan Godfrey Hardy (1908) diwaktu yang hamper
bersamaan. Asas Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel dan frekuensi
genotipe dalam suatu populasi akan tetap konstan, yakni berada dalam
kesetimbangan dari satu generasi ke generasi lainnya kecuali apabila terdapat
pengaruh-pengaruh tertentu yang mengganggu kesetimbangan tersebut.
Pengaruh-pengaruh tersebut meliputi perkawinan tak acak, mutasi, seleksi,
ukuran populasi terbatas, hanyutan genetik, dan aliran gen.
Kesetimbangan Hardy-Weinberg sangatlah tidak
mungkin terjadi di alam karena pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu
kesetimbangan asas Hardy-Weinberg selalu ada. Kesetimbangan genetik adalah
suatu keadaan ideal yang dapat dijadikan sebagai garis dasar untuk mengukur
perubahan genetik. Frekuensi alel yang statis dalam suatu populasi dari
generasi ke generasi mengasumsikan adanya perkawinan acak, tidak adanya mutasi,
tidak adanya migrasi ataupun emigrasi, populasi yang besarnya tak terhingga,
dan ketiadaan tekanan seleksi terhadap sifat-sifat tertentu. Berdasarkan latar
belakang maka perlu dilakukan praktikum untuk mengetahui cara menghitung
frekuensi gen, sifat morfologi dan sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy –
Weinberg.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan
masalah yang ingin dicapai adalah bagaimana mengetahui cara menghitung
frekuensi gen, sifat morfologi dan sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy –
Weinberg?
C.
Tujuan Praktikum
Tujuan
praktikum yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui cara menghitung frekuensi
gen, sifat morfologi dan sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy – Weinberg.
D.
Manfaat Praktikum
Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini
adalah untuk mengetahui cara menghitung frekuensi gen, sifat morfologi dan
sifat tingkah laku berdasarkan hukum Hardy – Weinberg.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Genetika Populasi
Populasi
adalah sekumpulan individu sejenis (spesies) yang memiliki kemampuan
bereproduksi di antara sesamanya, yang mendiami suatu ekosistem pada selang
waktu tertentu. Konsep ini digunakan dalam salah satu konsep genetika terapan,
yaitu genetika populasi. Genetika populasi adalah cabang ilmu genetika yang
membahas transmisi bahan genetik pada ranah populasi. Ilmu ini membicarakan implikasi
hukum pewarisan sifat apabila di terapkan pada sekumpulan individu sejenis di
suatu tempat. Genetika populasi menjelaskan implikasi yang terjadi pada bahan genetik
akibat perkawinan silang yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi.
Genetika populasi di dasarkan pada hukum Hardy-Weinberg, yang memperkenalkan
secara terpisah pada tahun 1908 oleh Wilhelm Weinberg dan Godfrey Hardy (Irmawati,2016).
B.
Keanekaragaman Genetik
keragaman
genetik dalam suatu populasi bararti terdapat variasi nilai genotip antar
individu dalam populasi tersebut. Hal tersebut merupakan syarat agar seleksi di
dalam populasi tersebut berhasil seperti yang direncanakan. Semakin tinggi
keragaman genetik pada populasi maka semakin besar pula kemungkinan kombinasi
sifat-sifat yang diperoleh. Keragaman yang terdapat dalam populasi biasanya
disebabkan oleh pengaruh lingkungan yaitu karena kondisi tempat tinggal organisme
tersebut tidak seragam dan tidak konstan, sehingga seringkali mangaburkan sifat
genetik yang dimiliki oleh suatu organisme (Apriliyanti, dkk, 2016). Keragaman
genetik dapat memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan genotip yang lebih baik
melalui seleksi. Keragaman karakter dan keanekaragaman genotip berguna untuk
mengetahui pola pengelompokan genotip pada populasi tertentu berdasarkan
karakter yang diamati dan dapat
dijadikan sebagai dasar kegiatan seleksi (Effendi, dkk, 2018).
C.
Hukum Hardy-Weinberg
Hukum Hardy-Weinberg
menyatakan bahwa di bawah suatu kondisi yang stabil, baik frekuensi gen maupun
perbandingan genotip akan tetap (konstan) dari generasi ke generasi pada
populasi yang berbiak secara seksual. Syarat berlakunya asas Hardy-Weinberg, Setiap
gen mempunyai viabilitas dan fertilitas yang sama, perkawinan terjadi secara
acak, tidak terjadi mutasi gen atau frekuensi terjadinya mutasi, sama besar,
tidak terjadi migrasi, jumlah individu dari suatu populasi selalu besar Jika
lima syarat yang diajukan dalam kesetimbangan Hardy Weinberg tadi banyak
dilanggar, jelas akan terjadi evolusi pada populasi tersebut, yang akan
menyebabkan perubahan perbandingan alel dalam populasi tersebut (Panggabean,
2016).
Hukum Hardy-Weinberg
menyebutkan apabila tidak ada faktor-faktor yang dapat mengubah frekuensi gen
pada suatu populasi, dan populasi tersebut mengadakan perkawinan secara acak
dari generasi kegenerasi berikutnya maka frekuensi gen tersebut tidak akan
mengalami perubahan. Faktor-faktor yang dapat mengubah frekuensi gen dalam
suatu populasi adalah adanya mutasi, seleksi, migrasi, dan random driff (Mulliadi dan Arifin, 2013).
D.
Syarat Evolusi dalam Hukum Hardy Weinberg
Populasi
dikatakan memenuhi Hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, apabila terjadinya kawin
acak diantara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki
peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotip yang
sama maupun berbeda dengannya. Melalui sistem kawin acak ini, frekuensi alel
akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Selain kawin acak, ada
persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi berlakunya hukum keseimbangan
Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi, mutasi, dan seleksi. Penting untuk
dimengerti bahwa di luar laboratorium, satu atau lebih pengaruh ini akan selalu
ada. Kesetimbangan Hardy-Weinberg sangatlah tidak mungkin terjadi di alam.
Kesetimbangan genetik adalah suatu keadaan ideal yang dapat dijadikan sebagai
garis dasar untuk mengukur perubahan genetic (Cintamulya, 2013).
III.
METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 24 November 2020 pukul 15.30 sampai selesai
dan bertempat di Laboratorium Genetika, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B.
Alat Praktikum
Alat yang digunakan pada
praktikum ini tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1.Alat dan kegunaannya
|
No |
Nama
Alat |
Jumlah
|
Kegunaan |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
1. |
Jarum
Frankle |
21 |
Untuk
mengambil sampel darah |
|
2. |
Laptop
atau HP |
1 |
Sebagai
media pembelajaran online |
|
3. |
Kamera |
1 |
Sebagai
alat dokumentasi |
|
4. |
Alat
Tulis |
1 |
Sebagai
alat menulis hasil pengamatan |
C.
Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan dalam
praktikum ini tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2.Bahan dan kegunaannya
|
No. |
Nama Bahan |
|
Satuan |
Kegunaan |
|
|
1 |
2 |
|
3 |
4 |
|
|
1. |
Darah |
|
mL |
Sebagai objek pengamatan |
|
|
2. |
Alkohol 70% |
|
mL |
Sebagai desinfektan |
|
|
3. |
Kapas |
|
gr |
Untuk membersihkan tangan |
|
|
4. |
Tusuk gigi |
|
- |
Untuk meneteskan darah ke slide pengamatan |
|
|
5. |
Kartu golongan darah |
|
- |
Untuk mengidentifikasi golongan darah |
|
|
6. |
Serum Anti A, Anti B dan Anti AB |
|
mL |
Sebagai indikator penguji golongan darah |
|
|
7. |
Blood lancet |
|
- |
Untuk mengambil sampel darah |
|
D. Prosedur Kerja
Prosedur kerja praktikum ini adalah
sebagai berikut:
1.
Menyiapkan alat dan bahan.
2.
Membersihkan salah satu dari jari-jari tangan
kiri dengan kapas yang telah dibasahi alkohol 70%, selanjutnya dibiarkan hingga
mengering.
3.
Menguji tiap golongan darah mahasiswa dengan
mengambil darah dari jari menggunakan bood lancet dengan meneteskannya
pada kartu golongan darah dan meneteskan serum anti A, B dan AB.
4.
Mengamati adanya penggumpalan atau tidak, yang
terjadi pada slide golongan darah.
5.
Mengumpulkan data golongan darah dan
menuliskannya pada tabel pengamatan.
6.
Menghitung persentase golongan darah dalam satu
kelas.
7.
Mengumpulkan data yang berupa golongan darah,
pola telinga, (yang memiliki earlobe attachment dominan (bagian bawah
telinga menempel pada leher)), pola lidah yaitu yang memiliki tongue rolling
dominan (lidah dapat menggulung) maupun resesif (lidah tidak dapat menggulung)
didata pada tabel pengamatan.
8.
Setelah didapat data yang lengkap, data
tersebut diolah berdasarkan hukum Hardy-Weinberg.
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan fenotip lidah
menggulung dan tidak menggulung dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Fenotip Lidah
Menggulung dan Tidak Menggulung
|
No |
Nama |
Jenis Kelamin |
Fenotipe
Lidah |
|
|
Dapat Menggulung |
Tidak
dapat menggulung |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
1 |
Mathilda
Theressa Gultom |
P |
ü |
- |
|
2 |
Wa
Ode Fania |
P |
ü |
- |
|
3 |
Raysa
Maharani |
P |
ü |
- |
|
4 |
Stephania
Gorreti Sa'panga |
P |
ü |
- |
|
5 |
Wahyuni
Mudri |
P |
- |
ü |
|
6 |
Adrian
Yani |
L |
- |
ü |
|
7 |
Nurul
Maghfirah Miftahul Jannah |
P |
- |
ü |
|
8 |
Rismayanti |
P |
- |
ü |
|
9 |
Qunfayakum
Adam |
L |
- |
ü |
|
10 |
Muhammad
Nur Ilham Putra |
L |
ü |
- |
|
11 |
Nur
Amalia |
P |
ü |
- |
|
12 |
Nur
Mufliha Alsira Alimin |
P |
ü |
- |
|
13 |
Nur Auliya
Habibah |
P |
- |
ü |
|
14 |
Yusriani
Pupita |
P |
ü |
- |
|
15 |
Arini
Islamiyah |
P |
- |
ü |
|
16 |
Hasma
|
P |
ü |
- |
|
17 |
Muh Nabil Izdihar |
L |
ü |
- |
|
18 |
Trifena
Ervin Purwasih |
P |
ü |
- |
|
19 |
Anawai
Inuanggi |
P |
ü |
- |
|
20 |
Isra
Rahmawati |
P |
- |
ü |
|
21 |
Alfia
Kurniati |
P |
ü |
- |
|
22 |
Petimayanti |
P |
- |
ü |
|
23 |
Asnaeni |
P |
ü |
- |
|
24 |
Wa
Esi |
P |
- |
ü |
|
25 |
Jamilah |
P |
- |
ü |
|
26 |
Fatma
Indah Hayani |
P |
- |
ü |
|
27 |
Wa
Ode Nabila Yastarini |
P |
ü |
- |
Lanjutan, Tabel 3
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
28 |
Windi Nuhgra
Pratiwi |
P |
ü |
- |
|
29 |
Kartina |
P |
- |
ü |
|
30 |
Muh. Farij |
L |
- |
ü |
|
31 |
Muhammad Syadikin |
L |
ü |
- |
|
32 |
Yutriana Putri |
P |
ü |
- |
|
33 |
Ririn Reski
Sukmawati |
P |
ü |
- |
|
34 |
Ade Putri |
P |
- |
ü |
|
35 |
Wa Ode Suratmin |
P |
ü |
- |
|
36 |
Muh. Mufadhol Din
Fahril |
L |
- |
ü |
|
37 |
Nur Islamiah |
P |
- |
ü |
|
38 |
Suhardin |
L |
ü |
- |
|
Jumlah |
|
21 orang |
17 orang |
|
|
Presentasi |
|
55 % |
45 % |
|
Hasil pengamatan fenotip telinga menggantung
dan telinga melekat dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Fenotipe
Telinga Menggantung dan Telinga Melekat
|
No |
Nama |
Jenis Kelamin |
Fenotipe
Telinga |
|
|
Telinga Menggantung |
Telinga
Melekat |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
1 |
Mathilda
Theressa Gultom |
P |
ü |
- |
|
2 |
Wa
Ode Fania |
P |
ü |
- |
|
3 |
Raysa
Maharani |
P |
ü |
- |
|
4 |
Stephania
Gorreti Sa'panga |
P |
|
ü |
|
5 |
Wahyuni
Mudri |
P |
ü |
- |
|
6 |
Adrian
Yani |
L |
ü |
- |
|
7 |
Nurul
Maghfirah Miftahul Jannah |
P |
ü |
- |
|
8 |
Rismayanti |
P |
ü |
- |
|
9 |
Qunfayakum
Adam |
L |
ü |
- |
|
10 |
Muhammad
Nur Ilham Putra |
L |
- |
ü |
|
11 |
Nur
Amalia |
P |
- |
ü |
|
12 |
Nur
Mufliha Alsira Alimin |
P |
ü |
- |
|
13 |
Nur
Auliya Habibah |
P |
ü |
- |
|
14 |
Yusriani
Pupita |
P |
|
ü |
|
15 |
Arini
Islamiyah |
P |
ü |
- |
|
16 |
Hasma
|
P |
ü |
- |
|
17 |
Muh
Nabil Izdihar |
L |
- |
ü |
|
18 |
Trifena
Ervin Purwasih |
P |
ü |
- |
Lanjutan, Tabel 4
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
19 |
Anawai Inuanggi |
P |
ü |
- |
|
20 |
Isra Rahmawati |
P |
ü |
- |
|
21 |
Alfia Kurniati |
P |
- |
ü |
|
22 |
Petimayanti |
p |
ü |
- |
|
23 |
Asnaeni |
p |
ü |
- |
|
24 |
Wa Esi |
p |
ü |
- |
|
25 |
Jamilah |
P |
- |
ü |
|
26 |
Fatma Indah Hayani |
P |
ü |
- |
|
27 |
Wa Ode Nabila
Yastarini |
P |
ü |
- |
|
28 |
Windi Nuhgra Dwi
Pratiwi |
P |
- |
ü |
|
29 |
Kartina |
P |
ü |
- |
|
30 |
Muh Farij |
L |
ü |
- |
|
31 |
Muhammad Syadikin |
L |
ü |
- |
|
32 |
Yutriana Putri |
P |
ü |
- |
|
33 |
Ririn Reski
Sukmawati |
P |
ü |
- |
|
34 |
Ade Putri |
P |
- |
ü |
|
35 |
Wa Ode Suratmin |
P |
- |
ü |
|
36 |
Muh Mufadhol Din
Fahril |
L |
ü |
- |
|
37 |
Nur Islamiah |
P |
- |
ü |
|
38 |
Suhardin |
L |
ü |
- |
|
Jumlah |
|
26 orang |
12
orang |
|
|
Presentasi |
|
68 % |
32% |
|
Hasil pengamatan fenotip buta warna
dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Fenotip Buta
Warna
|
No |
Nama |
Jenis Kelamin |
Fenotipe
Buta Warna |
|
|
Buta Warna |
Tidak
Buta Warna |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
1 |
Mathilda
Theressa Gultom |
P |
- |
ü |
|
2 |
Wa
Ode Fania |
P |
- |
ü |
|
3 |
Raysa
Maharani |
P |
- |
ü |
|
4 |
Stephania
Gorreti Sa'panga |
P |
- |
ü |
|
5 |
Wahyuni
Mudri |
P |
- |
ü |
|
6 |
Adrian
Yani |
L |
- |
ü |
|
7 |
Nurul
Maghfirah Miftahul Jannah |
P |
- |
ü |
|
8 |
Rismayanti |
P |
- |
ü |
|
9 |
Qunfayakum
Adam |
L |
- |
ü |
|
10 |
Muhammad
Nur Ilham Putra |
L |
- |
ü |
Lanjutan, Tabel 5
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
11 |
Nur Amalia |
P |
- |
ü |
|
12 |
Nur
Mufliha Alsira Alimin |
P |
- |
ü |
|
13 |
Nur
Auliya Habibah |
P |
- |
ü |
|
14 |
Yusriani
Pupita |
P |
- |
ü |
|
15 |
Arini
Islamiyah |
P |
- |
ü |
|
16 |
Hasma
|
P |
- |
ü |
|
17 |
Muh
Nabil Izdihar |
L |
- |
ü |
|
18 |
Trifena
Ervin Purwasih |
P |
- |
ü |
|
19 |
Anawai
Inuanggi |
P |
- |
ü |
|
20 |
Isra
Rahmawati |
P |
- |
ü |
|
21 |
Alfia
Kurniati |
P |
- |
ü |
|
22 |
Petimayanti |
P |
- |
ü |
|
23 |
Asnaeni |
P |
- |
ü |
|
24 |
Wa
Esi |
P |
- |
ü |
|
25 |
Jamilah |
P |
- |
ü |
|
26 |
Fatma
Indah Hayani |
P |
- |
ü |
|
27 |
Wa
Ode Nabila Yastarini |
P |
- |
ü |
|
28 |
Windi
Nuhgra Pratiwi |
P |
- |
ü |
|
29 |
Kartina |
P |
- |
ü |
|
30 |
Muh.
Farij |
L |
- |
ü |
|
32 |
Muhammad
Syadikin |
L |
- |
ü |
|
33 |
Ririn Reski
Sukmawati |
P |
- |
ü |
|
34 |
Ade Putri |
P |
- |
ü |
|
35 |
Wa Ode Suratmin |
P |
- |
ü |
|
36 |
Muh. Mufadhol Din
Fahril |
L |
- |
ü |
|
37 |
Nur Islamiah |
P |
- |
ü |
|
38 |
Suhardin |
L |
- |
ü |
|
Jumlah |
|
- |
38
orang |
|
|
Presentasi |
|
0 % |
100% |
|
Hasil pengamatan golongan darah
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil Pengamatan Golongan Darah
|
No |
Nama |
Jenis Kelamin |
Golongan Darah |
|||
|
A |
B |
AB |
O |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
|
1 |
Mathilda Theressa
Gultom |
P |
ü |
|||
|
2 |
Raysa Maharani |
P |
ü |
|||
|
3 |
Stephania Gorreti
Sa'panga |
P |
ü |
|||
|
4 |
Wahyuni Mudri |
P |
ü |
|||
|
5 |
Adrian Yani |
L |
ü |
|||
|
6 |
Rismayanti |
P |
ü |
|||
Lanjutan, Tabel 6
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
|
7 |
Qunfayakum Adam |
L |
ü |
|||
|
8 |
Nur Amalia |
P |
ü |
|||
|
9 |
Nur Mufliha Alsira
Alimin |
P |
ü |
|||
|
10 |
Arini Islamiyah |
P |
ü |
|||
|
11 |
Isra Rahmawati |
P |
ü |
|||
|
12 |
Wa Ode Nabila
Yastarini |
P |
ü |
|||
|
13 |
Windi Nuhgra Pratiwi |
P |
ü |
|||
|
14 |
Muh. Farij |
L |
ü |
|||
|
15 |
Muhammad Syadikin |
L |
ü |
|||
|
16 |
Yutriana Putri |
P |
ü |
|||
|
17 |
Wa Ode Suratmin |
P |
ü |
|||
|
18 |
Nur Islamiah |
P |
ü |
|||
|
Jumlah Total |
5 |
3 |
3 |
7 |
||
|
Presentase |
28% |
17% |
17% |
39% |
||
1. Analisis
data untuk Telinga
menggantung dan telinga melekat
Dik:
Telinga yang menggantung (P) = 26 orang
Telinga yang melekat (q) = 12
orang
Jumlah
data(n) = 38
Dit:
a.Frekuensi Alel ?
b. Frekuensi Genotip ?
jawab.
A. Frekuensi Alel
P2
=
P
=
P
+ q = 1
q
= 1- 0.82=
0.18
q2
= 0,03
p2
+ 2Pq + q2 = 1
0.68 +
2(0.82)(0.18) + 0.03 = 1
0.68 + 0.29 + 0.03 = 1
1
= 1
B. Frekuensi Genotip
Telinga
yang menggantung
(P2) = 0.68 x 100%
= 68%
Telinga
yang melekat (q2)
= 0,03 x 100% = 3%
Telinga menggantung
genotip heterozigot (2Pq)
= 0.29 x 100% = 29%
2. Analisis
data untuk lidah menggulung dan lidah tidak menggulung
Dik:
Lidah yang menggulung (P) = 21 orang
Lidah tidak dapat menggulung
(q) = 17 orang
Jumlah data = 38
Dit:
a. Frekuensi Alel ?
b. Frekuensi Genotip ?
jawab.
A. Frekuensi Alel
P2
=
P
=
P
+ q = 1
q
= 1- 0.74= 0.26
q2
= 0,067
p2
+ 2Pq + q2 = 1
0.55 + 2(0.76)(0.26) + 0.067 = 1
0.55 + 0.384 + 0. 067 = 1
1
= 1
B. Frekuensi Genotip
Lidah yang menggulung (P2) = 0,55 x
100% = 55%
Lidah yang tidak menggulung
(q2) = 0,067 x 100% = 6. 7%
Lidah menggulung genotip heterozigot (2Pq)
= 0.384 x 100% = 38.4%
3.
Analisis Data Golongan Darah
Dik:
Golongan Darah
A (p) =
5
Golongan Darah
B (q) =
3
Golongan Darah
AB (pq) =
3
Golongan Darah
O (r) =
7
Jumlah
(∑) =
18
Dit: a.Frekuensi Alel?
b. Frekuensi Genotip?
a.
Frekuensi Alel
·
r2 =
r =
·
(p + r)2 =
P
+ r =
P
+ r = 0.82
P
+ (0.61) = 0.82
P
= 0.82 – 0.67
P
= 0.15
P2
= 0.0225
·
P + q + r = 1
q + p + r = 1
q + (0.82)= 1
q = 1 – 0.82
q = 0.18
q2 = 0. 0324
·
2pq = 2 (0.15)(0.18)
2pq = 2 (0.027)
2pq = 0.054
·
2qr = 2 (0.18)(0.67)
=
2(0.12)
=
0.24
·
2pr = 2 ( 0.15) (0.67)
= 2(0.1)
= 0.2
Berdasarkan hukum
Hardy-Weinberg maka:
p2 + q2 + 2pq + 2pr + 2qr + r2
= 1
(0.0225) + (0. 0324) + (0.054) + (0.2) + (0.24) + (0.39) = 1
b. Frekuensi Genotip
· Golongan darah A homozigot (p2) = p2 × 100%
= (0.0225) x 100% = 2,25%
· Golongan darah A heterozigot (2pr) = 2pr ×
100%
=
(0.2) × 100% = 20%
· Golongan darah B homozigot (q2) = q2 ×
100%
= (0. 0324) × 100% = 3,24%
· Golongan darah B heterozigot (2qr) = 2qr × 100%
=
(0,24) × 100% = 24%
· Golongan darah AB (2pq) = 2pq × 100%
=
(0,0324) × 100% = 3.24%
· Golongan darah O (r2) = r2 × 100%
=
(0,039) × 100% = 39%
B.
Pembahasan
Genetika
populasi merupakan cabang ilmu genetika yang mempelajari komposisi gen pada
kelompok suatu individu dan perubahan komposisi gen yang diakibatkan oleh
waktu. Genetika populasi memiliki peran sebagai dasar untuk memetakan interaksi
genetika antara individu beserta kemungkinannya untuk melanjutkan generasinya
secara berkelanjutan. Genetika populasi juga mempelajari pemetaan dan model
matematika untuk menghitung perkiraan frekuensi gen pada suatu populasi.
Genetika Populasi didasarkan pada Hukum
Hardy-Weinberg, yang diperkenalkan pertama kali oleh Wilhelm Weinberg pada
tahun 1908 yang berpendapat bahwa pola pewarisan suatu sifat tidak selalu dapat dipelajari melalui
percobaan persilangan buatan tetapi juga dapat diketahui beerdasarkan
persilangan alami di alam.
Prinsip
keseimbangan genetik Hardy-Weinberg mengatakan, frekuensi alel pada suatu
generasi akan tetap sama pada generasi setelahnya pada keadaan populasi yang
seimbang. Frekuensi alel pada suatu
populasi dipengaruhi oleh perkawinan
tidak acak, migrasi, mutasi, seleksi alam, dan genetic drift. Perkawinan tidak acak, migrasi, mutasi, seleksi
alam, dan genetic drift memiliki kesamaan
pengaruh terhadap gen populasi, yaitu mempengaruhi frekuensi alel atau
gen dalam suatu populasi. Menurut Millah (2013), variasi sifat di dalam jenis
yang mempengaruhi individu untuk beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan.
Keanekaragaman alel dapat ditunjukkan melalui jumlah dan frekuensi alel, genotipe
serta nilai heterosigositas. Jumlah alel yang dapat dideteksi berdasarkan
analisis mikrosatelit bergantung jumlah individu yang dianalisi.
Keanekaragaman
genetik juga dipengaruhi oleh perkawinan antara jantan dan betina. perkawinan
sedarah akan mempengaruhi frekuensi alel dan menambah variasi genetik dalam
suatu populasi. Jumlah jantan dan betina di alam yang seimbang sebagai faktor
adanya variasi genetik (Carlen, dkk, 2016). Perkawinan tidak acak adalah
perkawinan antar individu yang masih
berkerabat dekat, sehingga sifat parental akan muncul kembali pada anak.
Migrasi adalah perpindahan suatu
populasi ke populasi lain, sehingga terjadi perubahan frekuensi alel. Mutasi
adalah perubahan struktur genetik suatu individu sebagai komponen populasi.
Seleksi alam adalah perubahan gen populasi yang disebabkan oleh perubahan lingkungan, sehingga hanya beberapa
gen yang sesuai dengan lingkungan yang masih bertahan. Genetic drift adalah perubahan kumpulan gen pada suatu populasi yang disebabkan oleh penyebab lain
selain seleksi alam, mutasi gen, dan migrasi.
Metode
yang dilakukan untuk menetukan frekuensi alel dominan dan resesif pada data
yang diamati dipercobaan genetika populasi adalah metode observasi yaitu dengan
melihat dan mendata bentuk telinga menggantung dan yang tidak, lidah yang dapat
menggulung dan tidak, penderita penyakit buta warna dan tidak dan perbedaan
golongan darah keseluruhan individu yang menempati kelas. Setelah pendataan,
data dimasukkan ke dalam tabel dan dihitung menggunakan formula hukum
Hardy-Weinberg.
Berdasarkan
hasil pengamatan pada telinga menggantung dan tidak menggantung didapatkan
hasil dalam kelas yang berjumlah 38 orang, di dapatkan hasil yaitu mahasiwa
yang memiliki telinga menggantung sebanyak 26 orang dengan frekuensi alel
sebesar 0.82 dan orang dengan telingan melekat sebanyak 12 orang dengan
frekuensi alel sebesar 0.18. Hasil
pengamatan pada lidah menggulung dan tidak menggulung di dapatkan hasil,
21 orang mengalami fenomena telingan menggulung dengan frekuensi sebesar 0.74
dan sebanyak 17 orang dengan lidah tidak menggulung dengan frekuensi 0.26.
Hasil pengamatan pada penderita buta warna di kelas yang diamati tidak
ditemukan adanya penderita buta warna.
Berdasarkan hasil pengamatan pada golongan darah
mahasiswa dalam satu kelas yang berjumlah 38 orang, di dapatkan hasil yaitu
mahasiswa yang bergolongan darah O sebanyak 7 orang dengan frekuensi alel
sebesar 0,62, mahasiswa yang bergolongan darah A sebanyak 5 orang dengan
frekuensi alel sebesar 0.15, mahasiswa yang bergolongan darah B sebanyak 3
orang dengan frekuensi alel sebesar 0.18 dan orang bergolongan darah AB
sebanyak 3 orang dengan frekuensi alel sebesar 0.054.
Dasar-dasar
frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi yang ditemukan oleh Hardy-Weinberg
menegaskan bahwa frekuensi alel dan genotip suatu populasi (gene pool) selalu
konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi tertentu, jika terjadi
penyimpangan pada frekuensi alel atau genetik dari kesetimbangan yang
diharapkan maka sedang terjadi evolusi dalam populasi tersebut. Penyimpangan
tersebut dapat berupa tidak terjadinya perkawinan acak, mutasi, seleksi, ukuran
populasi yang terbatas, hanyutan genetik (gen
drift), aliran gen (gen flow)(Gurning,
dkk, 2018). Berdasarkan Tabel pada pengamatan golongan darah, lidah menggulung,
buta warna dan telinga menggantung yang di amati tidak mengalami penyimpangan
kesetimbangan hardy Weinberg dengan kata lain data yang diamati berada dalam
kesetimbangan Weinberg.
Pengamatan
pada lidah menggulung dan lidah yang tidak dapat menggulung di dapatkan bahwa
fenotipe dari lidah menggulung adalah 21 dengan persentase 55% dan lidah tidak
dapat menggulung 17 dengan persentase 45% dari 38 orang. Persentase alel pada lidah
megulung adalah 0,55% dominan, lidah tidak mengulung sebesar 0,067 resesif dan
0,384% untuk lidah menggulung heterozigot, persentase dari genotype lyang
berturut-turut adalah 55%, 6,7% dan 38,4%. Persentase lidah menggulung lebih
tinggi daripada lidah yang tidak menggulung disebabkan karena sifat dominan
dari lidah menggulung yang menutupi lidah yang tidak menggulung yang bersifat
resesif. Hal ini sesuai dengan
Pengamatan
pada telinga menggantung dan telinga yang melekat di dapatkan bahwa fenotipe
dari telinga menggantung adalah 26 dengan persentase 68% dan telinga melekat 12
dengan persentase 32% dari 38 orang.
Persentase alel pada telinga menggulung adalah 0,68% dominan, telinga yang
menggantung sebesar 0,03 resesif dan 0,29% untuk lidah menggulung heterozigot,
persentase dari genotipe lyang berturut-turut adalah 68%, 3% dan 29%.
Persentase telinga menggantung lebih tinggi daripada telinga melekat karena
sifat dominan dari telinga menggulung yang menutupi telinga yang melekat yang
bersifat resesif. Hal ini sesuai dengan Mirayanti (2017), Perbedaan persentase
ini dapat terjadi akibat pengaruh etnis, ras dan tergantung pada founding father (pembentuk awal
masing-masing etnis). Kemungkinan terjadinya cuping melekat asimetris dengan
genotif resesif ganda (ee), akibat variasi ekspresi gen dan tidak ada
hubungannya dengan gen dalam keadaan heterozigot ataupun homozigot.
Pengamatan
pada penderita buta warna tidak dilakukan karena tidak ada penderita buta warna
pada data yang diamati. Pengamatan pada golongan darah didapatkan bahwa orang
dengan golongan darah A berjumlah 5 orang dengan persentase sebesar 28%,
golongan darah B sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 17%, golongan darah
AB sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 17% dan golongan darah O
berjumlah 7 orang dengan persentase sebesar 39%. Persentase alel pada golongan
darah A sebesar 0,0225, Persentase alel pada golongan darah B sebesar 0,324,
Persentase alel pada golongan darah AB sebesar 0,054 dan Persentase alel pada
golongan darah O sebesar 0,39. Persentase genotype pada golongan darah A
sebesar 2,25%, genotipe pada golongan darah B sebesar 2,24%, genotipe pada
golongan darah AB sebesar 3,24%, genotipe pada golongan darah O sebesar 39%. Golongan
darah yang paling umum ditemui di Indonesia merupakan golongan darah O karena
sifatnya yang tidak membawa aglutinogen. Hal ini sesuai dengan jurnal Sulatri
(2018), Angka kejadian infertil pada pasangan golongan darah O dengan O
menduduki angka paling tinggi dibandingkan dengan golongan darah yang lainnya,
hal ini disebabkan orang Indonesia 85% adalah golongan darahnya O sehingga
menjadi probabilitas golongan darah O menjadi kelompok yg infertil. Golongan
darah O eritrositnya tidak mempunyai aglutinogen sehingga tidak dapat bereaksi
dengan salah satu serum anti-A atau anti-B. Golongan darah A mempunyai
aglutinogen-A sehingga beraglutinasi dengan aglutinin anti-A.
V.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut dalam suatu populasi
besarnya frekuensi gen dapat dihitung dengan menggunakan persamaan dari hukum
Hardy-Weinberg. p2 + 2pq + q2. . dimana
p menyatakan alel dominan heterozigot dan q menyatakan alel resesif homozigot.
Morfologi tidak akan berubah signifikan jika tidak terjadi penyimpangan dalam
hukum Hardy-Weinberg.
B.
Saran
Adapun
saran yang dapat saya berikan pada praktikum ini adalah sebagai berikut
1. Saran untuk praktikan yang masuk kedalam laboratorium, yaitu agar tetap menjaga
suasana dalam laboratorium agar tetap tenang dan
melakukan pengamatan dengan teliti agar data pengamatan yang diperoleh lebih jelas dan akurat.
2. Saran untuk asisten pembimbing yaitu agar kiranya dapat memperhatikan
praktikan saat melakukan praktikum dan memberikan instruksi mengenai bahan atau
alat yang akan digunakan dengan jelas agar tidak terjadi salah presepsi oleh
praktikan.
3. Saran untuk laboratorium yaitu agar kiranya dapat menyediakan kursi dan
meja yang lebih baik agar asisten dapat duduk saat menjelaskan.
Komentar
Posting Komentar